‎ ‎
‎ ‎

Kenakalan Remaja Makin Marak, Butuh Sinergi Semua Pihak


author photo

31 Jan 2026 - 15.22 WIB




Oleh : Ninis (Aktivis Muslimah Balikpapan)

Kenakalan remaja kian hari makin meresahkan masyarakat, pasalnya sudah mengarah pada tindakan kriminalitas. Untuk itu, sebagai upaya preventif menekan angka kenakalan remaja di kalangan pelajar, Polresta Balikpapan melalui Satuan Pembinaan Masyarakat (Satbinmas) menggencarkan kembali program edukatif Police Go To School. Kegiatan penyuluhan tersebut dilakukan diawal tahun ajaran 2026 tepatnya Selasa (13/1/2026), digelar di SMP Negeri 3 Balikpapan. Kegiatan inipun mendapat sambutan antusias dari para siswa maupun tenaga pendidik. 

Program Police Go To School ini merupakan bagian dari strategi Polresta Balikpapan dalam menyampaikan pesan-pesan kamtibmas secara langsung kepada pelajar sejak usia dini. Melalui pendekatan persuasif dan edukatif, kepolisian berharap para siswa memiliki pemahaman yang kuat untuk menjauhi perilaku negatif yang dapat merusak masa depan mereka. 

Ipda Sangidun, Kasi Humas Polresta Balikpapan pun turut mengimbau pihak sekolah agar terus menjalin sinergi dengan instansi terkait dalam meningkatkan wawasan dan pengetahuan peserta didik. Selain itu, Ia juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap potensi deradikalisasi yang dapat menyasar pelajar di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan digitalisasi. (gerbangkaltim.com).

Meskipun beberapa upaya edukatif telah sering dilakukan, namun belum terlalu efektif menekan angka kenakalan remaja karena tidak menyentuh akar masalah. Lantas, apa yang menyebabkan maraknya kenakalan remaja dan bagaimana solusinya?

*Upaya Preventif Belum Efektif*

Kenakalan remaja sering dianggap sebagai hal yang biasa padahal tindakannya sudah mengarah pada kriminalitas. Tak bisa dimungkiri kenakalan remaja saat ini buah dari tatanan kehidupan yang sekuler liberal. Kebebasan berprilaku menjadi standar remaja meskipun bertentangan dengan norma yang lain. Terlebih, patut diwaspadai adanya liberalisasi di era digital yang dapat mengarah pada perubahan tingkah laku jamak dilakukan remaja sekarang.

Meskipun sudah ada sosialisasi, edukasi ataupun program Police go to school nyatanya tidak mampu mencegah kenakalan remaja karena itu problem sistemis. Maraknya kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, faktor internal remaja itu sendiri yang mengalami krisis identitas dan kurang mampu mengontrol dirinya.

Kedua, faktor eksternal yakni adanya kurang perhatian orang tua (disfungsi keluarga), minim penanaman keimanan di keluarga, pola asuh salah, lingkungan yang buruk, sistem pendidikan sekuler liberal. Ditambah lagi dengan adanya digitalisasi, penggunaan gadget tanpa pengawasan orang tua kemudian dijadikan rujukan remaja dalam bertingkah laku menginspirasi melakukan kekerasan bahkan kriminalitas.

Parahnya, negara seolah tak berdaya mencegah masuknya pengaruh buruk dari platform digital dengan dalih menjamin kebebasan individu. Padahal, ruang digital membawa banyak dampak negatif bagi generasi muda. Meski jutaan konten telah diblokir, platform digital akan terus memproduksi konten baru yang mengarahkan masyarakat menjadi semakin sekuler, liberal, dan terikat gaya hidup kapitalistik.  

Sejatinya, di bawah penerapan sistem kapitalis terbukti gagal melindungi generasi dari dampak buruk digitalisasi. Alih-alih mencetak generasi emas, justru sebaliknya generasi menjadi ancaman masa depan. Untuk itu butuh sistem alternatif yang mampu mencetak generasi emas yang mengukir sejarah dengan prestasi dan kontribusi terbaik untuk semua.

*Islam Melahirkan Generasi Emas*

Ketika Islam dijadikan pandangan hidup pernah terbukti mampu mencetak generasi emas berabad-abad lamanya. Mereka memiliki kepribadian Islam yakni pola pikir dan pola sikap Islam. Halal dan haram menjadi standar perbuatan bukan kebebasan tanpa batas. Akidah Islam menjadi landasan dalam sistem pendidikan termasuk dalam pembuatan kurikulum.

Pendidikan dalam Islam tidak hanya mencetak anak yang cerdas, namun juga menjadi insan yang bertakwa kepada Allah SWT. Sebagaimana sabda Nabi SAW : “Orang yang cerdas ialah orang yang mampu mengintrospeksi dirinya dan suka beramal untuk kehidupannya setelah mati. Sedangkan orang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah dengan harapan kosong”. (H.R. At-Tirmidzi).

Alhasil, para remaja terdorong untuk menjadi umat terbaik dengan menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat bahkan maksiat. Peradaban Islam pernah mampu mencetak generasi yang bertakwa dan memiliki akhlak mulia. Generasi cemerlang yang lahir dalam peradaban Islam seperti Imam Bukhari, Imam Malik, Al Khawarizmi, Ibnu Sina dan masih banyak yang lainnya.

Selain itu, harus ada sinergi antara keluarga, lingkungan dan negara untuk menuntaskan kekerasan remaja yakni dengan; Pertama, keluarga menanamkan akidah Islam sejak dini pada anak agar memiliki pemahaman yang benar terkait Islam dan konsekuensi keimanan yakni taat syariat Islam. 

Kedua, perlu adanya lingkungan sekolah dan masyarakat yang kondusif akan dari tindak kekerasan. Masyarakat yang peka saling nasehat-menasehati bukan masyarakat yang cuek terhadap kondisi remaja seperti saat ini.
Ketiga, negara wajib menutup platform digital yang menstimulasi terjadinya kasus kekerasan yang berasal dari game, film dan lain-lain. Media berfungsi untuk mengedukasi masyarakat, sehingga tayangan-tayangan kekerasan, pornografi yang menyebar luaskan ide-ide sekulerisme, liberalisme tidak diperbolehkan.

Selain itu, negara akan mengoptimalkan potensi remaja untuk hal-hal yang baik. Termasuk memfasilitasi sarana yang menunjang keilmuannya, kesehatan bahkan bakatnya untuk kemaslahatan umat. Sehingga tidak ada celah untuk untuk melakukan hal yang tidak bermanfaat ataupun tindak kriminal.
Negara juga akan memberikan sanksi yang tegas bagi pelaku kekerasan. Jika dia sudah baligh diperlakukan layaknya orang dewasa bukan dianggap masih anak-anak. Ketika dia melakukan tindak kriminal (Jarimah) maka dikenai hukuman sesuai dengan hukum sanksi dalam syari'at Islam. Jika pelakunya belum baligh maka walinya yang akan mendapatkan sanksi.

Demikianlah dengan support sistem akan mencegah kekerasan remaja dan menjaga generasi agar tetap dalam koridor syari'at Islam. Hanya dengan Islam kaffah mencetak generasi emas yang memiliki visi dan misi hidup yang jelas, bertakwa, berakhlak mulia dan menjadi umat terbaik. Wallahu A'lam.
Bagikan:
KOMENTAR