Oleh: Ns. Sarah Ainun, M.Si (pegiat literasi Islam)
Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sedang membawa manusia memasuki babak baru perkembangan teknologi. Dalam hitungan waktu yang relatif singkat, AI tidak lagi sekadar mampu menjawab pertanyaan atau membuat gambar.
Teknologi ini mulai digunakan untuk membantu penelitian, menulis kode, menganalisis data, menemukan obat, membaca risiko keuangan, hingga membantu berbagai proses pengambilan keputusan.
Di bidang kesehatan, misalnya, AI mulai dimanfaatkan untuk mendukung penemuan obat dan analisis berbagai persoalan medis. Di bidang keuangan, AI digunakan untuk menganalisis risiko dan membantu pengambilan keputusan. Artinya, AI memang menawarkan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi dan membantu manusia menyelesaikan berbagai persoalan (Kompas, 05/10/2026).
Namun, di balik optimisme tersebut, muncul kekhawatiran yang tidak bisa dianggap remeh. Para peneliti AI terkemuka bahkan mulai mengingatkan dunia agar bersiap menghadapi apa yang disebut sebagai “ledakan kecerdasan” (intelligence explosion).
Ketika AI Mulai Membantu Membangun AI
Peringatan tersebut muncul dari riset yang melibatkan 22 peneliti AI, di antaranya Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio yang dikenal sebagai tokoh penting dalam perkembangan AI modern. Riset tersebut membahas kemungkinan otomatisasi penelitian dan pengembangan AI memicu percepatan kemampuan AI itu sendiri.
Gambaran sederhananya begini: selama ini manusia membuat AI. Namun, bagaimana jika AI kemudian mampu membantu manusia membuat AI yang lebih canggih, lalu AI yang lebih canggih tersebut kembali membantu membuat generasi AI berikutnya (CNN Indonesia, 30/09/2026).
Terjadi semacam lingkaran percepatan. Dalam riset tersebut, skenario inilah yang disebut sebagai recursive self-improvement atau peningkatan kemampuan melalui otomatisasi penelitian dan pengembangan AI. Kemajuan teknologi yang biasanya membutuhkan bertahun-tahun berpotensi dipadatkan menjadi hitungan bulan atau bahkan lebih cepat.
Para peneliti sendiri menegaskan bahwa skenario tersebut belum pasti terjadi, tetapi perkembangan terkini dinilai mulai mendekati ambang yang perlu diperhatikan. Di sinilah persoalannya menjadi serius.
Sebab, persoalan AI bukan lagi sekadar apakah manusia dapat membuat mesin yang semakin pintar. Pertanyaannya adalah: apakah manusia mampu tetap mengendalikan apa yang telah diciptakannya?
Manfaat Besar, Risiko Juga Membesar
Kemajuan AI tentu tidak layak dipandang hanya dari sisi ancaman. Teknologi ini dapat menjadi sarana untuk memberikan kemaslahatan. Dalam dunia medis, misalnya, AI berpotensi membantu penemuan obat dan pengolahan informasi dalam jumlah besar. Dalam dunia kerja, AI dapat membantu manusia mengerjakan pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang.
Masalahnya, teknologi yang sama juga dapat digunakan untuk tujuan yang merusak. AI dapat membantu manusia mempertahankan keamanan siber, tetapi juga dapat digunakan untuk menyerang sistem keamanan. AI dapat membantu menghasilkan informasi, tetapi juga dapat digunakan untuk menghasilkan manipulasi informasi. AI dapat membantu manusia mengambil keputusan, tetapi jika digunakan tanpa pengawasan yang memadai, keputusan yang salah dapat berdampak luas.
Kekhawatiran tersebut bukan semata-mata teori.
Laporan detikInet pada Oktober 2026, misalnya, mengungkap kekhawatiran mengenai agen-agen AI yang dapat beroperasi secara berkelompok dan mengeksploitasi kelemahan keamanan digital. Dalam sebuah insiden pengujian yang diberitakan, agen AI dilaporkan berhasil keluar dari lingkungan pengujian yang seharusnya terisolasi dan melakukan koordinasi melalui papan pesan.
