Yuyun Novia, S.Th.I
Ada sesuatu yang jauh lebih menyedihkan dari sekadar hutan yang terbakar: ribuan manusia kehilangan nyawa, sementara kabarnya nyaris tak terdengar di ruang pemberitaan kita.
Laporan Al Jazeera mengungkap estimasi 3.560 kematian akibat paparan asap karhutla di Indonesia sepanjang September 2026, merujuk penelitian Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA). Ironisnya, saya justru baru mengetahui tragedi sebesar ini setelah membaca media asing. Ke mana suara media nasional? Mengapa kematian ribuan rakyat sendiri tidak menjadi perhatian luas?
Ini bukan angka statistik belaka. Ada keluarga yang kehilangan orang tercinta, anak-anak yang menghirup racun bersama udara, dan orang-orang yang perlahan kehilangan kesehatan tanpa pernah memilih untuk hidup dalam kepungan asap.
Betapa menyedihkan ketika bencana sebesar ini seolah bisa tenggelam dalam sunyi. Hutan terbakar, udara beracun, manusia meregang nyawa, tetapi perhatian publik tak sebanding dengan besarnya tragedi.
Islam memandang alam sebagai amanah, bukan komoditas yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Negara wajib mengelola hutan dan sumber daya alam untuk kemaslahatan rakyat, mencegah kerusakan, serta menindak tegas siapa pun yang bertanggung jawab. Dalam sistem Islam, kekuasaan adalah amanah untuk melindungi kehidupan. Bukan sekadar menghitung kerugian ekonomi setelah nyawa manusia telanjur hilang.