Oleh : Milda, S.Pd
(Aktivis Muslimah)
Polisi menetapkan tiga tersangka dalam kasus pengeroyokan terhadap guru SD di Balikpapan Timur, Kalimantan Timur (Kaltim), yang sempat viral di media sosial. Ketiga tersangka diamankan setelah penyelidikan atas kasus yang dipicu teguran korban kepada pelajar SMA yang merokok dan berseragam sekolah.
Kapolsek Balikpapan Timur, AKP Muhammad Chusen mengatakan, ketiga tersangka diamankan pada dini hari, Senin (27/7). Mereka masing-masing dua pelajar berusia 15 tahun berinisial FZ dan FT, serta seorang supir berinisial JS (30) yang merupakan paman dari FT.
"Ketiganya sudah kami tetapkan sebagai tersangka. Untuk JS sudah dilakukan penahanan dini hari tadi," kata Chusen kepada detikKalimantan, Senin (27/7/2026)
https://www.detik.com/kalimantan/hukum-dan-kriminal/d-8592181/polisi-tetapkan-3-tersangka-pengeroyokan-guru-sd-penegur-siswa-merokok/amp
kasus tersebut menjadi gambaran memudarnya penghormatan terhadap guru. Teguran yang seharusnya dipahami sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab mendidik justru berujung pengeroyokan. Konflik antara guru dan murid acapkali terjadi dalam sistem kapitalisme, hal ini bukan hanya berkaitan dengan individu, marah atau kurangnya pengawasan tetapi ini adalah gambaran pendidikan sekular yang mengalami dekadensi moral yang dialami oleh banyak pelajar. Pendidikan yang dianggap mampu membentuk kepribadian Islam tetapi justru menjadikan pelajar kehilangan adab.
Syekh Taqiyuddin an-Nabanni mengatakan dalam kitab Syakhsiyyah al-Islamiyyah menyebutkan manusia berprilaku sesuai dengan persepsi yang terbentuk dari sistem dan lingkungan tempat ia hidup. Hari ini di bawah penerapan sistem rusak manusia akhirnya hidup secara bebas . Di atas sistem sekulerisme yang memisahkan agama dalam pengaturan kehidupan lahir prilaku manusia yang jauh dari nilai-nilai agama.
Terbukti pengeroyokan guru terhadap siswa tidak hanya melanggar hukum sosial yang merugikan orang lain tetapi hilangnya keimanan disebabkan gagalnya sistem pendidikan sekuler ditanamkan dalam benak para pelajar khususnya generasi.
Dalam segala lini kehidupan sekulerisme seolah menjadi wadah dalam mengatur tatanam kehidupan termasuk ruang pendidikan. Agama hanya dipakai dalam ranah privat tanpa membentuk pola pikir dan pola sikap Islam. Pelajaran agama dalam dunia pendidikan pendidikan hari ini hanya diberikan waktu dua jam sepekan, akibatnya generasi kehilangan identitas dan tujuan hidup yang semestinya melahirkan generasi berilmu dan berkarakter Islamiyah.
Belajar tidak lagi dianggap mendekatkan diri pada Allah SWT tetapi melalui proses berpikir justru hari ini pendidikan hanya berorentasi pada nilai akademik yang siap mengejar dunia kerja. Hilangnya peran guru sebagai pendidik sejalan dengan maraknya kasus guru yang bertikai pada siswa mulai dari pencabulan, hukuman di luar batas hingga prilaku yang tidak mencerminkan sosok yang mulia di hati umat.
Semua ini terjadi saat agama bukan sebagai rujukan dalam melihat benar-salah, baik-buruk, halal-haram semua berdasarkan hawa nafsu manusia. Akibatnya tatanam sosial menjadi arogan dan individualisme. Dengan demikian sekulerisme membentuk generasi muslim yang asing terhadap adan dan kehilangan penghormatan pada guru yang notabene wajib di hormati sebagaimana mestinya.
Islam sebagai agama yang sempurna mengatur segala aspek kehidupan termasuk dunia pendidikan yang punya peran penting dalam proses berpikir sehingga lahirlah konsep adab, ilmu dan tujuan hidup. Syekh Taqiyuddin an-Nabanni mengatakan perubahan prilaku terjadi jika mafahim secara mendasar (Syakhsiyyah al-Islamiyah, H 9-10). Maka, pendidikan harus dibangun atas dasar akidah. Saat akidah Islam dihilangkan dari dunia pendidikan manusia kehilangan arah tujuan yakni sebagai hamba yang beriman dan bertakwa.
Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa menempuh jalan untuk berilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR Muslim).
Jalan menuju surga harus ditempuh dengan adab, termasuk memuliakan guru sebagai pembuka jalan menuju surga, itulah sebabnya guru wajib di hormati sebab keberkahan ilmunya mampu membawa perubahan bagi generasi hakiki.
Dalam sistem pemerintahan Islam pendidikan merupakan tempat dalam membentuk manusia yang mulia, berilmu dan berkarakter yang melahirkan rasa takut pada Allah sebagai bentuk kesadaran kolektif dan serta meraih amal sholeh.
Selain pendidikan dianggap sebagai transfer ilmu, juga membentuk kepribadian Islam yang khas artinya pola pikir dan pola sikap sejalan dengan tuntunan syari'ah. Sebagaimana generasi pada masa kejayaan Islam yakni Abbas ibnu Firnas yang dikenal dunia bapak penerbangan pertama, Ibnu Sina bidang kedokteran, Ibnu Haitham penemu optik modern, Al Khawarizmi penemu konsep aljabar dan algoritma, Jabir Ibn Yahya penemu bahan pelarut emas dan lain sebagainya.
Semua berawal dari proses berpikir cemerlang yang menghasilkan karya-karya gemilang hingga hari ini umat rasakan manfaatnya.
Oleh karena itu. Saatnya umat menyadari bahwa sistem buatan manusia yang lemah dan terbatas mestinya menjadi alarm bagi umat untuk mengganti dengan sistem Islam yang terbukti melahirkan manusia yang beradab, berilmu dan bertakwa pada Allah SWT sebagai tanda makhluk yang berpikir. Wallahu a'lam bishshawab.