Pengiriman Guru Keluar Negeri, Mampukah Menjamin Kualitas Pendidikan?


author photo

7 Jan 2026 - 10.18 WIB



Oleh: Ferdina Kurniawati 
Aktivis Dakwah Muslimah

Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan kembali mengambil langkah progresif, dalam meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) pendidikan.
Wali Kota Balikpapan, H. Rahmad Mas’ud mengumumkan program pengiriman guru ke luar negeri, sebagai upaya memperkuat kompetensi global tenaga pendidik.
Wali Kota menyampaikan bahwa pada 27 Desember 2025, Pemkot Balikpapan akan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Universitas Darul Quran di Mekkah, untuk pengiriman guru agama Islam dalam program pendalaman bahasa Arab.
“Saya umumkan, insyaallah tanggal 27 Desember 2025 kita akan MoU dengan Universitas Darul Quran di Mekkah untuk menitipkan guru-guru kita agar mereka fasih berbahasa Arab,” ujar Rahmad Mas’ud, Senin, 1 Desember 2025.
Tak hanya itu, Pemkot juga menyiapkan program serupa untuk guru bahasa Inggris. Wali Kota menyebut bahwa Balikpapan akan bekerja sama dengan salah satu universitas di Cambridge, Inggris, sebagai pusat dunia pendidikan modern.
“Ini ikhtiar kita menciptakan SDM berkualitas. Guru bahasa Inggris juga akan kita kirim ke universitas di Cambridge. Tim seleksi sudah menyiapkan mekanismenya,” jelasnya.
Rahmad Mas’ud turut mengungkapkan rencana penjajakan kerja sama dengan universitas di Tiongkok, sebagai bagian dari strategi Balikpapan mengikuti arus perkembangan global.
Kita harus mengikuti perkembangan dunia. Bahasa Arab, Inggris, dan Cina adalah kebutuhan masa kini. Kita ingin guru-guru kita siap menghadapi masa depan,” tegasnya.
Wali Kota menegaskan bahwa transformasi SDM harus dimulai dari peningkatan kualitas tenaga pengajarnya terlebih dahulu. Program pelatihan kolaboratif dengan Google Academy dan institusi internasional lainnya disiapkan untuk memastikan guru memiliki kompetensi terbaik sebelum mencetak generasi unggul.
“Sebelum mencetak SDM unggul, tenaga pengajarnya dulu yang harus diperbaiki. Dengan pelatihan dan kerja sama global, kita ingin guru-guru Balikpapan semakin berilmu dan berdaya saing,” ujarnya.
Pemkot menargetkan 20 hingga 30 guru untuk diberangkatkan ke Mekkah pada akhir Desember dalam program pelatihan intensif selama 2 hingga 3 bulan. Guru-guru tersebut nantinya akan menjadi pengajar bahasa Arab di berbagai sekolah di Balikpapan.
Program internasionalisasi guru ini merupakan bagian dari visi besar Balikpapan untuk mendukung pencapaian SDM Indonesia Emas 2045, di mana kualitas tenaga pendidik menjadi fondasi utama.(beritakaltim.co) 

Arah Pendidikan Sekuler
Menjadi guru di era globalisasi saat ini tentu tidaklah mudah, pemerintah melahirkan program-program guna meningkatkan skill pada guru agar mampu mendidik generasi yang juga memiliki skill yang siap bersaing di dunia kerja. 
Persoalan kualitas guru sejatinya berfokus pada sosok guru sebagai pengajar dan pendidik generasi. Artinya, jika ingin meningkatkan kualitas guru, arah kebijakan harus fokus pada perbaikan guru itu sendiri, bukan fokus skill bahasa yang digunakan dalam pembelajaran. Definisi globalisasi diukur semata penguasaan Bahasa. Padahal pembelajaran Bahasa asing lekat dengan tsaqofahnya. Hal ini tidak bisa dijadikan penentu kualitas guru dan pembelajaran. 
Munculnya pandangan ini tidak lepas dari konsep berpikir kapitalis yang diemban oleh negara sehingga setiap kebijakan didasari oleh kepentingan materi semata. Maka tidak heran jika banyak sekali muncul problem pada generasi hari ini, pergaulan bebas, bullying, narkoba, mental illness, dan lain-lain. Alih-alih menyelesaikan problem yang ada pada generasi justru arah pendidikan kapitalis membuat deretan panjang persoalan pada generasi. Alhasil dunia pendidikan dengan segala persoalan nya tidak bisa diselesaikan hanya dengan meningkatkan kualitas guru dalam segi bahasa saja, melainkan perubahan sistem secara keseluruhan, termasuk sistem pendidikan.