Para pakar mengingatkan bahwa agen AI dalam jumlah besar berpotensi melakukan serangan secara serentak dan terus-menerus, termasuk mencuri uang, meretas identitas, memanipulasi pasar, serta mengganggu sistem komunikasi dan kelistrikan. Artinya, ancaman AI tidak harus menunggu sampai muncul gambaran fiksi ilmiah tentang robot yang mengambil alih dunia.
Gangguan terhadap kehidupan manusia bisa terjadi jauh lebih sederhana: manipulasi informasi, penipuan, serangan siber, pengambilalihan sistem penting, atau keputusan otomatis yang tidak lagi dapat dipahami manusia.
Lebih mengkhawatirkan lagi, perkembangan teknologi ternyata bergerak lebih cepat dibandingkan kesiapan pemerintah.
Di berbagai negara, pemerintah masih bergulat dengan persoalan bagaimana mengatur AI.
MetroTV, mengutip laporan The New York Times, menyebut perkembangan AI telah menciptakan kesenjangan besar antara kecepatan perkembangan teknologi dan kemampuan pemerintah merumuskan kebijakan. Bahkan aturan yang baru dibuat beberapa tahun lalu dapat tertinggal oleh perkembangan teknologi yang begitu cepat.
Ini menunjukkan sebuah persoalan mendasar: manusia sedang menciptakan teknologi yang kecepatannya mungkin melampaui kemampuan sistem yang dibuat manusia untuk mengawasinya.
Masalahnya Bukan Sekadar Teknologi
Di titik ini, kita perlu melihat persoalan AI lebih dalam. Teknologi pada hakikatnya hanyalah alat. Sebuah pisau dapat digunakan untuk memasak atau melukai. Internet dapat digunakan untuk menuntut ilmu atau menyebarkan kemaksiatan. Begitu pula AI.
Maka, persoalan sebenarnya bukan hanya pada kecanggihan alat, tetapi pada siapa yang menggunakannya, untuk tujuan apa, berdasarkan nilai apa, dan di bawah sistem seperti apa teknologi tersebut dikembangkan serta dikendalikan.
AI tidak berpikir dalam ruang kosong. Ia bekerja dengan data, informasi, instruksi, tujuan, parameter, dan keputusan yang dirancang manusia. Karena itu, arah pengembangan dan pemanfaatannya tidak pernah benar-benar terlepas dari kepentingan manusia yang berada di belakangnya.
Jika AI dikembangkan dalam orientasi bisnis semata, maka efisiensi dan keuntungan dapat menjadi prioritas utama. Jika dikembangkan dalam kompetisi geopolitik, maka AI dapat berubah menjadi instrumen perebutan kekuatan antarnegara. Jika digunakan untuk perang siber atau persenjataan, teknologi yang semula dipandang sebagai inovasi dapat berubah menjadi ancaman.
Hal ini semakin jelas ketika negara-negara besar berlomba menjadi pemimpin AI. Persoalannya bukan hanya siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi siapa yang memiliki kekuatan ekonomi, militer, data, pusat komputasi, dan sumber daya untuk mengendalikan teknologi tersebut. Dalam situasi seperti ini, AI berpotensi menjadi alat yang memperbesar kekuasaan pihak yang sudah kuat.
Karena itu, tidak mengherankan jika para peneliti yang memperingatkan tentang intelligence explosion juga menyoroti risiko berkurangnya pengawasan manusia serta perubahan keseimbangan kekuasaan antara negara, perusahaan, dan lembaga pemerintahan.
Akal Manusia Bukan untuk Menyaingi Allah SWT
Islam memiliki cara pandang yang berbeda dalam melihat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Islam tidak memusuhi ilmu pengetahuan. Justru manusia dimuliakan Allah dengan akal. Dengan akal itu manusia dapat membaca tanda-tanda kekuasaan Allah, mempelajari alam, mengembangkan ilmu pengetahuan, dan mengelola kehidupan di muka bumi. Allah SWT berfirman:
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam...”(QS. Al-Isra’: 70).
Manusia juga diberi amanah sebagai khalifah di muka bumi. Artinya, kemampuan berpikir, menemukan, dan menciptakan teknologi semestinya menjadi sarana untuk menjalankan amanah tersebut, bukan justru menjadi jalan menuju kerusakan.
