‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Tetap Waras di Tengah Dunia yang Tak Waras


author photo

8 Agu 2026 - 19.27 WIB




Oleh: Eva Herlina, ST, MT

Ada sesuatu yang menarik ketika kita hidup di tengah situasi sosial yang semakin gaduh. Semakin banyak persoalan yang kita lihat, semakin banyak pula alasan untuk marah, kecewa, bahkan kehilangan harapan.

Berita tentang kerusakan lingkungan, ketimpangan, persoalan kesehatan, pendidikan, ekonomi, hingga berbagai kebijakan publik terus memenuhi ruang informasi kita. Hampir setiap hari ada saja sesuatu yang membuat kita bertanya: sebenarnya ke mana arah negeri ini?

Di satu sisi, kita tidak ingin menjadi orang yang apatis. Tetapi di sisi lain, terus-menerus larut dalam kemarahan juga bukan keadaan yang sehat.

Lalu bagaimana?

Mungkin jawabannya bukan memilih antara peduli atau tenang. Kita membutuhkan keduanya.

Ketenangan yang Tidak Lahir dari Ketidaktahuan

Ada orang yang tenang karena memang tidak tahu apa yang terjadi. Ada pula yang tenang karena memilih tidak peduli.

Ketenangan seperti ini tentu berbeda dengan ketenangan yang lahir dari pemahaman.

Seseorang bisa saja memiliki banyak pertanyaan di kepalanya, tetapi tetap tenang dalam mengambil sikap. Ia membaca persoalan, memeriksa fakta, mencari hubungan sebab-akibat, kemudian berusaha memahami akar masalahnya.

Kepalanya bekerja.

Tetapi hatinya tidak kehilangan kendali.

Menurut saya, inilah yang penting dibangun di tengah derasnya arus informasi hari ini.

Sebab masyarakat yang hanya dibiasakan bereaksi akan mudah lelah. Setiap persoalan disambut kemarahan, setiap berita melahirkan kegaduhan, tetapi setelah itu tidak banyak yang berubah.

Kita akhirnya sibuk membicarakan gejala, sementara akar persoalan tidak pernah benar-benar disentuh.

Karena itu, ketika melihat sebuah masalah, pertanyaan kita tidak cukup berhenti pada “Apa yang terjadi?”

Kita perlu melanjutkan dengan pertanyaan yang lebih mendasar:

Mengapa ini terjadi? Sistem seperti apa yang melahirkannya? Dan solusi apa yang dapat menyelesaikannya secara mendasar?

Nafsiyah yang Membuat Kita Tidak Mudah Hanyut

Di sinilah penguatan nafsiyah Islamiyah menjadi penting.

Nafsiyah bukan sekadar kemampuan untuk menenangkan emosi. Ia berkaitan dengan bagaimana seseorang membentuk sikap dan perilakunya berdasarkan pemahaman yang dimilikinya.

Seorang Muslim tentu boleh marah melihat kezaliman. Boleh sedih melihat penderitaan. Boleh gelisah ketika melihat masa depan generasi dipertaruhkan.

Yang perlu dijaga adalah agar semua itu tidak membuat kita kehilangan kejernihan berpikir.

Islam memberikan standar bagi seorang Muslim dalam menilai kehidupan. Karena itu, persoalan yang kita hadapi tidak semestinya hanya dilihat dari apa yang sedang viral atau apa yang sedang menjadi opini publik.

Kita perlu memahami faktanya, kemudian menilainya dengan standar yang benar.

Di sinilah hubungan antara pemikiran dan sikap menjadi penting.

Apa yang kita pahami akan memengaruhi bagaimana kita bersikap.

Jika kita memahami bahwa sebuah persoalan hanya sebagai kejadian yang berdiri sendiri, maka respons kita mungkin berhenti pada kecaman.

Tetapi jika kita memahami akar dan sistem yang melahirkannya, kita akan mulai berpikir tentang perubahan yang lebih mendasar.

Maka nafsiyah yang kuat bukan membuat seseorang menjauh dari realitas.

Justru sebaliknya.

Ia membuat seseorang mampu berada di tengah realitas tanpa kehilangan arah.

