Oleh: Rizka Andriani, S.S(Penggiat Sejarah Islam)
Pohon Zaitun senantiasa identik dengan penduduk Palestina. Ian melekat erat dengan penduduk negeri ini sejak zaman perunggu atau sekitar tahun 3300 SM. Akarnya yang tumbuh menghujam ke dalam merupakan simbol ikatan psikologis antara warga Palestina dengan tanah kelahiran mereka. Tercatat luas perkebunan Zaitun sekitar 48% hingga 57% dari total seluruh lahan pertanian atau sekitar 730.000 hingga 750. 000 dalam (1 dunam setara dengan 1.000 meter persegi) dari toat 900.000 dunam lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut.
Secara perekonomian, pertanian zaitun menjadi penghasilan utama bagi warga palestina. Tercatat sekitar 90.000 lebih keluarga Palestina menggantungkan hidupnya dari pertanian zaitun. Kontribusi ekonomi buah zaitun, menyumbang sekitar 8% dari produk domestic bruto (PDB) palestina dan menyediakan lebih dari 60.000 lapangan pekerjaan. Selain dikonsumsi buah segar, sebagian besar buah zaitun diolah menjadi minyak zaitun serta bahan baku sabun tradisional yang terkenal, seperti yang diproduksi di kota Nablus.
Sejak Oktober 2023. Diperkirakan sekitar lebih kurang 2 juta pohon zaitun di wilayah Gaza hancur akibat konflik yang terjadi antara Palestina dan Israel. Produksi zaitun dan hasil produksi turunannya berupa minyak zaitun merosot hingga jutaan ton. Menjelang panen zaitun pada bulan Oktober ini, buldoser Israel telah meratakan pohon zaitun hingga mencapai 31 dunam. Hal ini menyebabkan lebih dari 400 pohon zaitun hancur hanya beberapa hari sebelum masa panen tiba. Kerusakan yang terjadi tersebut membuat petani Palestina yang seharusnya mereka bersuka cita menyambut musim panen, kini berubah menjadi tangis sedih melihat kerusakan dan kerugian yang dialami kebun zaitun mereka akibat ulah tentara Israel.
Serangan terhadap perkebunan zaitun milik warga Palestina sudah berlangsung sejak lama. Hanya saja sejak tahun 2026 serangan Israel terhadap perkebunan tersebut semakin massif dilakukan. Terlebih serangan itu dilakukan saat petani bersiap melakukan panen zaitun, yang secara tradisional mulai dilakukan pada awal bulan oktober ini.
Kalangan aktivis dan petani zaitun, telah memperingatkan bahwa hasil panen zaitun yang akan mereka lakukan akan mengalami fluktuatif mengingat semakin banyaknya lahan perkebunan zaitun yang dibombardir oleh Israel. Bahkan di awal musim panen telah terjadi sekitar 200 serangan yang dilakukan oleh penjajah Israel yang didukun oleh tentara IDF, sehingga menyebabkan seorang penduduk Palestina tewas, 120 warga Palestina mengalami luka-luka dan sebagian besar pohon zaitun yang siap panen rusak.
Tak hanya lahan pertanian dan warga Palestina yang diserang, para jurnalis, aktivis, politikus dalam dan luar negeri juga mendapatkan serangan. Peristiwa ini membuat sekretaris luar negeri AS (Marco Rubio) dan duta besar AS untuk Israel (Mike Huckabee) turun tangan dan meminta Israel menyelidiki atas peristiwa yang menyerang jurnalis dan diplomat Eropa.
Peristiwa penyerangan terhadap diplomat Eropa dan para petani zaitun mendapatkan kecaman keras dari European Union. Namun, yang terjadi hanya sekedar kecaman yang tak berujung kepada tindakan nyata. Sama seperti kecaman-kecaman yang terjadi sebelumnya. Dan Israel tetap melakukan serangan dan pembunuhan terhadap pihak yang dianggap berseberangan dengan kepentingan nasional mereka.
Kebrutalan Israel terhadap tanah Palestina memiliki tujuan yang tetap. Mereka berupaya merusak mata pencaharian dan ekonomi warga Palestina sehingga memaksa warga Palestina untuk pergi meninggalkan tanah Palestina. Dengan demikian ambisi mereka untuk menguasai Palestina terpenuhi dengan perginya warga asli negeri tersebut.
Adapun tujuan mereka melakukan penyerangan terhadap jurnalis dan aktivis adalah upaya Israel untuk menghentikan keberpihakan para jurnalis dan aktivis kepada petani Palestina. Selain itu pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap jurnalis untuk membungkam kejahatan kemanusian yang mereka lakukan terhadap masyarakat dunia sehingga tidak terekspos ke dunia internasional. Kepedulian AS terhadap penyerangan tersebut dikarenakan ada warga AS dan diplomat Eropa yang menjadi sasaran tembak tentara Israel. Namun, kecaman yang dilayangkan oleh Eropa hanya sekedar kecaman yang tak memiliki arti apapun bagio penyerangan tersebut. Kebrutalan dan kebengisan Israel tetap menjadi tontonan yang mengerikan di dunia internasional.
Kebrutalan Israel terhadap warga Palestina telah mengundang banyak kecaman dan kutukan serta kebencian masyarakat dunia. Namun, kebencian dan kemarahan tersebut tak memberikan perubahan yang berarti bagi warga palestina. Warga negara itu masih saja hidup dalam bayang-bayangan serangan brutal tentara Israel. Bahkan penguasa muslim ,di wilayah Arab yang merupakan tetangga Palestina hanya berdiam diri dan telah menjadi kaki tangan AS dan Israel.
Sejatinya tanah Palestina adalah tanah kaum muslimin yang terberkati. Tanah ini memiliki posisi penting dan istimewa dalam Islam dan harus dipertahankan sampai kapan pun. Di tanah tersebut menjadi kiblat pertama kaum muslimin dan tempat mi’rajnya Nabi Shalallahu alaihi wassalam. Kondisi palestina saat ini menunjukkan bahwa kaum muslimin tak bisa hanya sekedar menggantungkan nasibnya kepada lembaga global dan internasional. Dunia dan lembaga internasional hari ini tak akan pernah memihak kepada kondisi tragis kaum muslimin,m termasuk kondisi Palestina yang senantiasa di bawah jajahan Israel.
Untuk menyelesaikan persoalan Palestina, maka dibutuhkan sebuah kesatuan umat yang berada di bawah institusi Khilafah yang akan menyerukan jihad untuk membebaskan Palestina dari penjajahan zionis Israel. Institusi khilafah ini yang akan berpegang teguh kepada Quran dan Sunnah serta melanjutkan kehidupan Islam di tengah-tengah kehidupan kaum Muslimin dan masyarakat dunia. Institusi ini juga menjadi satu-satunya cara untuk menghentikan kezaliman yang dilakukan Israel, AS dan para sekutunya dengan mengirimkan tentara-tentara kaum muslimin di bawah kepemimpinan khilafah.