Karena itu, kecanggihan teknologi tidak otomatis menunjukkan kemajuan peradaban. Teknologi yang semakin canggih tetapi digunakan untuk membunuh manusia, mengeksploitasi manusia, merusak lingkungan, memanipulasi informasi, atau memperkuat dominasi segelintir pihak tidak dapat disebut sebagai kemajuan hakiki.
Kemajuan yang sesungguhnya adalah ketika ilmu dan teknologi semakin mendekatkan manusia kepada kemaslahatan yang benar dan semakin meneguhkan penghambaan kepada Allah SWT. Di sinilah pentingnya membedakan antara madaniyah dan hadarah.
Dalam perspektif Islam, produk teknologi yang bersifat material pada dasarnya dapat dipelajari dan dimanfaatkan selama tidak bertentangan dengan syariat.
AI sebagai teknologi dapat ditempatkan dalam wilayah madaniyah. Namun, ketika teknologi tersebut digunakan untuk membawa nilai, tujuan, atau pandangan hidup tertentu, persoalannya tidak lagi sekadar teknis.
AI yang digunakan untuk membantu diagnosis penyakit tentu berbeda dengan AI yang digunakan untuk memanipulasi masyarakat. AI yang membantu pendidikan berbeda dengan AI yang digunakan untuk menyebarkan pornografi.
AI yang membantu menemukan obat berbeda dengan AI yang dikembangkan untuk memperkuat mesin perang.
Teknologinya mungkin sama-sama AI. Tetapi tujuan, penggunaan, dan nilai yang mengarahkannya berbeda. Karena itu, Islam tidak menuntut manusia meninggalkan teknologi. Islam justru menuntut manusia menempatkan teknologi di bawah aturan yang benar.
Ketika Akal Tidak Lagi Memiliki Kompas
Masalah besar manusia modern bukan kekurangan kecerdasan. Justru manusia memiliki kecerdasan luar biasa. Persoalannya adalah kecerdasan tanpa kompas nilai.
Manusia mampu menciptakan senjata yang sangat canggih, tetapi belum tentu mampu mengendalikan keserakahan yang mendorong penggunaannya. Manusia mampu menciptakan algoritma yang mampu memproses miliaran data, tetapi belum tentu mampu memastikan data tersebut digunakan untuk keadilan.
Manusia mampu menciptakan AI yang semakin menyerupai kemampuan berpikir manusia, tetapi belum tentu mampu menjawab pertanyaan paling mendasar: untuk apa semua kecanggihan itu digunakan?
Inilah kekhawatiran yang semestinya lebih besar.
Sebab, jika kecerdasan buatan berkembang tanpa kendali, sementara manusia sendiri tidak memiliki standar benar dan salah yang bersumber dari wahyu, maka kecanggihan teknologi dapat berubah menjadi kecanggihan dalam menciptakan kerusakan.
Hari ini manusia khawatir AI akan kehilangan kendali. Tetapi sebenarnya ada pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana jika manusia sendiri kehilangan kendali atas dirinya karena dikendalikan oleh kepentingan materi, kekuasaan, dan keuntungan? AI hanya akan menjadi cermin dari sistem yang mengembangkannya.
Syariat sebagai Kompas Teknologi
Islam memberikan standar yang jelas: halal dan haram. Teknologi tidak boleh dibiarkan berkembang hanya mengikuti logika pasar, keuntungan, atau perlombaan kekuasaan. Negara memiliki tanggung jawab memastikan teknologi digunakan untuk kemaslahatan rakyat dan tidak menjadi alat yang membahayakan kehidupan manusia.
Dalam konteks AI, negara tidak cukup hanya menjadi “pemadam kebakaran” ketika teknologi sudah menimbulkan masalah. Negara harus hadir sejak tahap pengembangan, penggunaan, pengawasan, hingga penindakan terhadap penyalahgunaan.
Apalagi ketika pemerintah sendiri di berbagai negara mengakui adanya kesenjangan antara perkembangan AI dan kesiapan regulasi. Uni Eropa, misalnya, telah memiliki AI Act, tetapi implementasinya menghadapi persoalan sumber daya, perkembangan teknologi yang cepat, dan kebutuhan untuk terus menyesuaikan aturan.
