Dalam acara Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss pada Kamis, 22/10/2026, Presiden AS, Donald Trump, melalui menantunya, Jared Kushner menyampaikan presentasi terkait rencana pembangunan Gaza Baru (New Gaza). Pasalnya, di wilayah Palestina yang telah hancur tersebut akan dibangun gedung-gedung tinggi dan megah di sepanjang jalur pantai dan di kota Rafah yang sudah rata dengan tanah. Selain itu juga akan dikembangkan kawasan perumahan, pertanian dan industri secara bertahap untuk populasi penduduk sekitar 2,1 juta orang. (bbc.com, 23/01/2026)
Acara tersebut juga merupakan kesempatan emas bagi Trump untuk mengenalkan konsep "Dewan Perdamaian" atau Board of Peace yang bertujuan menyelesaikan konflik global, mendukung stabilitas, tata kelola, demiliterisasi dan rekonstruksi Gaza. Board of Peace ini disinyalir sebagai tandingan bagi Dewan Keamanan PBB yang dianggap telah gagal menjalankan fungsinya.Trump juga mengundang puluhan negara untuk bergabung dalam misi tersebut. Hal ini disambut baik oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu yang langsung bergabung menjadi anggota Board of Peace tersebut.
Melihat fakta tersebut, semakin menguatkan argumentasi bahwa baik AS maupun Israel sama-sama memiliki tujuan yang sama yakni ingin menguasai Gaza. Baik Board of Piece, Dewan Keamanan PBB atau apapun namanya, tidaklah sama sekali bertujuan untuk melakukan rekonstruksi terhadap wilayah Gaza akibat peperangan. Justru merekalah penjahat perang sesungguhnya. Mereka berambisi mendominasi Gaza dan menghapus jejak genosida. Dengan membangun Gaza dari nol serta merangkul beberapa negara menjadi alat politik dan legitimasi global untuk menyingkirkan siapapun yang berseberangan dengan AS sehingga mereka bisa dengan bebas berkuasa secara penuh atas Gaza. Seharusnya seluruh negeri-negeri muslim menyadari dan waspada akan kendali AS dan Israel tersebut.
Mirisnya, sejumlah negeri-negeri muslim turut menyambut rencana Trump ini, tak terkecuali Indonesia yang turut bergabung menjadi anggota Board of Peace. Sehingga semakin kecil peluang untuk menyatukan seluruh wilayah Palestina. Warga Palestina tak punya hak untuk menentukan masa depan mereka. Bukan pembangunan New Gaza yang mereka inginkan, melainkan kebebasan penuh sebagai negara merdeka yang lepas dari penjajahan. Namun kini nasibnya berada di bawah kuasa para elit kapitalis global. Sementara negeri-negeri muslim lain tak hanya sekedar menyaksikan keruntuhan Palestina, namun menjadikannya semakin terpuruk. Sungguh merupakan hal yang sangat menyakitkan.
Sekali lagi, penguasaan asing atas Palestina adalah penjajahan. Negeri-negeri muslim bukan tak tahu kondisi tersebut. Namun, hidup dalam sistem kapitalisme membuat para penguasa dan pemimpinnya menjadi antek-antek dan sekutu bagi asing. Padahal dahulu mereka hidup rukun berdampingan dalam sebuah negara adidaya yang disebut Khilafah Islam. Namun sejak keruntuhan khilafah pada Maret 1924, hingga kini Palestina mengalami derita penjajahan berkepanjangan tanpa bantuan. Mulai dari blokade, kehancuran infrastruktur, mengalami tekanan militer dan isolasi politik.
Oleh karena itu, hanya khilafah yang mampu menyelesaikan konflik global atas penjajahan Palestina. Khilafah akan menggerakkan umat Islam melalui pasukan militer untuk berjihad melawan zionis serta menghentikan loyalitas penguasa negeri-negeri muslim atas mereka. Jihad adalah sebuah kewajiban, terlebih sebagai bentuk perlawanan jika kondisi kaum muslim dalam keadaan terjajah. Untuk itu, keberadaan khilafah saat ini adalah hal yang sangat mendesak untuk diperjuangkan. Perlu kesadaran dari seluruh elemen umat untuk mewujudkannya. Dan kesadaran tersebut akan terbentuk melalui kelompok dakwah ideologis yang menyebarkan dakwah politik sebagai dasar bagi perubahan menuju tegaknya khilafah Islam, sehingga segala bentuk penjajahan di muka bumi ini bisa dihapuskan.