Di Balik Pendidikan: Siapa yang Membentuk Cara Kita Berpikir?


author photo

16 Agu 2026 - 12.47 WIB




Oleh : Eva Herlina S.T., M.T

Kita sering mengira bahwa semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik pula cara berpikirnya. Semakin banyak ilmu yang dikuasai, semakin luas pandangannya. Tetapi ada pertanyaan yang jarang kita ajukan: dengan kerangka apa ilmu itu kemudian digunakan untuk memahami kehidupan?

Sebab pendidikan tidak hanya mengajarkan apa yang harus kita ketahui. Dalam proses yang panjang, pendidikan juga dapat membentuk bagaimana kita melihat manusia, kehidupan, kebebasan, kebahagiaan, keberhasilan, bahkan bagaimana kita menentukan benar dan salah. Anak tidak hanya belajar matematika, sejarah, ekonomi atau teknologi. Ia juga belajar, secara langsung maupun tidak, apa yang dianggap penting, apa yang disebut keberhasilan, dan manusia seperti apa yang dianggap ideal.

Karena itu, persoalan pendidikan sesungguhnya tidak berhenti pada pertanyaan: seberapa banyak ilmu yang kita miliki? Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: dari mana kerangka berpikir yang kita gunakan untuk memahami ilmu tersebut?

Bagi seorang Muslim, pertanyaan ini menjadi semakin penting. Islam tidak memusuhi akal. Al-Qur'an justru berulang kali mengajak manusia berpikir, memperhatikan realitas, mengambil pelajaran, dan menggunakan kemampuan intelektualnya. Namun Islam juga mengajarkan bahwa akal manusia memiliki keterbatasan. Tidak semua kebenaran dapat dijangkau manusia hanya melalui pengalaman dan penalarannya sendiri. Karena itu, wahyu menjadi petunjuk bagi perkara yang berada di luar kemampuan akal manusia.

Dengan demikian, Islam tidak menolak akal, tetapi memberikan arah bagi akal. Seorang Muslim tidak hanya bertanya, “Apa yang terjadi?” dan “Bagaimana sesuatu bekerja?”, tetapi juga perlu bertanya, “Apa maknanya?”, “Bagaimana Islam memandangnya?”, dan “Apa konsekuensinya bagi kehidupan?”

Di sinilah persoalan mulai menjadi serius.

Seseorang bisa memiliki pendidikan tinggi, menguasai berbagai ilmu, berpikir kritis, dan tetap menjalankan ibadah. Ia tetap Muslim. Tetapi ketika berhadapan dengan persoalan kehidupan, ia mungkin menggunakan ukuran yang berasal dari kerangka pemikiran lain tanpa pernah mengujinya kembali dengan Islam.

Keberhasilan, misalnya, dapat dipahami hanya sebagai jabatan, pendapatan, popularitas, dan pencapaian material. Kebebasan dipahami sebagai kemampuan manusia menentukan sendiri nilai dan aturan hidup. Kebahagiaan diukur dari terpenuhinya keinginan. Persoalan ekonomi, politik, pendidikan, keluarga, dan masyarakat kemudian dibaca dengan teori yang sedang dominan.

Bukan berarti semua teori tersebut harus ditolak. Ilmu empiris tentu dapat dipelajari. Teknologi dapat dimanfaatkan. Berbagai pemikiran dapat dikaji. Tetapi seorang Muslim semestinya mampu membedakan antara ilmu yang menjelaskan fakta dan gagasan yang sekaligus membawa pandangan tentang manusia dan kehidupan.

Yang kedua inilah yang perlu diuji.

Sejarah Islam menunjukkan bahwa umat ini tidak pernah takut berhadapan dengan pemikiran dari luar. Imam Al-Ghazali adalah salah satu contohnya. Ia mempelajari filsafat secara serius sebelum memberikan kritik terhadap sejumlah pandangan filosofis yang dianggap bertentangan dengan prinsip Islam.

Ada pelajaran penting di sana: mengenal tidak berarti menerima, memahami tidak berarti menyetujui, dan berpikir kritis tidak berarti menolak semuanya.

Sebuah gagasan dapat dikenali, dipahami, diuji, kemudian diterima, dikoreksi, atau ditolak.

Namun sebuah gagasan juga dapat masuk melalui jalan yang lebih halus. Ia dipelajari, digunakan, diajarkan, diulang, kemudian menjadi kebiasaan. Lama-kelamaan kita tidak lagi merasa sedang menerima sebuah gagasan. Kita hanya merasa sedang mengikuti sesuatu yang “normal”.

