Wujudkan Generasi Berkualitas Butuh Peran Sistemik


author photo

13 Jul 2026 - 13.10 WIB




Oleh: Syahida Adha, S.Pd. 

Fenomena fatherless atau anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah semakin menjadi perhatian berbagai pihak. Kondisi ini dinilai berdampak pada tumbuh kembang anak, baik secara emosional, mental, maupun karakter. 

Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/ BKKBN Provinsi Kalimantan Timur pun terus memperkuat Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) sebagai upaya menekan fenomena tersebut. Berbagai langkah dilakukan, mulai dari pendampingan keluarga, penguatan kapasitas tim pendamping keluarga, hingga kolaborasi dengan berbagai instansi dan dunia usaha agar para ayah semakin menyadari pentingnya keterlibatan mereka dalam pengasuhan anak.

Langkah tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk kepedulian terhadap kualitas generasi. Namun, pertanyaan mendasar yang perlu diajukan apakah program seperti GATI mampu menyelesaikan persoalan hingga ke akar-akarnya?

Faktanya, problem generasi hari ini jauh lebih kompleks. Maraknya kekerasan pada anak, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, kriminalitas remaja, gangguan kesehatan mental, hingga menurunnya kualitas pendidikan menunjukkan bahwa persoalan generasi tidak berdiri sendiri. Fenomena fatherless hanyalah salah satu gejala dari kerusakan yang lebih besar.

Program GATI sejatinya belum menyentuh akar persoalan yang bersifat sistemik. Belum tuntasnya berbagai problem anak dan generasi merupakan buah dari penerapan sistem kehidupan kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem ini menempatkan standar keberhasilan pada aspek materi sehingga ayah dipaksa mengejar tuntutan ekonomi tanpa batas, sementara waktu bersama keluarga semakin berkurang. 

Di sisi lain, ibu banyak didorong masuk ke dunia kerja demi menopang kebutuhan akibat tingginya biaya hidup. Ironisnya bukan hanya fatherless, bahkan muncul fenomena motherless, yaitu minimnya kehadiran ibu dalam proses pengasuhan.

Berbagai penelitian pun menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Survei yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Badan Pusat Statistik pada tahun 2021 menunjukkan bahwa sekitar satu dari lima anak Indonesia memiliki keterlibatan ayah yang rendah dalam pengasuhan. Sementara berbagai kajian psikologi menegaskan bahwa anak yang kehilangan figur ayah lebih rentan mengalami masalah perilaku, rendahnya kepercayaan diri, hingga kesulitan mengendalikan emosi.

Tentu kondisi demikian sangat berbeda jika Islam dijadikan panduan dalam kehidupan. Dalam Islam, ayah bukan sekadar pencari nafkah. Ia adalah pemimpin (qawwam), pendidik, pelindung, sekaligus teladan utama bagi keluarganya. 

Allah Swt. berfirman:
"Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan..." (QS. An-Nisa': 34).

Peran kepemimpinan tersebut tidak hanya berarti memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga memastikan terpenuhinya kebutuhan ruhiyah, akal, dan kepribadian seluruh anggota keluarga. Karena itu, pembentukan generasi berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan kesadaran dan individu, tetapi membutuhkan sistem kehidupan yang mendukung lahirnya ayah-ayah berkualitas.

Islam sebagai ideologi yang rahmatan lil 'alamin memiliki mekanisme yang menyeluruh dalam membangun ketahanan keluarga. Negara menerapkan aturan yang menjaga fungsi laki-laki sebagai pemimpin keluarga, sekaligus menguatkan peran ibu sebagai sahabat dan mitra utama ayah dalam mendidik generasi. 

Selanjutnya, kebijakan ekonomi menjamin setiap laki-laki memiliki kesempatan bekerja dan memperoleh nafkah yang layak sehingga tidak dipaksa menghabiskan seluruh waktunya demi bertahan hidup. Sistem pendidikan membentuk kepribadian Islam sejak dini, sementara sistem sosial menjaga keluarga dari berbagai nilai yang merusak.

Sebuah keluarga dikatakan memiliki ketahanan ketika ayah sebagai kepala keluarga mampu memenuhi kebutuhan anggota keluarganya, baik kebutuhan fisik, naluri, maupun akal. Terpenuhinya seluruh kebutuhan tersebut akan menghadirkan keluarga yang harmonis, tenang, dan penuh kasih sayang. Dalam kondisi seperti inilah anak-anak tumbuh menjadi generasi yang kuat secara iman, cerdas secara intelektual, dan mulia akhlaknya.

Benar bahwa di tangan para ibu terletak kunci ketahanan keluarga. Namun, di tangan para ayahlah terbuka pintu menuju tercapainya ketahanan tersebut. Lebih dari itu, Islam tidak membebankan pembinaan generasi hanya kepada ayah dan ibu. Masyarakat turut menjalankan fungsi amar makruf nahi mungkar, sementara negara bertanggung jawab penuh menghadirkan kebijakan yang mendukung terwujudnya keluarga yang kokoh.

Sejarah panjang peradaban Islam membuktikan bahwa lahirnya para ulama, ilmuwan, panglima, dan pemimpin besar tidak terlepas dari sistem Islam yang menopang keluarga. Dukungan negara, masyarakat, pendidikan, ekonomi, dan hukum berjalan selaras dalam membentuk generasi terbaik.

Karena itu, mewujudkan generasi berkualitas tidak cukup melalui program-program parsial. Solusi hakiki membutuhkan perubahan yang lebih mendasar, yaitu penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan sistem yang menyeluruh inilah akan lahir ayah-ayah teladan, ibu-ibu pendidik peradaban, serta generasi pelopor perubahan yang siap melanjutkan risalah Islam bagi kemaslahatan seluruh manusia.
Bagikan:
KOMENTAR