Momen Rajab, Saatnya Umat Islam Bersatu


author photo

11 Feb 2024 - 13.30 WIB


 

Oleh: Ninis (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Bulan Rajab adalah bulan yang sangat istimewa bagi kaum muslimin. Di bulan ini kaum muslimin menyibukkan diri dengan memperbanyak doa dan ibadah. Selain itu, ada peristiwa penting terjadi di bulan Rajab yakni Isra Mi'raj.  Umat Islam di dunia memperingati Isra Mi'raj dan mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Kaum muslimin mengimani mukjizat yang diberikan Allah pada Nabi dan Rasul-Nya. Yakni Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW dari masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha hanya dalam waktu semalam. Mungkin bagi sebagian orang peristiwa tersebut dianggap tidak masuk akal.

Selain itu ada hal penting lainnya terjadi, yakni hilangnya institusi Khilafah (kepemimpinan Islam) di tanggal 28 Rajab 1342 Hijriyah /3 Maret 1924. Sejak itulah kaum muslimin ibarat anak ayam kehilangan induknya. Satu persatu nestapa dialami kaum muslimin sejak itu termasuk pencaplokkan wilayah Palestina oleh Zionis Yahudi. Tidak ada lagi yang menjaga kemuliaan Al Aqsha dan negeri-negeri muslim yang lainnya seperti Rohingya, Uighur, Suriah.

Tak jauh berbeda dengan Indonesia meskipun penjajahan fisik sudah lenyap dari negeri ini namun penjajahan secara pemikiran masif terjadi. Terlebih, masyarakat masih percaya dengan adanya pergantian pemimpin mampu mengubah nasib bangsa ini menjadi lebih baik. Namun, akankah nasib umat Islam akan berubah jika hanya pemimpinnya yang diganti, sedangkan sistemnya bukan berasal dari Islam?

Nestapa Tanpa Junnah

Ketiadaan junnah (perisai) kaum muslimin begitu menyedihkan dan menyayangi hati. Mereka diusir, dibunuhi, dilecehkan. Selain itu, ajaran Islam yang agung dipropagandakan sebagai ide yang radikal dan pelakunya dianggap teroris. Umat Islam selalu menjadi korban keserakahan akibat penerapan sistem kapitalis.

Ketiadaan junnah kaum muslimin terpecah belah karena sekat negara bangsa (nation state) dan paham kebangsaan (nasionalisme). Umat Islam memang banyak secara kuntitas, namun tidak secara kualitas sehingga diibaratkan bagai buih di lautan. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya. Maka seseorang bertanya : ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” (Bahkan kalian banyak, akan tetapi kalian seperti buih yang mengapung di lautan)." (HR. Abu Dawud).

Hadist diatas merupakan gambaran umat Islam saat ini, banyak namun tercerai-berai. Umat Islam dianggap sebagai umat yang kecil karena tak berdaya menghadapi serangan bertubi-tubi dari musuh-musuh Islam. Kaum muslimin ibarat sebuah makanan yang lezat dan menjadi rebutan. Tengok saja nasib muslim di Palestina,  Rohingya, Uighur dan yang lainnya selama bertahun-tahun dirundung nestapa.

Fakta yang lebih menyakitkan ketika melihat sikap pemimpin kaum muslimin hanya diam, memberikan kecaman, retorika dan mengemis pada PBB untuk menyelesaikan penjajahan di Palestina.  Namun, tak ada satupun dari mereka yang mengirimkan tentara dan senjata militer untuk pejuang Palestina. Lantas, masihkah kita berharap pada sistem kapitalis yang menjadi penyebab umat Islam sengsara dan tercerai-berai?

Saatnya Umat Islam Bersatu 

Kaum muslimin sejatinya merupakan umat yang satu dengan kesamaan pemikiran, perasaan dan aturan yang sama. Namun, karena racun nasionalisme  yang disebarkan oleh ideologi kapitalis menyebabkan kaum muslimin bercerai-berai. Padahal, Allah sudah mempersaudarakan mereka dengan ikatan akidah Islam. Sebagaimana Allah nyatakan dalam QS Al-Hujurat [49]: 10 bahwa kaum mukmin itu bersaudara. 

Selain itu, Allah juga dengan tegas melarang umat Islam bercerai-berai, ini terbuang  dalam QS Ali Imran [3]: 103. Sebab, jika kaum muslimin bercerai-berai akan menjadi lemah dan mudah dikuasai oleh musuh yang membenci Islam. Umat Islam disibukkan dengan konflik horizontal yang di desain oleh barat. Mereka tidak suka dengan persatuan kaum muslimin dan mengancam eksistensi mereka.

Disinilah urgensinya umat Islam mewujudkan kembali perisai umat Islam. Hanya dengan adanya perisai akan mampu menyatukan umat Islam dan menghilangkan kezhaliman. Rasulullah SAW pernah bersabda "Sesungguhnya seorang imam itu (laksana) perisai. Ia akan dijadikan perisai saat orang akan berperang di belakangnya dan digunakan sebagai tameng.” (HR.Bukhari dan Muslim).

Secara historis, sistem Islam pernah dicontohkan oleh Rasulullah,  Khulafaur Rosyidin, Kekhilafahan Bani Abasiyah hingga yang terakhir Bani Utsmaniyyah. Dalam sistem tersebut tidak hanya dipimpin oleh orang-orang terbaik namun juga menerapkan aturan sang penciptanya manusia yaitu syariat Islam. Selama rentang waktu 13 abad Islam mampu melindungi dan menjaga kehormatan umat Islam dan kemuliaan ajaran Islam.

Momen Rojab hendaknya menjadi momen bersatunya umat dalam satu kepemimpinan yang menerapkan syariat Islam secara kaffah (keseluruhan). Sudah saatnya umat Islam tak sekedar mencari sosok pemimpin yang ideal, namun juga sistem yang ideal yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW yakni Khilafah. Wallahu A'lam.
Bagikan:
KOMENTAR