Pada titik inilah worldview dapat bergeser tanpa identitas agama ikut berganti.

Seorang Muslim tetap mengatakan dirinya Muslim, tetapi bisa saja menggunakan konsep tentang kebebasan, keberhasilan, moralitas, pendidikan, bahkan kehidupan yang tidak lagi sepenuhnya dibaca dari kerangka Islam.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih menggelitik: jangan-jangan persoalannya bukan hanya karena cara berpikir kita telah dibentuk oleh lingkungan, pendidikan, dan sistem yang dominan. Jangan-jangan kita sendiri kemudian takut berpikir sampai tuntas.

Kita berani mengatakan Islam mengatur shalat, puasa, zakat, pernikahan, dan akhlak. Tetapi ketika pembicaraan menyentuh ekonomi, politik, hukum, pendidikan, atau pengaturan kehidupan masyarakat, mengapa sebagian Muslim tiba-tiba merasa perlu memberi jarak?

Apakah karena kita menemukan bahwa Islam memiliki pandangan yang tidak selalu sejalan dengan sistem yang sedang berlaku?

Jika demikian, jangan-jangan kita bukan kehilangan kemampuan berpikir. Kita justru menahan diri untuk berpikir sampai pada konsekuensi dari aqidah kita sendiri.

Kita berani berpikir kritis selama kesimpulannya masih berada dalam batas yang dianggap aman. Tetapi ketika kesimpulan itu membawa kita pada pandangan yang berbeda dari arus utama, keberanian berpikir mulai surut.

Padahal berpikir mustanīr bukan sekadar berpikir kritis. Ia menuntut keberanian melihat fakta secara jernih, menghubungkannya dengan informasi yang benar, kemudian menarik kesimpulan berdasarkan kerangka berpikir yang jelas.

Bagi seorang Muslim, keberanian itu seharusnya tidak berhenti pada keberanian mempertanyakan dunia. Ia juga harus berani mempertanyakan cara kita sendiri memahami Islam.

Jika kita meyakini Islam berasal dari Allah dan wahyu merupakan petunjuk bagi kehidupan, mengapa kita harus takut menemukan bahwa pandangan Islam berbeda dengan sistem yang sedang berlaku?

Jika Islam hanya dianggap benar selama tidak mengusik konsep yang sudah mapan, bukankah kita justru telah menjadikan sistem di luar Islam sebagai ukuran kebenaran?

Pertanyaan ini penting bukan untuk mengajak umat menolak semua yang ada di luar Islam. Justru sebaliknya. Kita perlu mempelajari berbagai ilmu dan pemikiran dengan serius agar mampu membedakan mana fakta, mana teori, mana asumsi, dan mana nilai yang sedang disisipkan di dalamnya.

Yang dibutuhkan bukan manusia yang anti terhadap ilmu, tetapi manusia yang tidak kehilangan standar ketika berhadapan dengan ilmu.

Maka persoalan pendidikan hari ini mungkin bukan sekadar bagaimana membuat Muslim lebih pintar. Kita sudah memiliki banyak orang pintar, banyak orang bergelar, dan akses ilmu yang semakin luas.

Persoalannya adalah apakah pendidikan telah membantu seorang Muslim menghubungkan ilmu dengan aqidah, akal dengan wahyu, pengetahuan dengan nilai, dan kehidupan dengan tujuan penciptaannya.

Sebab manusia dapat memiliki pengetahuan yang sangat luas tetapi tetap bingung menentukan arah. Ia dapat sangat kritis terhadap berbagai hal, tetapi tidak pernah kritis terhadap asumsi yang selama ini membentuk cara berpikirnya.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terbesar tentang pendidikan bukanlah: “Seberapa tinggi pendidikan seseorang?”

Melainkan:

“Siapa yang membentuk cara berpikirnya, standar apa yang ia gunakan untuk menilai kehidupan, dan apakah ia masih berani mengikuti pikirannya sampai pada kebenaran yang diyakininya?”

Karena seorang Muslim yang berpikir mustanīr bukanlah orang yang takut menemukan perbedaan antara Islam dan zaman.

Ia justru harus berani melihat perbedaan itu dengan jernih, mengkajinya dengan ilmu, dan kemudian bertanya dengan jujur:

Apakah kita sedang menyesuaikan Islam dengan zaman, atau sedang membaca zaman dengan kerangka Islam?

Barangkali, di situlah pendidikan kita perlu kembali dimulai.
Bagikan:
KOMENTAR