Program tersebut diawali dengan survei lokasi yang dilakukan oleh mahasiswa untuk mengidentifikasi jalur yang paling aman dan mudah diakses oleh masyarakat. Hasil survei kemudian dijadikan dasar dalam penataan jalur evakuasi, mulai dari pemasangan rambu petunjuk arah, pembuatan peta evakuasi, hingga penandaan titik kumpul di lokasi yang relatif aman.
Koordinator tim mahasiswa KKN menjelaskan bahwa banyak warga yang sebelumnya belum mengetahui jalur evakuasi secara pasti. Oleh karena itu, keberadaan rambu dan peta dinilai sangat penting agar masyarakat dapat segera bertindak cepat saat kondisi darurat terjadi.
Selain penataan fisik, mahasiswa KKN juga mengadakan kegiatan sosialisasi dan edukasi kepada warga. Melalui pertemuan warga, penyuluhan, serta simulasi evakuasi, masyarakat diberikan pemahaman tentang langkah-langkah yang harus dilakukan saat bencana terjadi, termasuk cara menyelamatkan diri dan membantu kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya berhenti pada pemasangan rambu, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan bencana,” ujar salah satu mahasiswa KKN.
Warga setempat menyambut baik program tersebut karena dinilai sangat membantu, terutama bagi pendatang baru yang belum mengenal kondisi lingkungan. Beberapa warga mengaku kini merasa lebih tenang karena sudah mengetahui jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul.
Mahasiswa KKN juga mengajak masyarakat untuk ikut menjaga jalur evakuasi agar tetap bersih, tidak terhalang bangunan atau kendaraan, serta mudah dilalui kapan pun dibutuhkan. Menurut mahasiswa, keberlanjutan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif warga.
Dengan adanya kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih siap menghadapi bencana. Program ini menjadi bukti bahwa peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada dunia akademik, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi keselamatan dan kesejahteraan masyarakat.(**)