Dari Adab Hingga Sistem Kesehatan Islam yang Mengagumkan


author photo

15 Agu 2026 - 17.43 WIB



Oleh: Djumriah Lina Johan 
(Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

Kasus viral yang berawal dari keluhan seorang pasien BPJS bernama Yurizal mengenai lamanya menunggu ruang perawatan di rumah sakit kini memasuki babak baru. Seorang dokter RSUD Inche Abdoel Moeis (IA Moeis) Samarinda yang diduga menulis komentar "bacot nih pasien" di media sosial telah dikenai sanksi internal oleh pihak rumah sakit. Kasus ini menjadi sorotan publik setelah Yurizal, pemuda herusia 31 tahun, meninggal dunia usai sempat menjalani perawatan di rumah sakit.

Telisik Kasus

Setidaknya ada dua hal yang ingin saya kritisi dari kasus di atas. Pertama, minimnya adab dari nakes. Kedua, dari segi lambatnya proses administrasi maupun penanganan dari pihak rumah sakit terkait.

Pertama, sebagai seorang muslim/ah, kita terikat dengan seperangkat aturan yang bersumber dari Al-Qur'an dan Sunnah. Baik berupaya perbuatan maupun hukum benda. Apalagi sebagai seorang tenaga kesehatan yang selalu berhubungan dengan sesama manusia. Rasa-rasanya etika atau adab menjadi salah satu hal yang wajib untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana tertera di dalam QS. Al-Ahzab ayat 21, "Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah."

Ayat ini menjadi pondasi utama bahwasanya peran Rasulullah Saw. selain sebagai pembawa risalah, juga sebagai suri tauladan. Contoh dan idola yang sempurna mulai dari perkara akhlak hingga sebagai kepala negara. Hal ini diperkuat dalil, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia." (HR. Al-Baihaqi no. 213)

Rasulullah Saw. pun bersabda, "Kaum mukminin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi no. 1162)
"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat tempat duduknya dariku pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi no. 2018)

Sehingga sebagai seorang nakes sekaligus muslimah, sudah seharusnya adab dan akhlak yang baik menjadi bagian dari kepribadiannya. Tidak terlepas atau terpisah bila ia sedang bekerja di rumah sakit maupun ketika rehat di rumah atau sedang berseluncur di media sosial.

Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (QS. Al-Ahzab: 70)
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang (perbuatan) keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90)

Dari dalil-dalil di atas, jelaslah bagaimana seharusnya kepribadian seorang muslim apalagi ia mengambil amanah sebagai pelayan umat di bidang kesehatan.

Kedua, sistem kesehatan yang buruk menjadi salah satu penyebab Yusrizal membagikan pemikiran dan perasaan di sosial media. Seharusnya netizen selain mengomentari para nakes yang nirempati hingga mendapatkan sanksi dari instansi terkait, juga mengkritisi sistem kesehatan di negeri ini. Memang benar, jikalau tidak ada kamar atau IGD sedang penuh sedang nakes semua bekerja melayani pasien yang lain, kita harus bersabar. Namun, apabila ini sudah menjadi masalah yang sering atau hampir selalu terjadi dimanapun dan kapanpun, berarti ada masalah mendasar yang belum diketahui atau justru diabaikan. Yakni, sistem kesehatan itu sendiri.

Untuk lebih jelasnya, mari kita bandingkan dengan sistem kesehatan Islam. Dalam Islam, pelayanan kesehatan termasuk kebutuhan dasar masyarakat yang menjadi kewajiban negara. Negara (Khilafah) menyediakan rumah sakit, klinik, dan fasilitas umum yang diperlukan oleh kaum muslim dalam pengobatan. Pelayanan kesehatan termasuk bagian dari kemaslahatan dan fasilitas umum yang menjadi hak seluruh rakyat dan wajib dijamin oleh negara sebagai bagian dari pelayanan negara terhadap rakyatnya. Dalilnya adalah sabda Rasulullah saw., “Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang ia urus.” (HR Bukhari dan Ahmad). Saat Umar bin Khaththab ra. menjadi khalifah, beliau menyediakan dokter gratis untuk mengobati Aslam. (HR Al-Hakim).

Pemberian jaminan kesehatan seperti ini tentu membutuhkan dana yang besar. Khilafah mampu memenuhi pembiayaannya dari baitulmal. Sumber-sumber pemasukan negara yang telah ditetapkan oleh syariat di antaranya dari hasil pengelolaan harta kekayaan umum, seperti hutan, berbagai macam tambang, minyak dan gas, dan sebagainya. Juga dari kharaj, jizyah, ganimah, fai, usyur, pengelolaan harta milik negara, dan sebagainya. Semua itu akan lebih dari cukup untuk bisa memberikan pelayanan kesehatan secara gratis dan berkualitas untuk seluruh rakyat.

Pada masa Rasulullah saw., fasilitas kesehatan seperti Khima’ Rufaida (tenda pengobatan Rufaida al-Aslamiyyah) dibiayai oleh negara dan disediakan untuk umum. Pada masa khulafaurasyidin, para khalifah juga menyediakan layanan kesehatan gratis untuk rakyat, seperti penyediaan dokter, perawat, obat, dll. Pada masa Daulah Umayyah pelayanan kesehatan sudah terorganisasi dan berdirilah Bimaristan (rumah sakit) di Damaskus, Suriah untuk pengobatan para penderita lepra serta kebutaan. Dokter dan perawatnya digaji oleh negara dari kas baitulmal. Sejak itu, bimaristan memberikan pelayanan kesehatan gratis, lengkap dengan obat-obatan, perawatan spesialis, hingga layanan kesehatan jiwa. Di bawah naungan Khilafah hingga masa Daulah Utsmaniyah, pelayanan kesehatan seluruh rakyat dijamin oleh negara, tidak dikomersialkan atau diserahkan kepada mekanisme pasar atau swasta.

Bukti Sejarah

Tinta emas peradaban Islam telah menulis tentang pelayanan kesehatan dalam sejarah Khilafah Islam. Hal ini bisa dilihat dari tiga aspek. Pertama, tentang pembudayaan hidup sehat. Rasulullah saw. mendapatkan wahyu dari Allah Swt. melalui Jibril as., di antaranya terkait gaya hidup seorang muslim sehingga terjaga kesehatannya. Beliau juga memberikan teladan bagi umat Islam untuk menerapkan pola hidup sehat sehingga Rasulullah dikenal sebagai manusia tersehat.

Kedua, kemajuan ilmu dan teknologi dalam bidang kesehatan. Pendidikan kedokteran yang bebas biaya dan berdasarkan akidah Islam akan mengeluarkan output yang berkompeten, beradab, dan berakhlak mulia, serta jauh dari petaka malapraktik. Berbagai penelitian tentang penyakit dan pengobatannya dibiayai sepenuhnya oleh negara dan dijamin kehalalannya. Ketiga, penyediaan infrastruktur dan fasilitas kesehatan. Khilafah menyediakan infrastruktur berupa fasilitas serta sarana dan prasarana kesehatan yang memadai secara merata di seluruh penjuru negeri sehingga rakyat tidak kesulitan mengakses pelayanan kesehatan.

Kesimpulan

Sejatinya polemik nakes, pasien, adab, serta sistem kesehatan semua bersumber dari kerusakan sistem kehidupan yang saat ini diterapkan negeri ini. Itulah sistem kapitalis sekuler. Seandainya, netizen +62 lebih memahami akar masalah dan solusi hakiki dari Islam, sudah pasti perubahan revolusioner menjadi agenda utama saat ini. Wallahu a'lam bishshawab.
Bagikan:
KOMENTAR