Gencatan Senjata dan Perdamaian ala Israel-AS


author photo

15 Feb 2026 - 22.27 WIB



Oleh: Eka Susanti

Setelah disahkannya Board of Peace (BoP) dan gencatan senjata yang dilakukan oleh AS sebagai solusi perdamaian Gaza, kembali pelanggaran gencatan senjata berulang kali dilakukan oleh Zionis Israel. Fakta menunjukkan pada hari Rabu, 4 Februari 2026, Israel melancarkan serangan udara dan tembakan tank di jalur Gaza (kompas.com, 05/02/2026). Hal ini telah menewaskan sedikitnya 23 orang termasuk anak-anak (cnn.indonesia.com, 05/02/2026). Kemudian pada Jumat, 6 Februari 2026, Israel melancarkan serangan udara ke bangunan yang terletak di dekat pemakaman di Zeitoun yang berada di kawasan Jalur Gaza (kompas.com, 07/02/2026). 

Telah puluhan bahkan ratusan resolusi perdamaian disusun untuk menghentikan kekejaman Israel, tapi semua itu hanya isapan jempol belaka. Maka apa yang membedakan BoP dengan resolusi perdamaian yang sudah sudah?

Alih-alih berusaha memerdekakan Palestina, BoP lebih tampak berusaha mengamankan kepentingan Israel atas Palestina terutama Gaza. Maka, bergabungnya negeri-negeri Muslim dalam BoP sejatinya sama dengan mendukung proyek Zionisme mereka. 

Terpecahbelahnya kaum muslim dalam sekat negara bangsa (nasionalisme) menjadikan kekuatan mereka mandul dalam melawan kezaliman dan tersibukkan dengan urusan menjaga keamanan kawasan masing-masing. 

Padahal, Islam adalah agama yang senantiasa berdiri tegak melawan kezaliman, terlebih jika yang menjadi korban adalah saudara seiman. 

AS adalah sekutu sejati Israel. Perdamaian ala AS-Israel ini merupakan perdamaian semu, dan bukan solusi tuntas atas kekacauan yang terjadi. Hal ini merupakan upaya normalisasi hubungan antara Timur Tengah yang tentunya menguntungkan pihak penjajah Zionis dan pastinya mengabaikan hak-hak umat Muslim.

Kesadaran dan kesatuan umat dalam hal politik dan kepemimpinan sangat diperlukan. Solusi atas masalah Palestina bukanlah dengan mengikuti sandiwara para penjajah, namun dengan memahamkan umat dan penguasa muslim akan pentingnya persatuan di bawah satu kepemimpinan, yang akan membebaskan Palestina dan negeri-negeri Muslim yang terjajah lainnya dari penindasan bahkan genosida.

Sejarah pernah mencatat, Palestina berhasil dibebaskan pada masa Salahuddin Al-Ayubi, ketika kaum muslimin sadar pentingnya persatuan umat. Kala itu, kekuatan Turki, Kurdi, dan dunia Arab dalam militer, politik, dan ekonomi menyatu di bawah bawah kesetuan panji Islam sehingga bisa membebaskan Baitul Maqdis dan menciptakan kembali perdamaian untuk kurun waktu yang sangat lama.
Bagikan:
KOMENTAR