SAMBUT RAMADHAN: MENGEMBALIKAN KETAATAN TOTAL KEPADA ALLAH SWT, MEWUJUDKAN ISLAM KAFFAH


author photo

15 Feb 2026 - 22.25 WIB



Oleh Rina Rahmi

Ramadhan selalu datang membawa pesan perubahan. Ia bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi bulan kebangkitan kesadaran. Di tengah berbagai dinamika politik global—termasuk isu normalisasi dan berbagai proposal perdamaian yang diklaim sebagai solusi konflik Palestina—umat Islam perlu jernih membaca realitas. Setiap gagasan politik global harus ditimbang dengan standar syariat, bukan sekadar narasi “perdamaian” yang sering kali menyimpan kepentingan.
Allah SWT telah mengingatkan dalam Al-Qur’an:

“…Dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk menguasai orang-orang beriman.” (QS. An-Nisa: 141)

Ayat ini menjadi prinsip penting bahwa umat Islam tidak boleh rela berada dalam dominasi atau kendali pihak yang memusuhi Islam. Dalam konteks konflik Palestina, banyak pihak menawarkan skema perdamaian dan negosiasi. Namun fakta sejarah menunjukkan bahwa berbagai perjanjian sering kali tidak menghentikan penjajahan, bahkan justru mengokohkannya dalam bentuk baru: penjajahan politik, ekonomi, dan keamanan.
Sebagian negeri Muslim bahkan ikut dalam forum-forum internasional yang mengatasnamakan stabilitas dan perdamaian kawasan. Hal ini menjadi ironi besar, ketika Palestina masih dijajah, justru ada yang memilih jalur kompromi politik. Mestinya umat perlu waspada bahwa tidak semua tawaran “damai” menghadirkan keadilan. Perdamaian tanpa keadilan hakiki sering kali hanya memperpanjang ketidakadilan itu sendiri.

 *Akar Masalah: Ketiadaan Junnah bagi Umat* 

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya imam (pemimpin) itu adalah junnah (perisai), yang orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan bahwa kepemimpinan politik dalam Islam, yaitu khilafah, berfungsi sebagai pelindung umat. Ketika umat Islam terpecah dalam batas-batas nasionalisme dan kepentingan masing-masing, tidak ada satu kekuatan pemersatu yang menjadi perisai bersama. Akibatnya, penjajahan tidak hanya berbentuk militer, tetapi juga pemikiran, ekonomi, budaya, dan sistem hukum.
Penjajahan pemikiran tampak dari diterimanya standar-standar asing sebagai rujukan kebenaran. Penjajahan politik tampak dari ketergantungan pada kekuatan global. Penjajahan ekonomi tampak dari dominasi sistem ribawi dan utang luar negeri. Semua ini menunjukkan bahwa problem umat bukan sekadar konflik wilayah, tetapi problem sistemik yaitu ketiadaan penerapan Islam secara menyeluruh (kaffah) dalam kehidupan.

 *Ramadhan: Momentum Menaikkan Kesadaran Umat* 

Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Hakikat takwa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi ketaatan total kepada Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Setiap muslim hendaknya menjadikan Ramadhan sebagai momentum mencerdaskan pemikirannya.
Setiap muslim harus menyadari bahwa tidak semua ide dan sistem hidup yang dia jalani saat ini berasal dari Islam. Sekularisme, kapitalisme, liberalisme, nasionalisme, dan turunannya, semuanya adalah produk pemikiran yang lahir dari sejarah peradaban Barat dan tidak sejalan dengan akidah Islam. Tanpa kewaspadaan intelektual, seorang muslim mudah terseret dalam arus pemikiran yang menjauhkan dari syariat.
Setiap muslim harus membina dirinya dengan Islam secara kaffah/menyeluruh, baik akidahnya, ibadahnya, akhlaknya, muamalahnya, termasuk didalamnya sistem sosial-politiknya perlu dibina dengan Islam. Karena Islam bukan hanya agama spiritual, tetapi Islam juga memiliki seperangkat aturan kehidupan.

 *Islam sebagai Mu’alajah Musykilah* 

Islam datang sebagai solusi atas problem manusia. Dalam persoalan dalam negeri, seperti korupsi, ketimpangan ekonomi, pendidikan, krisis moral, kesehatan, dan lain2, Islam memiliki aturan yang jelas. Dalam persoalan luar negeri, penjajahan, konflik internasional, ketidakadilan global, Islam juga memiliki panduan hubungan internasional seperti yang telah dicontohkan oleh Rasulullah sa.
Karena itu, setiap persoalan harus dikembalikan pada syariat. Bukan sekadar mencari solusi pragmatis jangka pendek, tetapi solusi mendasar yang selaras dengan wahyu. Islam sebagai mu’alajah musykilah (solusi problem kehidupan) menuntut penerapan menyeluruh, bukan parsial.

 *Ramadhan dan Kewajiban Ber-Islam Kaffah* 

Allah SWT berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah)…” (QS. Al-Baqarah: 208)

Ayat ini menegaskan bahwa Islam tidak boleh diambil sebagian dan ditinggalkan sebagian. Ketaatan total kepada Allah adalah inti takwa. Ramadhan menjadi saat terbaik untuk memperbarui komitmen ini, bahwa kita tidak hanya taat dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara berpikir, bersikap, dan berjuang. Dengan ilmu yang dimiliki, seorang muslim hendaknya berani menyuarakan kebenaran, mengingatkan bahaya penjajahan dalam berbagai bentuk, dan menyerukan kembalinya umat pada penerapan Islam secara menyeluruh.
Seruan ini bukan seruan kebencian, melainkan seruan kemuliaan. Bukan seruan konflik tanpa arah, tetapi seruan untuk membangun kekuatan umat berdasarkan akidah dan syariat.

Akhirnya, menyambut Ramadhan bukan hanya dengan persiapan menu berbuka atau target khatam Al-Qur’an, tetapi dengan tekad memperjuangkan ketaatan total kepada Allah SWT. Ketika umat kembali pada Islam secara menyeluruh, di situlah kemuliaan akan kembali. Ramadhan harus menjadi momentum transformasi—dari kesadaran individu menuju kebangkitan umat.
Semoga Allah SWT menjadikan Ramadhan kali ini sebagai awal kebangkitan kesadaran dan penguatan komitmen kita untuk hidup dalam naungan Islam secara kaffah, demi terwujudnya kemuliaan Islam, kaum muslimin dan tegaknya keadilan di muka bumi. Aamiin.
Bagikan:
KOMENTAR