Oleh: Eva Herlina, S.T., M.T.
Ada sesuatu yang menarik dari kehidupan perempuan hari ini. Kesempatan untuk belajar, bekerja, berkarya, dan mengambil peran di ruang publik semakin terbuka. Perempuan dapat meraih pendidikan tinggi, membangun karier, memperoleh penghasilan sendiri, dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Semua itu merupakan perkembangan yang patut dihargai.
Namun, di tengah berbagai kesempatan tersebut, ada pertanyaan yang layak diajukan: apakah kehidupan perempuan benar-benar menjadi lebih lapang, atau justru semakin dipenuhi tuntutan?
Perempuan didorong untuk berpendidikan tinggi, mandiri secara ekonomi, berpenampilan menarik, memiliki keluarga yang harmonis, mendampingi tumbuh kembang anak, menjaga hubungan sosial, dan tetap mampu mengurus rumah dengan baik. Setiap peran seolah memiliki standar keberhasilannya sendiri. Ketika satu standar terpenuhi, standar lain sudah menunggu untuk dikejar.
Media sosial ikut memperkuat keadaan ini. Kehidupan yang ditampilkan sering kali tampak tertata: rumah bersih, makanan tersaji, tubuh terawat, anak-anak berprestasi, karier berkembang, dan keluarga terlihat bahagia. Apa yang jarang terlihat adalah waktu, tenaga, biaya, serta berbagai pengorbanan di balik semua itu. Perempuan akhirnya bukan hanya menjalani kehidupan, tetapi juga berhadapan dengan tuntutan untuk membuat kehidupannya tampak berhasil.
Di sinilah persoalannya mulai terasa. Standar kehidupan yang terus meningkat dapat membuat seseorang sulit merasa cukup. Rumah yang sederhana dianggap kurang layak, penampilan perlu terus diperbarui, dan keberhasilan seolah harus selalu terlihat. Pasar kemudian menawarkan berbagai jalan untuk memenuhi standar tersebut. Produk kecantikan, perlengkapan rumah, layanan pendidikan, hingga berbagai layanan praktis hadir dengan janji kehidupan yang lebih baik.
Tidak semua kebutuhan itu semu. Banyak di antaranya memang bermanfaat. Namun, persoalan muncul ketika rasa cukup semakin sulit ditemukan tanpa mengikuti standar yang terus berubah. Kehidupan yang seharusnya dijalani perlahan berubah menjadi sesuatu yang terus dikejar dan diperbaiki.
Rumah menjadi salah satu tempat paling nyata untuk melihat persoalan ini. Rumah semestinya menjadi tempat seseorang kembali setelah menjalani berbagai urusan di luar. Di dalamnya, manusia berharap menemukan ketenteraman, kedekatan, dan ruang untuk menjadi dirinya sendiri. Akan tetapi, rumah juga dapat berubah menjadi tempat tuntutan berlanjut tanpa jeda.
Bagi banyak perempuan, pekerjaan di luar rumah tidak selalu mengakhiri tanggung jawab ketika jam kerja selesai. Masih ada urusan makanan, kebersihan, anak, kebutuhan keluarga, dan berbagai hal kecil yang tidak selalu tampak sebagai pekerjaan, tetapi tetap membutuhkan waktu dan tenaga. Perempuan yang tidak bekerja di luar rumah pun tidak otomatis terbebas dari tuntutan. Mereka dapat menghadapi tekanan berbeda, mulai dari pengelolaan rumah tangga hingga penilaian sosial tentang bagaimana seorang istri dan ibu seharusnya menjalankan perannya.
Masalahnya bukan semata-mata banyaknya pekerjaan. Yang lebih mendasar adalah ketika berbagai tuntutan itu datang dari banyak arah, sementara ruang bagi perempuan untuk beristirahat, berpikir, bertumbuh, dan menikmati kehidupannya sendiri semakin sempit. Bahkan, rumah yang telah diurus dengan sungguh-sungguh pun belum tentu membuat perempuan merasa tenang jika selalu ada standar baru yang harus dipenuhi.
Rumah yang semestinya menjadi tempat menemukan ketenteraman justru perlahan kehilangan maknanya ketika perempuan terus dibebani tuntutan dari berbagai arah.
Keadaan ini tidak cukup dijelaskan sebagai persoalan kemampuan perempuan mengatur waktu. Nasihat agar perempuan lebih pandai membagi jadwal, lebih sabar, atau lebih cermat mengelola pengeluaran mungkin berguna dalam keadaan tertentu. Namun, nasihat semacam itu tidak menyentuh persoalan ketika tuntutan yang harus dipenuhi memang terlalu banyak, standar keberhasilan terus meningkat, dan tanggung jawab keluarga tidak terbagi secara adil.
