Generasi muda hari ini, tumbuh dan berkembang pada zaman yang serba cepat dan instan. Mereka disuguhi dengan berbagai objek yang ditampilkan lewat perangkat digital, baik yang riil maupun nonriil. Cara mereka berpenampilan, belajar, bekerja, bergaul dan mengambil berbagai keputusan sangat berbeda dengan generasi awal sebelum mereka lahir, dimana segala sesuatu harus diupayakan dengan kerja keras. Perbedaan ini merupakan hal yang wajar akibat terjadinya perbedaan masa dan pergeseran nilai. Hal ini juga yang menjadi alasan generasi muda menggunakan konsep PoV (point of view) atau sudut pandang sebagai bagian dari identitas mereka.
Permasalahannya, PoV saat ini lebih ditujukan untuk menentukan eksistensi dan standar hidup. Apa yang disuguhkan di media sosial itulah yang diikuti generasi muda, tanpa mengedepankan logika dan landasan yang benar. Mereka mudah terbawa arus viral dan tren serta takut dianggap ketinggalan zaman. Hal inilah yang kemudian dibidik oleh algoritma media sosial. Konten-konten hiburan dan perilaku gaya hidup modern seperti pamer kemewahan, harta dan popularitas dipertontonkan oleh para public figure dan influencer dengan kemasan yang menarik sehingga menyeret generasi muda ke dalam kubangan hidup materialistik.
Pola hidup seperti ini memang sengaja diciptakan oleh sistem kapitalisme global. Sistem ini memanfaatkan bonus demografi generasi muda sebagai target pasar. Mereka dibuat insecure dan overthinking ketika tidak bisa memenuhi standar kemajuan zaman demi mengejar validasi yang tak berujung. Sistem kapitalisme inilah yang mendidik generasi muda untuk memuja materi dan kebebasan tanpa batas. Sehingga demi memenuhi ambisi tersebut tak jarang mereka menggunakan cara-cara yang bertentangan dengan syariat demi sekadar gaya.
Inilah wajah buruk sistem kapitalisme sekuler. Sistem yang memisahkan aturan agama dengan kehidupan. Manusia diarahkan untuk menentukan pilihan-pilihan hidup berdasarkan kepuasan materi. Standar kebahagiaan mereka adalah jika terpenuhinya kebutuhan materi dan kenikmatan duniawi. Merekapun dibiarkan bebas beragama, bebas dalam kepemilikan, bebas berpendapat serta bebas bertingkah laku. Hal ini justru membuat mereka kehilangan arah karena tidak memiliki standar hidup yang benar dan kokoh.
Sementara itu, Islam memiliki sudut pandang (PoV) yang berbeda dengan kapitalisme. Islam tidak menjadikan materi, popularitas dan kebebasan sebagai tujuan utama. Standar hidup seorang muslim adalah halal dan haram. Sedangkan tujuan utama dan tertinggi dalam hidup adalah mendapatkan keridhaan Allah SWT. Sehingga untuk mewujudkan hal itu manusia dengan kesadarannya bersungguh-sungguh mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjalankan ketaatan kepada Allah SWT.
Berkaitan dengan generasi muda, maka di dalam Islam pendidikan diarahkan untuk membentuk generasi berkepribadian Islam, yakni memiliki pola pikir dan pola sikap IsIam, menguasai Ilmu pengetahuan dan teknologi serta peduli terhadap persoalan umat. Negara juga memiliki tanggung jawab besar dalam menerapkan aturan Islam, menyediakan lingkungan positif dan kondusif bagi generasi, mengatur media informasi digital agar tidak menjadi sarana penyebaran pemikiran yang bertentangan dengan syariat. Begitu juga melakukan pengawasan terhadap berbagai industri baik itu kosmetik, kuliner, fesyen, wisata dan lain-lain agar tujuannya semata untuk memenuhi kebutuhan manusia secara wajar, bukan untuk tujuan konsumerisme dan kebebasan. Sehingga generasi muda tidak akan menjadi budak tren melainkan agar menjadi sebaik-baiknya umat (khoiru ummah).