PIDIE JAYA — Bencana hidrometeorologi yang menerpa Kabupaten Pidie Jaya tidak hanya meninggalkan luka pada sektor fisik dan infrastruktur, tetapi juga mengancam eksistensi warisan peradaban leluhur Aceh. Di tengah tantangan pemulihan pascabencana yang kompleks, Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, MA, S.Sos., ME, menunjukkan kepemimpinan visioner dan dedikasi luar biasa. Beliau menegaskan bahwa kebangkitan sebuah daerah pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun infrastruktur fisik, melainkan juga harus menyelamatkan identitas dan memori kolektif masyarakatnya.
Langkah nyata ini diwujudkan melalui penerimaan kunjungan kerja Plt. Sekretaris Jenderal Kementerian Kebudayaan RI, Prof. Bambang Wibawarta, M.A., beserta jajaran—termasuk Staf Khusus Menteri Bidang Media dan Komunikasi Publik, Muhammad Asrian Mirza, dan Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik, Ridwan—pada Senin, 2 November 2026. Konsolidasi dalam rangka Program Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRRP) Bidang Kebudayaan Tahun Anggaran 2026 ini dimanfaatkan Bupati untuk mengibarkan komitmen kuat penyelamatan budaya daerah.
Edukasi Sejarah: Menyelamatkan Warisan Abad ke-17 di Dayah Kruet
Dalam peninjauan lapangan yang turut didampingi oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Pidie Jaya, Dr. Munawar Ibrahim, S.Kp., M.PH., serta para kepala SKPK, rombongan meninjau langsung sejumlah situs vital, salah satunya Masjid Madinah di Gampong Dayah Kruet, Kecamatan Meurah Dua.
Masjid bersejarah yang diperkirakan berdiri sejak tahun 1623 oleh Teungku Japakeh usai kepulangannya dari pertempuran melawan Portugis di Selat Malaka ini menyimpan nilai arsitektur dan historis yang tinggi. Mulai dari keunikan motif ornamen pada ambang pintu hingga mimbar berhias kaligrafi yang konon berasal dari Madinah, menjadi saksi bisu kejayaan Islam di Tanah Rencong.
Banjir bandang yang membawa endapan lumpur hingga setinggi satu meter serta material kayu gelondongan sempat mengancam kelestarian situs ini. Dengan sigap, Bupati menilai bahwa penanganan tidak boleh ditunda demi mencegah kerusakan permanen akibat lumpur yang mengeras. Pendekatan tanggap darurat yang dipadukan dengan kaidah pelestarian cagar budaya terus didorong oleh Pemkab Pidie Jaya.
Inovasi Kebijakan: Rehabilitasi Komprehensif Berbasis Identitas Daerah
Bupati Pidie Jaya menginisiasi pendekatan rehabilitasi yang inovatif dan terintegrasi. Beliau tidak hanya fokus pada pemulihan situs cagar budaya—yang mencatat ada 81 situs tersebar di delapan kecamatan—tetapi juga menyuarakan problem fundamental masyarakat terdampak secara menyeluruh. Hal ini meliputi:
• Pemulihan lahan persawahan yang belum dapat ditanami padi akibat sedimentasi.
• Normalisasi tujuh aliran sungai yang krusial bagi keselamatan warga.
• Mitigasi infrastruktur antisipatif menghadapi potensi cuaca ekstrem susulan.
Melalui koordinasi intensif bersama Kementerian Kebudayaan, Bupati berharap adanya dukungan teknis, kajian ahli, dan pendampingan percepatan program. Langkah sinergis antara pemerintah daerah dan pusat ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam merawat warisan leluhur.
"Kita tidak ingin bencana bukan sekadar meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga merenggut sejarah dan identitas daerah. Apa yang diwariskan para leluhur harus kita selamatkan bersama demi generasi masa depan," tegas Bupati Pidie Jaya penuh penghayatan.
Dedikasi tanpa kenal lelah yang ditunjukkan oleh Bupati H. Sibral Malasyi bersama jajaran Pemkab Pidie Jaya ini menjadi teladan kepemimpinan yang merawat masa depan dengan tetap memuliakan akar masa lalu. Pidie Jaya membuktikan bahwa ketangguhan masyarakat Aceh tidak pernah luntur, bangkit bersama warisan budaya yang tetap terjaga.(Gg)