ACEH BESAR – Kepedulian terhadap kesehatan lingkungan tidak cukup berhenti pada kampanye. Sebelas remaja Gampong Garot, Aceh Besar, mulai membuktikannya melalui aksi nyata dengan menanam Tanaman Obat Keluarga (TOGA) dan membangun kebun sayur vertikal di lingkungan kantor keuchik.
Aksi bertajuk Kesehatan Planet tersebut digagas kader remaja SaPHYRA bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A). Kegiatan ini melibatkan 11 kader remaja, lima fasilitator, serta pengurus posyandu setempat.
Tidak sekadar menanam, gerakan ini membawa pesan lebih luas: membangun kesadaran bahwa kesehatan manusia berkaitan erat dengan kondisi lingkungan, ketersediaan pangan sehat, dan kebiasaan hidup masyarakat.
Program tersebut merupakan tindak lanjut pelantikan 11 remaja Gampong Garot sebagai kader SaPHYRA (Save Planetary Health Youth Ranger) pada 25 Oktober 2026.
SaPHYRA merupakan program pemberdayaan generasi muda yang mengintegrasikan isu kesehatan planet, kesehatan mental, kesehatan lingkungan, dan ketangguhan menghadapi bencana. Program ini dijalankan Universitas Syiah Kuala bersama GEN-A sebagai mitra komunitas.
Urgensi gerakan tersebut tergambar dari data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sekitar 96,7 persen penduduk Indonesia tercatat belum memenuhi anjuran konsumsi minimal lima porsi sayur dan buah setiap hari.
Di tengah persoalan rendahnya konsumsi pangan sehat, pemanfaatan pekarangan rumah menjadi salah satu langkah sederhana untuk mendekatkan sumber pangan bergizi kepada keluarga.
Dalam kegiatan itu, para kader menanam sawi, tomat, dan selada. Mereka juga merancang kebun vertikal untuk memaksimalkan ruang tanam di lahan terbatas. Pengurus posyandu turut mendampingi proses penanaman sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat.
Fasilitator SaPHYRA, Chairul Azmi, mengatakan kepedulian terhadap kesehatan planet dapat dimulai dari lingkungan rumah melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten.
"Kesehatan planet tidak harus dimulai dari hal besar. Ia bisa dimulai dari satu polybag sawi atau selada di pekarangan rumah," ujarnya.
Menurut dia, proses menanam, merawat, hingga memanen merupakan pembelajaran praktis bagi remaja untuk memahami hubungan antara kelestarian lingkungan dan kesehatan keluarga.
Ketua Panitia, Dr. dr. Zulfa Zahra, Sp.KJ (K), menilai kegiatan tersebut juga memiliki dimensi kesehatan mental. Aktivitas berkebun, menurut dia, dapat menanamkan tanggung jawab, kesabaran, kepedulian, dan semangat kebersamaan.
"Kesehatan yang baik sering kali berawal dari hal sederhana, yaitu tanah yang dirawat, sayur yang dimakan segar, dan hati yang tenang karena bergerak bersama-sama," katanya.
Dari kalangan remaja, kader SaPHYRA Nura Maulidya mengaku kegiatan tersebut memberinya pengalaman baru tentang pentingnya kemandirian pangan keluarga.
Ia berharap tanaman yang telah ditanam bersama dapat dirawat hingga menghasilkan panen dan menjadi sumber sayuran segar bagi masyarakat.
Sementara itu, kader Posyandu Gampong Garot, Nelly Syafrinawati, mengapresiasi keterlibatan para remaja. Ia berharap kebun yang telah dibangun tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi terus dirawat sehingga hasilnya dapat dimanfaatkan warga.
"Kalau tanamannya sudah tumbuh, bisa dimakan oleh masyarakat Gampong Garot," ujarnya.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menegaskan bahwa remaja harus ditempatkan sebagai penggerak perubahan, bukan sekadar penerima manfaat program.
Menurut dia, pendampingan terhadap kader SaPHYRA akan terus dilakukan agar kebiasaan positif yang dimulai melalui kegiatan penanaman dapat berkembang menjadi gerakan lingkungan berbasis masyarakat.
"Kami percaya remaja bukan sekadar penerima manfaat, melainkan penggerak perubahan," katanya.
Tantangan berikutnya adalah memastikan keberlanjutan program. Tanaman yang telah ditanam membutuhkan perawatan rutin, mulai dari penyiraman hingga pengendalian hama. Tanpa pendampingan dan keterlibatan masyarakat, kebun yang dibangun berisiko berhenti sebagai kegiatan sesaat.
Melalui SaPHYRA, GEN-A bersama Universitas Syiah Kuala berharap Gampong Garot dapat menjadi salah satu contoh keterlibatan generasi muda dalam membangun kesadaran kesehatan lingkungan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan menciptakan masyarakat yang lebih tangguh.
Sebab, bumi yang sehat tidak hanya dibangun melalui kebijakan besar, tetapi juga melalui kebiasaan kecil yang dijaga secara berkelanjutan.(**)