Board of Peace, Topeng Dominasi AS atas Gaza


author photo

12 Feb 2026 - 17.51 WIB



Bergabungnya Indonesia dengan Board of Peace (BoP) atas nama perdamaian Palestina justru menimbulkan tanda tanya besar. Pemerintah beralasan langkah ini demi mendukung penyelesaian konflik, namun fakta menunjukkan bahwa Palestina bahkan tidak dilibatkan dalam proses pembentukan BoP. Lebih ironis lagi, Indonesia harus membayar 1 miliar dolar atau sekitar Rp17 triliun untuk memperoleh keanggotaan tetap. Sementara arah kebijakan BoP sepenuhnya dikendalikan oleh Donald Trump dengan hak veto, sehingga jelas memperlihatkan dominasi Amerika Serikat dalam proyek ini.

BoP sejatinya bukan wadah perdamaian, melainkan instrumen geopolitik dan ekonomi AS. Trump secara terang-terangan memiliki ambisi untuk menguasai Gaza, mengusir penduduknya, dan mengganti wilayah penuh penderitaan itu dengan “Gaza Baru” yang berisi gedung pencakar langit, wisata pantai, pelabuhan, bandara, dan menara apartemen. Dengan cara ini, jejak genosida dihapus, diganti dengan citra modernisasi yang semu. Negara-negara Muslim yang bergabung, termasuk Indonesia, hanya dijadikan pelengkap legitimasi agar proyek ini tampak sah di mata dunia. Padahal, BoP adalah alat untuk merealisasikan 20 poin rencana Trump atas Gaza, yang intinya menghancurkan Palestina.

Keikutsertaan negeri-negeri Muslim dalam BoP adalah bentuk pengkhianatan terhadap Muslim Gaza. Alih-alih membela saudara seiman yang tertindas, mereka justru memberi legitimasi pada proyek yang melemahkan perjuangan Palestina. Dalam perspektif Islam, Palestina tidak membutuhkan BoP maupun rencana AS. Yang dibutuhkan adalah pembebasan dari pendudukan Zionis. Perdamaian hakiki hanya akan terwujud jika Zionis hengkang dari tanah Palestina, dan satu-satunya jalan untuk mewujudkan hal itu adalah jihad.

Khilafah sebagai institusi politik Islam adalah satu-satunya yang mampu mengomando jihad akbar untuk membebaskan Palestina. Karena itu, negeri-negeri Muslim tidak boleh bersekutu dengan negara kafir harbi fi’lan yang tengah memerangi umat Islam. Sebaliknya, mereka harus bersegera menegakkan Khilafah dan menjadikannya sebagai qadhiyah masiriyah, agenda utama perjuangan umat. Hanya dengan kepemimpinan Islam yang kaffah, Palestina dapat dibebaskan dan kehormatan umat Islam dikembalikan.
Bagikan:
KOMENTAR