Karhutla Mengancam Generasi Emas


author photo

3 Nov 2026 - 19.04 WIB



Oleh : Khairunnisak S.Pd

Karhutla (Kebakaran Hutan dan Lahan) yang belum juga terlihat usai mengakibatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) terus meningkat. 
Data Kementerian kesehatan per 17/10/2026, terdapat 311.363 kasus, diantaranya balita (anak <5 tahun) mendominasi dengan 70.239 (22,6%) kasus ISPA di 65 kabupaten kota di 7 provinsi terdampak, yaitu : Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Dari jumlah tersebut, balita usia 0-5 tahun yang terdampak mencapai 62.400 kasus atau 22,5%. Kemenkes sudah mengerahkan 2.106 SDMK, mendistribusikan jutaan logistik medis ke wilayah terdampak karhutla. (Kompas.com, 22/10/2026).

Anak menjadi korban dari kelalaian negara dalam menangani karhutla. Anak sangat rentan dikarenakan saluran pernapasannya masih masa pertumbuhan, laju pernapasannya lebih cepat dibandingkan orang dewasa sehingga lebih banyak menghirup udara beracun persatuan berat badan dan sistem kekebalan tubuh balita belum matang. 

Kahutlah terus berulang upaya yang dilakukan negara belum cukup untuk mengatasi bencana yang sudah terjadi berbulan-bulan. Kahutla dapat membahayakan tumbuh kembang anak dan terganggunya paru-paru merupakan organ vital yang berisiko panjang. 

Menikmati udara bersih harusnya menjadi hak bagi semua rakyat. Begitu juga dengan anak-anak yang harusnya menghirup udara bersih, namun malah menghirup asap beracun mengakibatkan resiko kesehatan yang lebih besar bagi mereka dibandingkan orang dewasa. Sungguh ironi anak-anak yang digadang-gadang sebagai generasi emas malah tidak mendapatkan keseriusan negara untuk melindungi generasi. Pemerintah mengarahkan bantuan logistik, masker, layanan kesehatan, penanganan ISPA, operasi pemadaman dan pengawasan. Tetapi hal ini belum sepenuhnya mampu menjawab akar dari masalah ini. Maka negara hadir bukan hanya menghitung jumlah korban dan memberikan bantuan kepada mereka, tetapi juga harus mengetahui di balik penyebab kahutla ini dan mencari solusi hingga ke akar masalah. 

Dalam pandangan Islam pemimpin bukan sekedar jabatan duniawi, melainkan sebuah amanah besar yang akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT. Maka pemimpin (khalifah) tidak berani untuk mengabaikan rakyatnya, apalagi karhutla yang dibiarkan terus-menerus terjadi. Ini tidak akan di dapati dalam sistem Islam. 

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
"Sesungguhnya al-imam (khalifah/pemimpin) itu adalah perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung dengannya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam negara khilafah pemimpin sebagai Junnah (pelindung) dan ra'in (pengelola) akan mengupayakan segala macam cara untuk mengatasinya, termasuk melakukan kebijakan yang melindungi jiwa bukan hanya untuk keuntungan ekonomi. 

Negara wajib mengambil langkah yang serius untuk mencegah karhutla, memberikan sanksi yang tegas kepada pelakunya. Terkait anggaran kesehatan mulai dari tenaga medis, obat-obatan, oksigen, fasilitas kesehatan serta teknologi terbaik untuk pernapasan. Akan diambil dari Baitul mal. Di mana Baitul mal sebagai sumber pembiayaan kebutuhan publik. Serta negara melakukan edukasi kesehatan dan mitigasi terbaik untuk menyelamatkan generasi.
Bagikan:
KOMENTAR