Dari Marah Menjadi Gerak

Keresahan sebenarnya bisa menjadi energi yang positif jika diarahkan dengan benar.

Masalahnya bukan apakah kita marah atau tidak.

Masalahnya adalah ke mana kemarahan itu membawa kita.

Apakah hanya menjadi komentar?

Apakah berhenti sebagai unggahan di media sosial?

Atau mendorong kita untuk belajar lebih dalam, menjelaskan persoalan kepada orang lain, menyampaikan gagasan, melakukan edukasi dan memperjuangkan solusi?

Di sinilah kita membutuhkan keberanian untuk bergerak.

Tidak semua orang harus melakukan hal yang sama.

Seorang dosen dapat berkontribusi melalui pendidikan dan pemikiran. Seorang penulis dapat membuka ruang kesadaran melalui tulisannya. Seorang ibu dapat membangun fondasi keluarga. Seorang aktivis dapat mengorganisasi masyarakat. Siapa pun dapat mengambil bagian sesuai kapasitasnya.

Dan bagi seorang Muslim, salah satu bentuk kontribusi yang tidak boleh dilupakan adalah dakwah.

Dakwah bukan hanya tugas ustaz, ulama, atau orang-orang yang berdiri di atas mimbar. Dakwah adalah kewajiban untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran sesuai kemampuan, ilmu, dan cara yang dibenarkan syariat.

Karena itu, setiap orang sebenarnya dapat mengambil peran.

Tidak harus menunggu menjadi tokoh.

Tidak harus menunggu memiliki panggung besar.

Dakwah bisa dimulai dari lingkungan terdekat. Dari keluarga, ruang kelas, komunitas, lingkungan kerja, tulisan, percakapan, bahkan dari cara kita menunjukkan keteladanan.

Yang penting, kita tidak hanya mengeluhkan keadaan umat, tetapi ikut mengambil bagian dalam membangun kesadaran umat.

Sebab ketika kita memahami bahwa ada persoalan yang harus diperbaiki, kita juga memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran dan mengajak kepada perubahan.

Keresahan tidak cukup hanya dirasakan. Ia harus diubah menjadi kesadaran, kesadaran melahirkan dakwah, dan dakwah mendorong perubahan.

Tetap Tenang Karena Tahu Apa yang Harus Dilakukan

Ada ketenangan yang lahir karena seseorang menyerah.

Tetapi ada pula ketenangan yang lahir karena seseorang memahami posisi dan tanggung jawabnya.

Kita tidak harus panik melihat keadaan.

Kita juga tidak perlu berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Kita cukup memahami fakta.

Mencari akar masalah.

Memahami solusi.

Kemudian bergerak sesuai kemampuan.

Jika hasilnya belum terlihat, kita tetap berusaha. Jika jalan terasa panjang, kita tetap berjalan.

Sebab seorang Muslim memahami bahwa tugas manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.

Mungkin inilah bentuk nafsiyah yang perlu kita bangun di tengah dunia yang semakin bising: pikiran yang kritis, hati yang tenang, dan langkah yang tetap bergerak.

Kita tidak sedang menunggu dunia menjadi baik terlebih dahulu agar kita bisa tenang.

Kita justru perlu tetap tenang agar mampu ikut memperbaiki dunia.

Karena itu, ketika keadaan membuat kepala kita penuh, mungkin kita tidak perlu bertanya, “Bagaimana caranya agar aku tidak peduli?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Bagaimana agar kepedulianku tidak berhenti pada kemarahan?”

Jawabannya: pahami realitasnya, pahami solusinya, kuatkan nafsiyah, berdakwah, lalu bergerak.

Kepala boleh ribut mencari jawaban. Hati tetap tenang karena tahu kepada siapa kita bersandar dan untuk apa kita bergerak.

Tetap waras bukan berarti berdamai dengan kerusakan.

Tetap waras berarti cukup jernih untuk mengenali kerusakan, cukup kuat untuk memahami solusinya, dan cukup istiqamah untuk terus memperjuangkannya.
Bagikan:
KOMENTAR