Di sinilah sistem kehidupan perlu diperiksa. Dalam masyarakat yang sangat dipengaruhi orientasi pasar, keberhasilan mudah diukur melalui pendapatan, kepemilikan, penampilan, dan kemampuan memenuhi berbagai standar konsumsi. Waktu dan tenaga manusia pun kerap dinilai berdasarkan produktivitasnya. Akibatnya, kegiatan yang tidak menghasilkan uang secara langsung—seperti merawat anak, mendampingi anggota keluarga, dan menjaga kehidupan rumah tangga—mudah dianggap sebagai urusan pribadi yang tidak perlu diperhitungkan secara serius.
Padahal, kehidupan masyarakat tidak mungkin berjalan tanpa pekerjaan-pekerjaan tersebut. Keluarga membutuhkan perawatan, anak-anak membutuhkan pendampingan, dan manusia membutuhkan hubungan yang tidak semata-mata dibangun berdasarkan manfaat ekonomi. Ketika semua itu dianggap sebagai tanggung jawab pribadi tanpa dukungan dan pembagian yang layak, beban akhirnya dapat menumpuk pada perempuan.
Namun, persoalan ini tidak berarti bahwa perempuan harus menjauh dari pendidikan, pekerjaan, atau ruang publik agar rumah kembali tenteram. Perempuan memiliki kemampuan, potensi, dan hak untuk berperan dalam kehidupan masyarakat. Persoalannya justru terletak pada standar kehidupan yang memaksakan terlalu banyak tuntutan, serta cara tanggung jawab keluarga dan sosial dibagi dan dipahami.
Islam menawarkan pandangan yang berbeda tentang kehidupan dan rumah. Dalam Al-Qur’an, Allah menyebut rumah sebagai tempat untuk memperoleh ketenangan dalam QS. An-Nahl ayat 80. Dalam QS. Ar-Rum ayat 21, ketenteraman, kasih sayang, dan rahmat menjadi bagian penting dari kehidupan pasangan. Sementara itu, QS. An-Nisa ayat 19 memerintahkan agar perempuan diperlakukan dengan cara yang patut (ma‘ruf).
Nilai-nilai ini tidak semestinya berhenti sebagai nasihat agar perempuan lebih sabar menjalankan tanggung jawabnya. Ia juga menjadi ukuran untuk menilai kehidupan keluarga: apakah hubungan di dalamnya dibangun dengan kasih sayang, apakah tanggung jawab dijalankan secara patut, dan apakah rumah benar-benar memberi ruang bagi ketenteraman para penghuninya.
Tentu, tidak setiap rumah otomatis menjadi tempat yang aman. Ada perempuan yang menghadapi kekerasan, pengabaian, atau hubungan yang menyakitkan. Karena itu, makna ketenteraman tidak boleh digunakan untuk membenarkan penderitaan atau memaksa perempuan bertahan dalam keadaan yang membahayakan dirinya. Rumah yang membawa ketenangan harus dibangun melalui perlakuan yang baik, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama anggota keluarga.
Lebih jauh, pandangan Islam tentang kehidupan tidak menempatkan kemuliaan manusia semata-mata pada apa yang dimiliki atau ditampilkan. Kehidupan bukan perlombaan tanpa akhir untuk memenuhi ukuran keberhasilan yang terus berubah. Kebutuhan perlu dipenuhi, tanggung jawab harus dijalankan, dan usaha untuk memperbaiki keadaan tetap penting. Namun, semuanya perlu berada dalam ukuran yang benar, bukan berubah menjadi tuntutan yang menghabiskan tenaga dan menghilangkan ketenteraman.
Karena itu, pembicaraan tentang perempuan dan rumah tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan apakah perempuan mampu menjalankan semua perannya. Kita juga perlu mempertanyakan mengapa begitu banyak standar harus dipenuhi, siapa yang menentukan standar tersebut, dan mengapa perempuan kerap menanggung begitu banyak tuntutan sekaligus.
Rumah tidak kehilangan maknanya hanya karena lantainya belum bersih, makanannya sederhana, atau penghuninya belum memenuhi gambaran keluarga ideal di media sosial. Rumah kehilangan maknanya ketika orang-orang di dalamnya tidak lagi memiliki ruang untuk merasa tenang; ketika hubungan berubah menjadi daftar kewajiban, dan ketika perempuan terus dituntut memenuhi harapan dari berbagai arah tanpa cukup ruang untuk memulihkan dirinya.
Barangkali, yang perlu kita pikirkan kembali bukan sekadar bagaimana perempuan dapat menjalani lebih banyak peran dengan lebih baik. Kita perlu menilai kembali standar kehidupan yang selama ini dikejar dan cara keluarga membangun kehidupannya. Sebab rumah seharusnya bukan tempat perempuan meneruskan perlombaan yang melelahkan, melainkan tempat manusia menemukan ketenteraman di tengah kehidupan yang terus bergerak.