Upaya Tingkatkan Minat Belajar Matematika, Mahasiswa Jurusan Tadris Matematika UIN SUNA Hasilkan Delapan Proyek Berbasis Media


author photo

9 Jan 2026 - 19.04 WIB




Matematika sering kali dianggap ilmu yang sulit dengan istilah yang dikenal selalu melibatkan perhitungan di dalamnya. Melalui proyek tugas akhir mata kuliah Kapita Selekta Matematika yang diampu oleh Dr. Mahdalena, S.Pd., M.Pd., mahasiswa Jurusan Tadris Matematika Universitas Islam Negeri (UIN) Sultanah Nahrasiyah (SUNA) Lhokseumawe berhasil menyelesaikan delapan proyek sebagai upaya meningkatkan minat belajar matematika siswa, Rabu (07/01/2026). 

Kapita Selekta Matematika merupakan salah satu mata kuliah yang mengkaji konsep materi SMP dan SMA, sehingga dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam merancang pembelajaran di level menengah dan tingkat atas. Mahdalena sebagai dosen pengampu mengungkapkan, pengadaan proyek pada mata kuliah ini merupakan suatu keharusan. Menurutnya, melalui proyek, integrasi antara pengetahuan matematika dan seni benar-benar diuji dan dikembangkan. Proyek ini tidak semata-mata sebagai tugas, melainkan dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kompleksitas ilmu matematika akademik dan kebutuhan riil di depan kelas saat mahasiswa kelak menjadi guru. 

Delapan proyek yang berhasil dituntaskan oleh mahasiswa Jurusan Tadris Matematika angkatan 2023 ini diantaranya adalah permainan edukatif labirin dan angka ajaib, Mathopoly dengan materi aljabar, komik Memet dan Ucup dengan materi barisan artimatika, video pembelajaran YouTube dengan materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV), mikromedia flash 8, website pembelajaran matematika dengan materi Sistem Persamaan Linear Tiga Variabel (SPLTV), nilai Islam dan bahasa Aceh dalam soal matematika berbentuk cerita, serta flip book tentang matematika nusantara. 

Rizky Amelia Putri Br Gajah bersama rekan kelompoknya berhasil menuntaskan proyek akhir berupa Mathopoly untuk siswa SMP yang dirancang mirip seperti permainan monopoli. Namun, perbedaannya adalah bukan menggunakan nama negara, melainkan harus menjawab soal matematika. "Walaupun kami merancang media pembelajaran dari aljabar yang hitung-hitung, tapi kalau matematika dikatakan cuma hitung-hitung, ya, tidak. Karena kalau kaya gitu, siapapun orang, kalau matematika cuma hitung-hitung pasti bakal (akan) cepat lupa. Siswa SMP itu lagi di masa-masa bandel dan bosenan. Kami pingin materi yang kami sampaikan itu lekat di ingatan mereka dengan cara kami masuk ke dunia bermain mereka," jelas Rizky menanggapi pernyataan matematika hanyalah soal berhitung. 

Di samping itu, Yudha Dwi Alfiansyah bersama rekan kelompoknya merancang permainan edukatif labirin aljabar dan petualangan angka ajaib. Menjawab pernyataan apakah matematika hanya tentang berhitung, Yudha mengatakan, "Matematika tidak bisa lepas dari hitung menghitung, hal tersebut membuat siswa enggan belajar matematika karena (dinilai) sulit. Terkadang, guru juga membebani (siswa) dengan tugas-tugas yang bahkan mereka belum mengerti. Ini bukan tentang mata pelajaran yang sulit, tetapi guru juga belum menemukan cara untuk menarik minat siswa." Melalui proyek tersebut, ia dan rekan kelompoknya telah menguji coba permainan edukatif ini di sekolah. Ia menyimpulkan siswa terlihat antusias karena mereka tidak hanya terpaku dengan teori, tetapi juga tertarik dengan cara belajar yang menyenangkan. 

Syalsabillah, salah satu mahasiswi Jurusan Tadris Matematika ikut menegaskan bahwa matematika tidak hanya berupa angka yang ditulis di atas kertas atau buku, tetapi sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis: Alya Nadila
Bagikan:
KOMENTAR