MBG Simpang Mamplam: Ratusan Siswa Tumbang, BGN Dimana?


author photo

27 Feb 2026 - 15.32 WIB




RADARACEH.ID - BIREUEN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai solusi kesehatan nasional justru berubah menjadi petaka di Simpang Mamplam, Bireuen. Sejak Jumat dini hari (27/2/2026), RSUD dr. Fauziah mulai dibanjiri pasien anak yang lemas tak berdaya akibat dugaan keracunan massal.
Kejadian ini menjadi tamparan keras bagi Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai otoritas tertinggi yang bertanggung jawab atas kualitas dan keamanan pangan program ini.

Krisis di Puskesmas, Pasien Mulai Dilarikan ke RSUD
Pukul 02:00 WIB, suasana mencekam menyelimuti IGD RSUD dr. Fauziah saat ambulans TNI Kodim 0111/Bireuen tiba membawa gelombang pertama pasien. Tidak hanya ambulans, mobil dinas Wakil Ketua DPRK Bireuen, Muslem, turut dikerahkan untuk mengevakuasi korban yang terus berjatuhan.
Mursyidah, salah satu orang tua siswa, tampak kalut saat mendampingi anaknya yang dirujuk. "Setelah di Puskesmas, anak saya harus dibawa ke RSUD karena kondisinya terus melemah," ujarnya getir.

Kegagalan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN)
Kepala Puskesmas Simpang Mamplam, Suryani, mengonfirmasi bahwa jumlah korban telah menembus angka ratusan orang dan terus bertambah. Tim medis di tingkat kecamatan mengaku kewalahan menghadapi ledakan pasien yang tidak sebanding dengan fasilitas medis yang ada.
Tragedi ini memicu kritik tajam terhadap fungsi kontrol BGN. Sebagai badan pusat yang memegang kendali anggaran dan standarisasi pangan, BGN dinilai lalai dalam melakukan supervisi vendor atau dapur umum di daerah.

Catatan Kritis: Bagaimana mungkin makanan yang dilabeli "Bergizi" justru mengandung racun yang membahayakan nyawa anak-anak? Kejadian ini membuktikan adanya celah fatal dalam rantai pasokan dan pemeriksaan higienitas yang seharusnya menjadi standar mati bagi BGN.

Lampu Kuning untuk Program Nasional
Hingga berita ini diturunkan, pihak BGN belum memberikan pernyataan resmi terkait lemahnya pengawasan di lapangan yang menyebabkan ratusan siswa di Bireuen tumbang. Publik kini menuntut pertanggungjawaban nyata, bukan sekadar permohonan maaf, melainkan audit total terhadap seluruh rekanan penyedia MBG agar sekolah tidak berubah menjadi ruang perawatan medis.
Petaka di Simpang Mamplam adalah sinyal bahaya: Jika BGN tidak segera membenahi sistem pengawasannya, program MBG hanya akan menjadi proyek ambisius yang mengorbankan keselamatan generasi muda.
(oeL)
Bagikan:
KOMENTAR