Hari Santri: Mewujudkan Indonesia Emas, Meluruskan Peran Santri dalam Mengisi Kemerdekaan


author photo

6 Nov 2026 - 16.49 WIB



(Elsa Avrilia Putriani, Aktivis Muslimah BMIC)

Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para santri dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, sekaligus mengingatkan pentingnya peran santri dalam membangun masa depan bangsa. Pertumbuhan generasi akan sangat memengaruhi kemajuan bangsa di masa mendatang. Melahirkan generasi emas bukan hanya tentang menciptakan generasi yang cinta tanah air, tetapi juga generasi yang memiliki pemahaman moral dan agama yang benar.

Baru-baru ini, untuk pertama kalinya Kota Balikpapan mencatat sejarah baru dalam memperingati hari Santri Nasional. Sebuah perkemahan santri digelar dengan melibatkan 300 santri dari 16 pondok pesantren dari 33 pesantren di Balikpapan. Kegiatan tersebut berlangsung selama 3 hari di Balikpapan Islamic Center. Acara resmi dibuka pada 16 Oktober 2026 dan puncaknya diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Masrivani, S. Ag., M.H selaku Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan membuka langsung perkemahan santri tersebut dan menekankan bahwa kegiatan tersebut adalah momen penting dalam rangkaian peringatan hari Santri Nasional. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya sekedar ajang berkumpul, namun juga sebagai sarana untuk menginspirasi masyarakat di tengah isu-isu negatif yang memperburuk citra pesantren (Kaltimpost.id, 06/10/26). 

Jika ditelaah secara mendalam, berbagai kasus yang terjadi di pesantren bukan hanya satu atau dua kasus, melainkan berbagai kasus yang memperburuk citra pesantren. Bahkan kasus yang terjadi bukan hanya melibatkan para santri, namun juga pihak-pihak lain di dalam pesantren. Di luar itupun masih banyak berbagai permasalahan yang menyelimuti dunia hari ini. Permasalahan yang terjadi hari ini seperti yang telah disampaikan, diantaranya kebodohan, kemiskinan, korupsi, ketidakadilan, kesenjangan, perpecahan, kerusakan lingkungan, penyalahgunaan teknologi, dan krisis keteladanan, bukan sekedar masalah individual tapi sudah menggejala. Itu artinya disebabkan oleh sistem penerapan aturan yang salah, yaitu penerapan sekulerisme.  

Di sisi lain, santri dipahamkan akan agama Islam, ketika keluar dari pesantren mereka berada dalam sistem kehidupan sekuler, terjebak dalam pergaulan sekuler, ekonomi kapitalis, dan lain-lain. Bagaimana mungkin santri mampu mewujudkan Indonesia emas? Sementara Indonesia emas yang diharapkan adalah negeri yang kuat, di mana negeri yang kuat adalah negeri yang orang lemahnya tidak ketinggalan, negeri yang kuat adalah negeri yang kekuasaan dijalankan sebagai amanah, negeri yang kuat adalah negeri yang kemajuan dan kemakmuran dirasakan oleh sebanyak-banyaknya rakyat. Bukan hanya dirasakan pada segelintir pejabat baik swasta maupun negeri.

Saat ini santri dihadapkan pada sejumlah masalah dan beragam tantangan masa depan. Diantaranya identitas hakiki santri melalui penderasan moderasi beragama hingga nasionalisme sehingga mendegradasi peran strategis pesantren sebagai lumbung calon ulama masa depan. Hari Santri Nasional yang diperingati setiap tahun seharusnya menjadi momen melakukan perbaikan dan perubahan kualitas santri. Sayangnya, belum memberikan perubahan signifikan untuk perubahan negeri dan memperbaiki generasi.

Padahal, pesantren adalah institusi pendidikan yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengasah karakter santri untuk menjadi insan yang bermanfaat bagi masyarakat. Pendidikan yang diterapkan di pesantren seharusnya seimbang antara penguasaan ilmu agama dan keterampilan teknologi. Sebagaimana di masa kejayaan Islam ulama sekaligus pelopor cendikiawan.

Penetapan Hari Santri Nasional berawal dari resolusi jihad yang dikeluarkan ulama pada 22 Oktober 1945 dan peran para santri dalam memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan dari tangan penjajah. Artinya di sana semangat jihad karena Allah bukan nasionalisme. Santri harus memiliki mental pembelajar sekaligus pejuang karena akidah Islam menuntut perjuangan dan pengorbanan. Begitulah teladan Rasulullah dan salafus shaleh. Sunatullah pengemban kebenaran akan berhadapan dengan kebatilan dan keberkahan suatu negeri hanya bisa dirasakan jika penerapan syariat Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Islamiah. Di sanalah peran santri seharusnya mewujudkannya.
Bagikan:
KOMENTAR