Ini memperlihatkan keterbatasan pendekatan regulasi yang hanya berusaha mengejar teknologi setelah teknologi berkembang. Islam menawarkan fondasi yang berbeda. Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tetap dapat berlangsung. Manusia tetap boleh berinovasi. Namun seluruh aktivitas tersebut harus berada dalam koridor hukum syariat.
Teknologi digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, menjaga jiwa, menjaga akal, menjaga harta, menjaga keturunan, dan menjaga kehidupan masyarakat. Negara bertugas memastikan teknologi tidak menjadi sarana kemaksiatan, kezaliman, eksploitasi, atau kehancuran.
Dengan demikian, persoalannya bukan AI atau tidak AI. Persoalannya adalah AI untuk apa dan berada di bawah kendali siapa?
Jika AI berada di tangan manusia yang memiliki ketundukan kepada Allah dan terikat dengan syariat, kecanggihan tersebut dapat diarahkan menjadi sarana kemaslahatan. Sebaliknya, jika teknologi yang sama berada dalam sistem yang menjadikan keuntungan, kekuasaan, dan persaingan sebagai orientasi utama, maka semakin canggih teknologinya, semakin besar pula potensi kerusakan yang dapat ditimbulkannya.
Jangan Takut pada Teknologi, Takutlah pada Arah Peradaban
Karena itu, peringatan para ilmuwan tentang intelligence explosion seharusnya tidak hanya dibaca sebagai berita teknologi. Ia adalah alarm bagi manusia. Alarm bahwa kemampuan menciptakan teknologi berkembang sangat cepat. Alarm bahwa pengawasan manusia dapat tertinggal. Alarm bahwa negara dan masyarakat belum tentu siap menghadapi konsekuensinya. Dan yang paling penting, alarm bahwa kemajuan teknologi tanpa landasan nilai yang benar dapat menjadi bumerang bagi manusia sendiri.
AI boleh semakin cerdas. Tetapi manusia harus tetap tahu untuk apa kecerdasan itu digunakan.
AI boleh membantu manusia menemukan obat, mengolah data, menyelesaikan pekerjaan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun AI tidak boleh menjadi alat untuk merusak kehormatan manusia, menzalimi rakyat, memperkuat penjajahan, memanipulasi informasi, atau menciptakan kehancuran.
Sebab teknologi hanyalah alat. Yang menentukan apakah ia menjadi rahmat atau bencana adalah ide, tujuan, dan sistem yang mengendalikannya.
Maka, tantangan terbesar umat manusia di era AI bukanlah menciptakan mesin yang lebih cerdas daripada manusia. Tantangan terbesarnya adalah memastikan manusia yang menciptakan dan mengendalikan mesin tersebut tetap tunduk kepada Allah SWT.
Sebab ketika kecerdasan berkembang tanpa batas, tetapi akidah dan syariat disingkirkan dari kehidupan, manusia mungkin berhasil menciptakan mesin yang semakin pintar—namun justru semakin kehilangan arah.
Dan ketika kecanggihan teknologi tidak lagi disertai ketundukan kepada Sang Pencipta, bukan mustahil apa yang awalnya diciptakan untuk memudahkan kehidupan justru berubah menjadi jalan menuju kehancuran kehidupan itu sendiri.
Maka, yang dibutuhkan manusia bukan sekadar teknologi yang semakin canggih, tetapi sistem kehidupan yang mampu memastikan kecanggihan itu tetap berada di jalan yang benar yaitu sistem Islam yang mengatur seluruh aspek kehidupan dengan syariat. Ilmu pengetahuan dan teknologi boleh terus berkembang, termasuk AI, tetapi arah, tujuan, dan penggunaannya tidak boleh dilepaskan dari standar halal dan haram.
Islam hadir dengan syariat sebagai kompas sekaligus pengendali, agar teknologi menjadi sarana kemaslahatan, bukan jalan menuju kehancuran. Sebab, ketika manusia mampu menciptakan kecerdasan yang semakin tinggi tetapi menyingkirkan aturan Allah, yang terancam bukan hanya kendali atas teknologi, melainkan keselamatan kehidupan manusia itu sendiri.