Mental Rapuh, Potret Kelam Generasi Sekuler


author photo

19 Sep 2026 - 19.30 WIB




Oleh:
Ainal Mardhiah

Penerapan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan terbukti gagal membentuk karakter dan kepribadian Islam yang kuat. Harapan pendidikan dalam sistem ini yang melahirkan generasi berakhlak mulia, bermental tangguh, dan berpikiran jernih justru jauh dari kenyataan. Lemahnya akidah dan mental akibat kurangnya pemahaman agama membuat ketahanan mental sangat rendah. Hal ini juga diperparah oleh kegagalan pilar pendukung yaitu, keruntuhan peran keluarga, sistem pendidikan yang sekuler, serta lingkungan sosial dan negara yang dinilai gagal menyediakan perlindungan serta kontrol moral yang kuat bagi anak muda.

Seorang mahasiswa kedokteran Universitas Brawijaya diduga mencoba bunuh diri dengan cara melompat dari lantai 6 Kampus pada kamis pagi. Kapolsek Lowokwaru Kompol Anang Tri Hananta mengungkapkan bahwa korban melompat dari ketinggian sekitar 25 meter hingga mengakibatkan benturan keras di area parkiran gedung. Korban selamat dan hingga kini masih dalam perawatan intensif dirumah sakit. 

Korban mengalami sejumlah luka dan dalam kondisi stabil. Pihak medis di RS dr. Saiful Anwar (RSSA) Malang telah melakukan operasi terhadap korban.
Dari hasil penyelidikan kepolisian terhadap saksi-saksi, mulai dari rekan kuliah, dosen, hingga pacar korban, terkuak bahwa aksi nekat mahasiswa angkatan 2025 itu dipicu asmara. Korban diketahui terlibat cekcok dengan kekasihnya akibat cemburu setelah tahu sang pacar punya hubungan dengan pria lain. Detiknews (12/09/2026).

Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi mengatakan data kasus bunuh diri yang dihimpun dari kepolisian masih perlu diklarifikasi. Sebab, terdapat perbedaan angka dalam proses rekapitulasi. “Jadi saya harus klarifikasi lagi ke kepolisian apakah angka ini benar," beber Imran, Rabu (9/8/2026).

Meskipun begitu, menurutnya, kasus bunuh diri yang tercatat banyak terjadi pada kelompok usia muda. Sementara itu, secara global, prevalensi bunuh diri justru lebih tinggi pada kelompok lansia. Sejumlah faktor dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap masalah kesehatan jiwa. Salah satunya adalah loneliness atau kesepian. Beliau juga menyebutkan bahwa untuk saat ini loneliness itu juga kills dan wabah, karena banyak sekali orang-orang yang merasa sendirian, terasing, tuturnya. Detikhealth (09/9/2026).

Inilah dampak dari penerapan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga generasi muda kehilangan arah, pegangan hidup dan sandaran spiritual saat menghadapi masalah. Lemahnya akidah dan mental akibat kurangnya pemahaman agama membuat ketahanan mental (mental health) sangat rendah. Hal ini membuat remaja mudah putus asa, bermental rapuh atau "mental stroberi" (terlihat kuat di luar tapi mudah hancur di dalam) saat diterpa tekanan hidup. 

Selain itu, hal yang paling penting lagi yang memperparah kerusakan mental remaja hari ini adalah kegagalan pilar pendukung yaitu, keruntuhan peran keluarga, sistem pendidikan yang sekuler, serta lingkungan sosial dan negara yang dinilai gagal menyediakan perlindungan serta kontrol moral yang kuat bagi anak muda.

Disamping itu juga sistem pendidikan sekuler terbukti gagal membentuk karakter dan kepribadian Islam yang kuat. Harapan agar pendidikan melahirkan generasi berakhlak mulia, bermental tangguh, dan berpikiran jernih justru jauh dari kenyataan. Pendidikan yang bercokol selama puluhan tahun dalam sistem sekuler terbukti hanya menghasilkan individu sekuler, materialistis, hedonistis, rapuh secara psikis, dan jauh dari kemuliaan.

Jadilah kesehatan mental generasi mudah terguncang oleh berbagai persoalan hidup, baik ringan maupun berat. Berbeda dengan sistem Islam, Islam memandang solusi terhadap masalah kesehatan mental haruslah menyeluruh dan sistemis karena ini adalah masalah sistem yang harus diselesaikan secara fundamental.

Dalam pandangan Islam, negara (Khilafah) berfungsi sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (perisai), wajib melayani dan mengurus kepentingan seluruh rakyat. Salah satunya adalah terkait penyelenggaraan pendidikan berbasis akidah Islam. Dengan fondasi akidah, sistem pendidikan diarahkan untuk membentuk syahsiah (kepribadian) Islam sehingga bisa melahirkan generasi dengan akliah (pola pikir) dan nafsiah (pola sikap) sesuai tuntunan syariat.

Tatkala akliah dan nafsiah Islam sudah terbentuk dalam diri seorang muslim, ia diharapkan mampu menjadi prajurit sekaligus pemimpin. Ia dapat memadukan sifat rahmah (kasih sayang) dengan syiddah (ketegasan), hidup sederhana maupun dalam kemewahan, serta memahami kehidupan dengan benar. Ia menguasai dunia sesuai haknya, tetapi tetap berupaya meraih akhirat. Ia tidak akan tunduk pada sifat pencinta dunia, tidak terjebak fanatisme buta, dan tidak menyiksa diri.

Puncak sifatnya adalah sebagai hamba Allah Taala. Ia khusyuk dalam salatnya, menjauhi perkataan yang sia-sia, menunaikan zakat, menjaga pandangan, memegang amanah, menepati janji, berjihad di jalan Allah, dan sebagainya. Itulah sosok muslim sekaligus mukmin, kepribadian Islam yang dibentuk oleh syariat akan menjadikannya manusia sebaik-baik ciptaan.

Dengan pola demikian, generasi terdorong menjadi penyelesai masalah (problem solver) bagi persoalan pribadi maupun masyarakat, bukan malah menjadi sumber masalah (trouble maker) sebagaimana dihasilkan sistem pendidikan sekuler saat ini.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah; pada keduanya sama-sama ada kebaikan. Bersemangatlah untuk hal-hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah tanpa merasa lemah.” (HR Muslim).

Demikianlah konsep negara dalam sistem Islam (Khilafah) dalam menjalankan amanahnya sebagai pengurus rakyat. Tatkala negara menjalankan fungsinya sebagai periayah, kesehatan mental masyarakat akan terjaga dan kebutuhan masyarakat pun terjamin. Wallahualam.
Bagikan:
KOMENTAR