Sistem Pendidikan Islam Menjamin Peningkatan Kualitas Pendidikan 
Sistem pendidikan Islam telah terbukti pada masanya melahirkan kualitas guru yang kompeten dan anak didik yang cakap serta memiliki kepribadian Islam yang kuat. Peran politis seorang guru adalah membangun peradaban Islam yang kokoh secara menyeluruh baik secara fundamental maupun struktural yang dibangun dengan Aqidah Islam dalam bingkai sistem pendidikan Islam.
Guru adalah penggerak perubahan yang harus diatur oleh aturan yang jelas dan terikat dengan hukum syara', sehingga takutnya karena Allah, amalannya senantiasa berusaha mendidik generasi dengan rasa keimanan yang tinggi dan hal itu akan membekas pada anak didiknya. 
Demikianlah sistem kehidupan sangat besar pengaruhnya pada peran guru dan peserta didik. Maka tidak heran, ketika sistem pendidikan Islam diterapkan generasi pada masanya mencapai masa keemasan yang membuat silau orang-orang barat hingga belajar kepada muslim karena ketinggian keilmuannya. 
Oleh karena itu, guru dalam Islam sangat totalitas mendidik atas dasar ruh (keimanannya yang tinggi) kepada Allah SWT. Karena standarnya adalah hukum syara' sehingga kurikulum bakunya adalah Islam dan menolak segala hal yang bertentangan dengan aqidah Islam. 
Tinta sejarah mencatat, para khalifah mendirikan pusat-pusat pendidikan besar, seperti Baitul Hikmah di Bagdad. Negara memberikan dukungan finansial penuh kepada para pengajar dan ilmuwan. Sekolah-sekolah yang didirikan oleh negara tersebar luas di seluruh penjuru negeri sehingga pendidikan dapat diakses secara mudah dan gratis oleh semua warga negara. Sekolah-sekolah itu mengajarkan ilmu dan tsaqafah tanpa dikotomi antara ilmu agama dan teknologi.
Para hartawan dan dermawan pada masa Islam pun sangat antusias untuk berkontribusi di bidang pendidikan, misalnya dengan mendirikan universitas, laboratorium, atau perpustakaan lengkap. Di antaranya ada Fatimah al-Fihri, seorang muslimah yang mendirikan Universitas Al-Qarawiyyin di Fez, Maroko, pada 859 M.
Profesi guru, ilmuwan, dan ulama pada masa peradaban Islam mendapatkan insentif yang sangat layak. Khalifah Al-Ma’mun (813—833 M) dari Khilafah Abbasiyah pernah memberikan tunjangan besar bagi para ilmuwan dan guru. Para guru yang terdiri dari para ulama dan syekh di universitas-universitas besar seperti madrasah Nizhamiyah memperoleh gaji dari baitulmal dengan jumlah yang besar.
Gaji tersebut sebagai bentuk jaminan kesejahteraan mereka, yakni bisa mencapai puluhan atau bahkan ratusan dinar emas per bulan. Nilai satu dinar setara dengan 4,25 gram emas murni. Jika satu dinar saat ini bernilai sekitar Rp4—5 juta, gaji 10 dinar setara Rp40—50 juta per bulan. Hal ini menunjukkan bahwa negara menghargai dan menyejahterakan pendidik sebagai faktor penting untuk mendukung sistem pendidikan.
Demikianlah peran sentral Khilafah dalam mengelola sistem pendidikan. Sungguh, kompetensi guru tidak cukup dengan bergantung pada pengiriman guru ke luar negeri saja, tapi membutuhkan solusi yang menyeluruh dan sistemis. Jelas, pendidikan adalah investasi strategis peradaban sebagai realisasi tanggung jawab kepemimpinan politik. 
Wallahualam bissawab.
Bagikan:
KOMENTAR