‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Remaja Kehilangan Arah, Selamatkan dengan Islam Kaffah


author photo

7 Agu 2026 - 19.17 WIB



Oleh: Zakiyatul Fakhiroh, S.Pd (Pendidik)

Aksi balapan liar di Kota Samarinda berujung aksi penusukan pada pertengahan Juli lalu. Dua remaja tersebut menjadi korban penusukan oleh sekelompok remaja lain usai pertemuan di lokasi cuci motor di Siradj Salman. Awalnya pertemuan tersebut direncanakan untuk menyelesaikan masalah secara baik-baik tapi justru berujung aksi pengeroyokan dan penusukan. Senjata yang digunakan pisau dapur dan jenis senjata tajam lainnya. (Korankaltim, 14/07/2026)

Mengutip data swarapendidikan.co.id tahun 2025, trend kenakalan remaja mengalami kenaikan tajam meliputi tawuran, kekerasan seksual, dan pergeseran perilaku menyimpangan ke ranah digital. Sekitar 14.000 anak di bawah 20 tahun tercatat sebagai pelaku atau terlapor kasus kriminal dengan dominasi kasus penganiayaan dan pencurian.

Dunia remaja hari ini dipenuhi konten kekerasan dan budaya permisif yang merusak. Tumbuh di tengah kerusakan moral dan akhlak, banyak remaja yang tak memiliki filter untuk menyaring mana informasi yang layak dikonsumsi dan mana yang tidak. Standar kehidupan bukan lagi halal-haram, melainkan kepuasan diri.

Konten-konten berbau kekerasan semakin  mudah diakses, justru kian digandrungi. Tak jarang, kasus-kasus viral kekerasan justru memancing timbulnya kekerasan lain. Remaja cenderung menyukai perhatian. Tak heran, menjadi pusat perhatian dengan jalur viral unfaedah pun rela dilakukan demi eksistensi.

Maraknya kasus perundungan dan perkelahian antarkelompok remaja menunjukkan minimnya empati. Sistem kapitalisme liberal, menciptakan individu-individu yang egois dan individualis, cenderung cuek dengan orang lain. Disadari atau tidak, hal ini tampak pada remaja masa kini. Banyak remaja yang sibuk dengan gawainya, tak acuh pada lingkungan. Dengan prinsip tak mau mencampuri urusan orang lain, pelan tapi pasti rasa empati di kalangan remaja semakin terkikis.

Allah menciptakan manusia dengan gharizah baqa', yaitu naluri mempertahan diri. Naluri ini fitrah yang ada pada diri setiap manusia. Untuk itu, manusia perlu ilmu agar mampu mengarahkannya sesuai syariat. Inilah yang menjadi masalah bagi remaja masa kini. Naluri baqa' menggebu-gebu, sementara tak ada bekal ilmu Islam. Akhirnya saat marah, kemarahan berubah menjadi dendam, lalu berujung kekerasan. Kekerasan dapat menjadi candu, sebab ada kepuasan tersendiri saat amarah disalurkan melalui kekerasan fisik, tak peduli pada bahaya yang timbul.

Salah satu solusi masalah remaja yaitu mendakwahi mereka, mengajaknya kembali pada Islam, belajar Islam secara kaffah. Remaja dengan akidah yang kuat dan taat syariat tak akan mudah terombang-ambing dalam maksiat. Remaja-remaja yang memahami makna hidup sebagai ibadah untuk meraih Surga-Nya.

Namu perlu diingat, pembentukan generasi tangguh bukan sebuah proses yang instan. Islam mengatur seorang muslim untuk mencari pasangan yang mampu bersama-sama merajut ketaatan, melahirkan generasi shalih-shalihah yang kelak mengisi peradaban. Allah memerintahkan dalam Surat At Tahrim ayat 6:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar dan keras. Mereka tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepadanya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.

Ayat ini menjadi dalil pentingnya penjagaan keluarga terhadap keimanan anggota keluarga dengan cara taat kepada Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Keluarga adalah madrasah  pertama bagi anak. Pendidikan akidah dalam keluarga ibarat pondasi yang kelak menentukan kekuatan pondasi keimanan anak. Sejak kecil anak harus dididik mengenal Allah, mencintai Rasulullah SAW. Pelan-pelan anak diajari untuk memahami dan tunduk pada syariat. Shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, dan serangkaian ibadah rutin dibiasakan dari rumah. Sebisa mungkin anak memiliki benteng ibadah yang kuat agar selamat dari hitam pekatnya akhir zaman.

Sekolah juga memiliki peran membangun kepribadian Islam pada anak. Melalui kurikulum berlandaskan akidah, anak dididik dengan tsaqofah Islam, dikuatkan akidahnya, dibentuk karakternya sebagai pemuda muslim calon pemimpin peradaban. Anak laki-laki dimunculkan jiwa kepemimpinannya, anak perempuan dimunculkan naluri keibuannya. Keduanya diberi skill sesuai potensi dan fitrah jinsiyah (jenis kelamin).

Akidah Islam harus menjadi fondasi berpikir. Baik keluarga, lembaga pendidikan, harus membekali generasi muda dengan pemahaman Islam agar mereka memiliki standar benar dan salah yang bersumber dari syariat, bukan dari standar manusia. Para remaja ini membutuhkan figur yang layak dijadikan panutan, maka selayaknya orang tua dan guru menjadi teladan bagi anak. Kehadiran komunitas juga amat penting. Kawan-kawan dalam satu visi misi yang sama berperan saling mengingatkan, membentuk karakter dan kepedulian terhadap umat.

Dengan kecerdasan para remaja masa kini, mereka bisa diarahkan untuk menguasai ruang digital dengan dakwah dan edukasi. Sambil berproses, mereka perlu menebar konten saling menguatkan akidah, akhlak, dan kesadaran untuk kembali pada Islam.

Peran negara juga sangat krusial. Dalam Islam, pemimpin adalah ra'in yang akan dimintai pertanggung jawaban atas rakyat, termasuk dalam penjagaan generasi. Sebagai institusi tertinggi, negara wajib memblokir segala jenis konten berbau kekerasan. Para pelaku kekerasan juga harus mendapat sanksi yang menimbulkan efek jera, agar kasus kekerasan tak terus berulang. 

Baik keluarga, sekolah, masyarakat, terutama negara, harus saling menopang demi terwujudnya lingkungan Islami yang kondusif bagi remaja. Dengan Islam, remaja menemukan jati diri sebagai pemuda muslim sejati, turut mengambil peran menjadi generasi cerdas berakhlak mulia. Semua kondisi ideal ini akan tercapai dengan kembali pada aturan Islam. Wallahu a'lam bishshawab
Bagikan:
KOMENTAR