DEWANTARA – Kuman tak punya sayap untuk terbang atau kaki untuk berlari. Namun, mereka punya kendaraan yang selalu tersedia tangan manusia.
Pesan sederhana itu menjadi pintu masuk Health Campaign SATRIA (Siaga Antigen, Tangkas Rawat Imunitas Anak) yang digelar Departemen Pengabdian Masyarakat Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh di SD Negeri 9 Dewantara, Sel (29/9/2026).
Puluhan siswa diajak mengenali bahaya kuman sekaligus belajar membangun pertahanan paling sederhana—mencuci tangan dengan sabun secara benar.
Edukasi sanitasi dan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) diberikan kepada seluruh siswa kelas 1 hingga kelas 6. Sementara itu, sebanyak 30 siswa kelas 2 menjadi sasaran utama dalam rangkaian kegiatan yang lebih intensif, mulai dari penyampaian materi, permainan edukatif, hingga praktik langsung Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS).
Kegiatan diawali dengan tilawah Al-Qur’an oleh Ahmad Zaki. Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan Ketua Pelaksana Ulfia Fitri, Ketua BEM Rafiqi Ahmad Hanafiah Nasution, serta Kepala SDN 9 Dewantara, Nurasmah, S.Pd.
Menanam Kebiasaan Sejak Bangku Sekolah
Anak usia sekolah dasar dipilih bukan tanpa alasan. Pada fase ini, kebiasaan dan karakter mulai terbentuk. Apa yang dilakukan berulang kali berpeluang menjadi perilaku yang terbawa hingga dewasa.
Aktivitas anak yang tinggi juga membuat kontak dengan lingkungan dan orang lain nyaris tak terhindarkan. Belajar, bermain, memegang benda, hingga berinteraksi dengan teman menjadi bagian dari keseharian mereka—sekaligus membuka peluang perpindahan kuman.
Karena itu, membangun kebiasaan mencuci tangan sejak dini menjadi langkah sederhana dalam mencegah penyakit.
Bagi mahasiswa kedokteran, edukasi tersebut merupakan bagian dari upaya promotif dan preventif: mendorong masyarakat menjaga kesehatan sebelum penyakit datang dan membutuhkan pengobatan.
Ketika Kuman Menjadi “Musuh”
Materi edukasi disampaikan dr. Sarah Rahmayani Siregar, M.Biomed, dengan pendekatan yang dekat dengan dunia anak.
Kuman diperkenalkan sebagai “musuh” yang tidak terlihat, sementara para siswa ditempatkan sebagai “pahlawan cilik” yang memiliki tugas memutus rantai penyebarannya.
Dr. Sarah menjelaskan, kuman berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Tangan yang terlihat bersih pun belum tentu terbebas dari kuman.
Kuman dapat berpindah dari berbagai permukaan—seperti gagang pintu dan mainan—ke tangan, kemudian masuk ke tubuh melalui mata, hidung, atau mulut.
Ketika berhasil masuk dan menimbulkan infeksi, anak dapat mengalami berbagai keluhan seperti sakit perut, diare, atau demam. Kondisi tersebut tentu dapat mengganggu aktivitas mereka, termasuk belajar dan bermain.
Kebiasaan sederhana seperti menyentuh mata dengan tangan kotor atau makan tanpa mencuci tangan menjadi salah satu jalur yang memungkinkan kuman masuk ke tubuh.
Karena itu, siswa diajak memutus rantai penularan melalui CTPS.
Empat momen penting ditekankan kepada mereka: sebelum makan, setelah menggunakan toilet, setelah bermain, serta setelah batuk atau bersin.
Bukan Sekadar Membasahi Tangan
Dalam sesi tersebut, siswa juga diperkenalkan pada alasan mengapa mencuci tangan tidak cukup dilakukan dengan membasahinya menggunakan air.
Sabun berperan membantu mengangkat kotoran dan mikroorganisme dari permukaan tangan. Karena itu, proses mencuci tangan harus dilakukan dengan menggosok seluruh permukaan tangan secara menyeluruh.
Enam gerakan kemudian diperagakan kepada siswa, yakni menggosok telapak tangan, punggung tangan, sela-sela jari, mengunci dan menggosok jari-jemari, memutar ibu jari, serta menggosok ujung jari dan kuku secara bergantian.
Pesannya sederhana: tidak ada bagian tangan yang boleh terlewat.
Dr. Sarah juga mengingatkan bahwa kebersihan tangan bukan satu-satunya faktor dalam menjaga kesehatan. Daya tahan tubuh perlu didukung dengan konsumsi makanan bergizi, tidur yang cukup, aktivitas fisik, serta lingkungan yang bersih.
Semua kebiasaan tersebut merupakan bagian dari PHBS.
Belajar, Bermain, Lalu Mempraktikkan
Edukasi SATRIA tidak berhenti pada penyampaian materi. Siswa dibagi dalam kelompok bersama fasilitator untuk membuat paper craft, kemudian mempraktikkan langsung enam langkah CTPS.
Suasana semakin meriah ketika siswa mengikuti sesi roleplay. Mereka aktif menjawab pertanyaan, mengikuti instruksi, dan sesekali melontarkan respons spontan yang mengundang tawa.
Sebelum rangkaian kegiatan berakhir, siswa juga mengikuti post-test sederhana untuk mengukur pemahaman terhadap materi yang diberikan. Tiga siswa dengan hasil pemahaman terbaik kemudian mendapat apresiasi melalui awarding.
Dari praktik tersebut, hasil edukasi mulai terlihat. Siswa mampu menjelaskan kembali manfaat mencuci tangan serta menyebutkan waktu-waktu penting untuk melakukannya. Sementara siswa kelas 2 mampu mempraktikkan langkah CTPS dengan benar.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian hadiah, doa, dan foto bersama.
Dari Pengetahuan Menjadi Kebiasaan
Melalui Health Campaign SATRIA, panitia tidak hanya menargetkan siswa mampu menjawab pertanyaan tentang kebersihan tangan. Lebih jauh, pengetahuan tersebut diharapkan berubah menjadi kebiasaan sehari-hari.
Sebab, menjaga kesehatan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang rumit. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian penting dari upaya menjaga diri dan lingkungan.
Di titik inilah peran orang tua dan guru menjadi penting. Kebiasaan mencuci tangan akan lebih mudah bertahan apabila terus diingatkan, dibiasakan, dan dicontohkan di rumah maupun di sekolah.
Sinergi antara mahasiswa, tenaga pendidik, dan orang tua diharapkan dapat memperkuat budaya hidup bersih dan sehat sejak usia dini—membentuk generasi yang sehat, tangguh, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.(**)