Oleh: Nana Juwita, S.Si.
Belum selesai duka dan juga upaya penanggulangan bencana yang melanda Sumatera, ternyata ada hal yang lebih menarik untuk ditindaklanjuti terkait banjir bandang yang meninggalkan jejak lumpur, yang hingga saat ini masyarakat masih kesulitan untuk membersihkan lumpur pasca banjir. Ternyata lumpur yang menumpuk di wilayah terdampak termasuk di Aceh menarik minat beberapa pihak.
Dikutip dari (daerah.sindonews.com, 01/01/2025) Presiden menyampaikan bahwa tumpukan lumpur di wilayah bencana menarik minat beberapa pihak swasta. Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa endapan lumpur akibat bencana alam banjir bandang dan longsor di Aceh menarik minat sejumlah pihak swasta untuk dimanfaatkan. Dirinya pun merestui swasta yang berminat sehingga hasilnya bisa untuk pemasukan daerah. “Gubernur melaporkan ke saya ada pihak-pihak swasta yang tertarik, dia bisa memanfaatkan lumpurnya di mana-mana, jadi tidak hanya di sungai tapi yang di sawah dan sebagainya. Silakan ini saya kira bagus sekali ya. Jadi tolong ini didalami dan kita laksanakan ya,” kata Prabowo dalam rapat koordinasi saat meninjau pembangunan hunian Danantara di Aceh Tamiang.
Adanya alasan pemanfaatan lumpur oleh swasta dapat membantu pemasukan daerah. Sejatinya hal ini perlu dikritisi, sebab wilayah Aceh termasuk wilayah yang memiliki banyak sumber daya alam. Baik emas, gas,minyak,hutan dan lain-lain. Jika saja keberadaan sumber daya alam yang ada mampu dikelola secara baik oleh negara yang kemudian dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya keperluan rakyat, maka secara otomatis rakyat akan merasakan kesejahteraan, namun akibat tata kelola sumber daya alam yang bebas tanpa batas, justru memberikan keuntungan pada para kapital (oligarki), yang pada akhirnya masyarakat hanya mendapat dampak buruk dari deforestasi, dan maraknya tambang ilegal atau pun legal yang terjadi di wilayah Sumatera, inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya bencana Sumatera.
Ada lah hal yang lumrah jika negara memanfaatkan lumpur bencana demi keuntungan, inilah watak dari penerapan sistem kapitalisti,k dimana negara melempar tanggungjawab kepada pihak swasta, atau bahkan asing. Apa lagi di tengah bencana yang terjadi bukan kah harusnya negara lebih fokus pada memberikan bantuan kepada masyarakat yang berdampak. Dari sini terlihat bahwa kebijakan tersebut salah prioritas, yang seharusnya negara mengutamakan bantuan pokok untuk masyarakat terdampak, malah berfikir untuk memanfaatkan lumpur sebagai ladang cuan.
Hal di atas menunjukkan, bahwa ketika solusi terkait bencana yang meninggalkan lumpur tersebut diambil dari kapitalisme maka semua itu bersifat pragmatis, an tidak disertai regulasi yang jelas, yang malah memungkinkan swasta justru akan melakukan eksploitasi.
Sementara itu,dalam sistem pemerintahan Islam, negara benar-benar berperan sebagai ra'in dan junnah bagi umat. Baik dalam kondisi normal atau kondisi abnormal seperti wabah bencana dan musibah. Negara lah yang seharusnya bertanggungjawab penuh dalam penanggulangan bencana. Pemerintah Islam akan mendahulukan kemaslahatan masyarakat di atas kepentingan materiil.
Selain itu, Islam melarang swastanisasi sumber daya alam yang menjadi milik umum. Hal ini seperti yang telah tertuang dalam Sabda Rasulullah Saw, yang artinya:
Kaum muslim berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api; dan harganya dalah haram.(HR Ibnu Majah).
Dengan demikian sistem pemerintahan Islam sangat jauh berbeda dengan kapitalisme yang malah memberikan sumber daya alam untuk diswastanisasikan, yang pada akhirnya hanya memberikan keuntungan pada pihak-pihak tertentu, sementara masyarakat masih hidup dalam keterbatasan. Masyarakat juga masih kesulitan mengakses kebutuhan pendidikan dan kesehatan karena keterbatasan dana yang mereka miliki. Padahal di dalam Islam jelas bahwa salah satu sumber pemasukan negara yang akan dapat menjamin kebutuhan masyarakat adalah pengelolaan sumber daya alam yang sesuai syariat Islam, yang nantinya akan dikelola dalam Baitul mal negara. Oleh karena itu dibutuhkan penerapan Islam kafah untuk mengatur segala aspek kehidupan umat. Waulahuaklam bissawwab