Terhimpit Kapitalisme, Terjebak Sekularisme: Saatnya Gen Z Menemukan Visi Hidup Sejati


author photo

20 Agu 2026 - 18.44 WIB




Penulis : Maryanti, SP 

Kabar tentang ketimpangan finansial generasi muda bukan lagi sekadar isapan jempol. Di satu sisi, survei menunjukkan lebih dari 48% Gen Z merasa tidak aman secara finansial akibat tingginya biaya hidup dan stagnasi penghasilan. Namun di sisi lain, alokasi anggaran tv untuk self-reward, healing, hingga belanja impulsif justru terus meningkat. Dilansir dari Kompas.com, 12/8/2026.

Logika tabungan kerap kalah oleh kebutuhan emosional. Fenomena ini melahirkan pertanyaan besar: Mengapa generasi yang paling rentan secara finansial justru menjadi yang paling konsumtif dalam mengejar kepuasan sesaat?

Sistem Ekonomi Kapitalisme dan Pelepasan Tanggung Jawab

Tekanan finansial yang dialami Gen Z bukanlah semata-mata kecerobohan pribadi, melainkan buah dari sistem ekonomi kapitalisme.

 Sektor-sektor vital seperti pendidikan, kesehatan, dan perumahan diserahkan pada mekanisme pasar bebas demi meraup keuntungan semata. 

Ketika kebutuhan mendasar berbiaya tinggi, masyarakat dipaksa menguras sebagian besar pendapatannya hanya untuk sekadar bertahan hidup.

Dalam sistem ini, negara memposisikan diri sebatas fasilitator pasar, bukan penjamin langsung kesejahteraan rakyat. Beban jaminan hari tua, kesehatan, dan risiko ekonomi dialihkan penuh ke pundak individu. Akibatnya, timbul kecemasan finansial massal yang membuat masa depan terasa begitu abu-abu.

Jebakan Gaya Hidup Sekuler-Liberal dan Eksploitasi Media
Tekanan ekonomi tersebut diperparah oleh budaya sekuler-liberal yang mengukur kualitas hidup berdasarkan kepemilikan materi dan tingkat konsumsi.

Keberhasilan seseorang dinilai dari barang yang dipakai, tempat yang dikunjungi, atau pengalaman yang dipamerkan.

Platform media sosial mempercepat penularan gaya hidup ini dengan memicu pembandingan sosial (social comparison). Algoritma media memanfaatkan rasa takut tertinggal (FOMO) untuk menciptakan kebutuhan buatan. Individu akhirnya membeli barang atau layanan bukan karena fungsi objektifnya, melainkan demi pengakuan emosional, validasi sosial, dan pelarian dari kelelahan mental.

Krisis Eksistensial dan Disorientasi Tujuan Hidup
Akar masalah paling mendasar terletak pada krisis fondasi berpikir. Tanpa landasan nilai spiritual yang kokoh, manusia kehilangan pegangan utama dalam menghadapi ujian dan tekanan hidup. Ketiadaan visi hidup yang jelas membuat individu mudah bergantung pada kepuasan materi sesaat untuk mengisi kekosongan jiwa.

Krisis ini mengaburkan batas antara kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Konsumsi impulsif diwajarkan atas nama self-reward dan penjagaan kesehatan mental, sementara persiapan finansial jangka panjang dan kontribusi nyata untuk masyarakat justru terabaikan.

Solusi Sistemik dan Penguatan Visi Hidup
Untuk keluar dari lingkaran setan ini,

Dibutuhkan perubahan fundamental dari skala individu hingga kebijakan sistemik:
1. Jaminan Kesejahteraan Sistemik: Pengelolaan sumber daya alam secara mandiri dan pembukaan lapangan kerja yang layak agar setiap warga negara dapat memenuhi kebutuhan dasarnya tanpa harus berjuang sendiri-sendiri.
2. Edukasi dan Filter Media: Negara dan masyarakat perlu aktif menyaring terpaan budaya konsumerisme serta mengarahkan media sebagai sarana edukasi dan penguat karakter generasi muda.
3. Mengembalikan Hakikat Tujuan Hidup: Membangun kembali paradigma berpikir bahwa keberadaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mencari ridha Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56).
Dengan akidah yang kokoh dan arah hidup yang jelas, Gen Z tidak akan lagi terjebak dalam kepuasan materi semata, melainkan tumbuh menjadi generasi yang mandiri dan berdaya dalam membangun peradaban.
Wallahu a'lam bisshawab
Bagikan:
KOMENTAR