‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Fenomena Fatherless dan Sosok ‘Ayah Wajib Hadir’ Dalam Pembentukan Generasi Tangguh


author photo

4 Agu 2026 - 14.47 WIB



Oleh : Evi Fitriani, S. Pd (Pemerhati Generasi)

Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) dalam peringatan Hari Keluarga Nasional di Kabupaten Berau mengusung tema “Ayah wajib hadir” baik saat mengantar anak sekolah maupun dalam kehidupan di rumah, guna membangun kedekatan emosional dan menghilangkan Kesan fatherless. 

Tema ini diusung karena memiliki makna mendalam. Sosok ayah yang membersamai tumbuh kembang anak akan meningkatkan kepercayaan diri anak, ujar Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud saat puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Kaltim di Tanjung Redeb. 

Hal ini dilakukan bukanlah tanpa sebab, karena faktanya sudah terlalu banyak kerusakkan yang terjadi pada generasi atau usia anak sekolah. Maka berbagai upaya terus dilakukan guna mengatasi problem negeri ini. Program “ Ayah wajib hadir” sebenarnya untuk meningkatkan fungsi dan peran ayah, karena kondisi para ayah hari ini sudah banyak yang tidak memahami perannya sebagai seorang ayah. Termasuk peran Ibu dan keluarga dalam pengasuhan dan pendidikan anak. 

Akan tetapi ternyata semua ini belum efektif untuk menuntaskan problem anak dan generasi negeri ini. Faktanya jutru kondisi anak di negeri ini masih jauh dari kesejahteraan dan keamanan serta jauh dari gambaran pribadi yang bertakwa, bahkan jauh dari karakter generasi emas seperti yang di harapkan. 

Berbagai upaya tadi ternyata belum cukup dan permasalahan ini tetaplah menjadi PR besar untuk mewujudkan karakter generasi emas guna menopang Visi Indonesia Emas 2045. Belum tuntasnya problem anak hari ini adalah buah dari penerapan sistem hidup kapitalisme sekuler yang terus dipaksakan di negeri ini. 

Sistem hidup yang mengabaikan peran agama dalam menata kehidupan masyarakat dan bernegara. Hasilnya menjadikan masyarakat tidak menjadikan aturan Allah sebagai standar perbuatannya.

Cerminan generasi saat ini yang bisa kita lihat adalah betapa jauhnya mereka dari Allah. Berbagai tindakan kriminal terjadi dari dan oleh generasi muda. Tingginya angka pelecehan seksual, narkotika, bahkan marak LBGT semakin menambah daftar panjang kerusakkan generasi. Termasuk tingginya kasus-kasus penculikkan anak. Anak menjadi korban kejahatan dimana-mana, tidak ada lagi ruang aman bahkan di rumah mereka sendiri. Peringatan hari keluarga dan anakpun tak lebih sebatas seremoni saja. 

Miris, bahkan lepas tangannya orangtua terhadap anak pun menjadi sebuah permasalahan yang besar, karena anak harusnya mendapatkan perhatian, Pendidikan, pengasuhan oleh orangtua namun justru sebaliknya. Pengabaian terhadap fungsi orangtua, lingkungan dan negarapun menjadikan problem ini menjadi sistemik. 

Lingkungan hari ini yang bahkan tidak berhasil membentuk generasi, lingkungan yang juga tidak menciptakan ruh (kesadaran diri kepada Allah), tidak perduli amar ma’ruf nahi mungkar, dan bahkan saat ini Ketika orangtua sudah sibuk bekerja, maka anak diserahkan penuh oleah sekolah. Harusnya orangtua dan sekolah ini sebagai mitra, namun justru menjadi berat sebelah. 

Realitasnya sistem pendidikan hari ini adalah sistem pendidikan sekuler yang gagal membentuk karakter yang bertakwa, gagal menjadikan orangtua yang bertanggung jawab dan paham akan amanah yang dijalani. Bahkan pandangan hak asasi anak yang membuat liberal, akhirnya anak merasa bebas melakukan apapun semaunya. 

Sanksi dalam sistem inipun tidak jelas , tidak memberikan efek jera bagi para pelaku tidak kejahatan terhadap anak adalah bukti negara tidak hadir dan kurang serius dalam menjaga kemanan anak. Selain itu sistem ekonomi gagal mensejahterakan masyarakat. Ayah dan Ibu sibuk bekerja untuk mencukupi segala kebutuhan keluarga guna sehingga abai terhadap perannya dirumah. 

Maka jika kita kembalikan kepada Islam yang memandang penting keberadaan anak ini sebagai generasi penerus peradaban, maka kewajiban negara dalam pemenuhan kebutuhan anak dalam berbagai aspek. Artinya negara akan melakukan upaya-upaya untuk menjaga generasi. Negara akan mengembalikan fungsi dan peran keluarga yang optimal dalam mendidik anak. 
Sesuai dengan hadist ini "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya..." (HR. Bukhari dan Muslim). Bahkan jelas juga bahwa "Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada pendidikan yang baik." (HR. Tirmidzi).

Di sisi lain, negara akan menerapkan sistem Pendidikan Islam untuk membentuk generasi berkepribadian Islam. Pendidikan berfokus pada penguatan akidah (keimanan kepada Allah) generasi dipahamkan akan siapakah dirinya, dan tujuan hidup didunia untuk membentuk generasi berkepribadian Islam.

Generasi yang beradab, berakhlak serta disibukkan dengan segala macam keilmuan. Sebagai mana firman Allah SWT dalam QS. Adz-Dzariyat Ayat 56 "Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."

Negara juga menjadi garda terdepan untuk menerapkan sistem ekonomi yang mensejahterakan, sehingga keluarga-keluarga ini dapat tercukupi segala kebutuhannya, dan menjadi support sistem utama dengan memberikan lapangan kerja yang layak dengan segala pengaturannya. 

Imam Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan hadits dari jalur Abu Hurairah ra, bahwa Nabi shalla-Llahu ‘alaihi wa Sallama, bersabda:“Sesungguhnya seorang imam itu [laksana] perisai. Dia akan dijadikan perisai, dimana orang akan berperang di belakangnya, dan digunakan sebagai tameng. Jika dia memerintahkan takwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, dan adil, maka dengannya, dia akan mendapatkan pahala. Tetapi, jika dia memerintahkan yang lain, maka dia juga akan mendapatkan dosa/adzab karenanya” [Hr. Bukhari dan Muslim].

Maka sinerginya dalam segala aspek ini akan mewujudkan generasi yang berkualitas dan ketahanan keluarga. Dan ini semua tidak bisa terwujud tanpa diterapkan Islam dimuka bumi ini oleh sebuah sistem yang menerapkan Islam, yaitu Khilafah Islamiyah. Wallahu alam bishawab.
Bagikan:
KOMENTAR