Tak Sekadar Buang Sampah: Kelompok 18 KPM UIN SUNA Gebrak Desa Suka Julu dengan Bank Sampah dan Kompos


author photo

16 Agu 2026 - 12.44 WIB


LHOKSEUMAWE — Persoalan sampah tidak lagi dapat dipandang sebagai urusan pemerintah semata. Ketika sampah rumah tangga terus menumpuk, dibakar atau dibuang sembarangan, dampaknya langsung menyentuh kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat. Min (16 Agu 2026).

Di tengah persoalan tersebut, Kelompok 18 Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) Mandiri UIN Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe Tahun 2026 mencoba menghadirkan pendekatan berbeda di Desa Suka Julu.

Para mahasiswa tidak sekadar melakukan sosialisasi, tetapi mendorong lahirnya sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui bank sampah dan pengolahan sampah organik menjadi kompos.

Langkah ini menjadi bagian dari semangat KPM Mandiri UIN SUNA yang mengusung tema ekoteologi dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran mahasiswa diarahkan agar tidak berhenti pada pemenuhan kewajiban akademik, tetapi mampu memberikan solusi terhadap persoalan nyata yang dihadapi masyarakat.

Kepala Pusat Pengabdian kepada Masyarakat UIN SUNA, Dr. Taufiq, M.A., sebelumnya menekankan pentingnya kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat sebagai bagian dari kontribusi nyata perguruan tinggi.

Bank Sampah, Mengubah Sampah Menjadi Nilai

Salah satu gagasan utama Kelompok 18 adalah memperkenalkan konsep bank sampah kepada masyarakat Desa Suka Julu.

Bank sampah tidak hanya diposisikan sebagai tempat mengumpulkan sampah. Lebih jauh, konsep ini mengubah cara pandang masyarakat bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna sebenarnya masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan benar.

Masyarakat didorong memilah sampah sejak dari rumah. Sampah yang memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan ditabung melalui mekanisme bank sampah.

Namun, keberhasilan program tersebut tidak cukup hanya dengan menyediakan tempat penampungan. Kesadaran dan konsistensi masyarakat menjadi kunci utama.

Karena itu, Kelompok 18 memberikan perhatian khusus kepada ibu rumah tangga dan generasi muda. Dua kelompok tersebut dinilai memiliki posisi strategis dalam membentuk kebiasaan pengelolaan sampah dari lingkungan keluarga.

Pesan yang ingin dibangun sederhana, tetapi fundamental: sampah bukan sekadar sesuatu yang harus dibuang, melainkan sesuatu yang harus dipilah dan dikelola.

Sampah Dapur Jangan Berakhir di Tempat Pembuangan

Selain sampah anorganik, persoalan sampah organik juga menjadi perhatian.

Sisa makanan, sayuran, dedaunan dan material organik rumah tangga yang selama ini berpotensi menumpuk atau dibakar diperkenalkan untuk diolah menjadi kompos.

Melalui praktik pengomposan sederhana, masyarakat diperlihatkan bahwa sampah organik dapat kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan.

Kompos dapat dimanfaatkan untuk menyuburkan tanah sekaligus mendukung kegiatan pertanian dan penghijauan di tingkat desa.

Pendekatan praktik langsung menjadi penting. Masyarakat tidak hanya mendengarkan teori, tetapi diperkenalkan dengan proses pengolahan sehingga diharapkan mampu menerapkannya secara mandiri setelah masa KPM berakhir.

Bukan Program Seremonial

Yang menjadi tantangan terbesar bukan memulai program, melainkan memastikan program tersebut tetap hidup setelah mahasiswa meninggalkan desa.

Bank sampah dan pengolahan kompos tidak akan bertahan apabila hanya menjadi kegiatan selama masa KPM. Program tersebut membutuhkan pengelolaan yang jelas, keterlibatan masyarakat, dukungan pemerintah desa serta pendampingan berkelanjutan.

Karena itu, perangkat desa memiliki peran penting untuk memastikan gagasan yang dirintis mahasiswa tidak berhenti sebagai dokumentasi kegiatan.

Dukungan dalam bentuk regulasi desa, penyediaan sarana, pengorganisasian kelompok pengelola hingga dukungan anggaran dapat menjadi fondasi agar program tersebut terus berkembang.

Di sinilah keberhasilan program Kelompok 18 akan diuji: apakah bank sampah dan kompos hanya menjadi cerita tentang mahasiswa KPM, atau benar-benar berubah menjadi budaya baru masyarakat Desa Suka Julu.

Dari Desa Suka Julu untuk Perubahan yang Lebih Besar

Inisiatif Kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat disentuh dari tingkat paling dasar: rumah tangga dan komunitas desa.

Program tersebut juga menjadi bentuk konkret pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di kampus diterjemahkan menjadi aksi yang menyentuh kebutuhan masyarakat.

Jika dikelola secara konsisten, Desa Suka Julu bukan tidak mungkin menjadi contoh pengelolaan sampah berbasis komunitas bagi desa-desa lain.

Sebab perubahan besar tidak selalu dimulai dengan proyek bernilai besar.

Terkadang, perubahan dimulai dari satu rumah yang mau memilah sampah, satu warga yang mau menabung sampah, dan satu kelompok masyarakat yang memilih mengubah sampah menjadi sesuatu yang bernilai.

Langkah Kelompok 18 mungkin sederhana. Namun apabila diteruskan secara konsisten oleh masyarakat dan pemerintah desa, langkah kecil tersebut dapat menjadi fondasi lahirnya Desa Suka Julu yang lebih bersih, produktif dan peduli lingkungan.

Penulis: Mahasiswa Kelompok 18 KPM Mandiri UIN SUNA Lhokseumawe

- Widiya Ramadhani Br. Tarigan
- Juwita Pratiwi Aritonang
- Annisa Putri
- Kasmawati
- Mutia Rahmi
- Karina Amanda Saragih
- Sherina
- Azra Mutiara Rifaldy
- M. Rafli Pratama
Bagikan:
KOMENTAR