‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Disiplin Tanpa Iman, Hasilnya Hanyalah Perlawanan


author photo

25 Mar 2026 - 19.37 WIB



Oleh : Vebriyanthie Orcheva (Pemerhati Media Sosial)

Ada satu hal yang mungkin tidak kita sadari : semakin sering razia dilakukan, ternyata tidak otomatis membuat pelajar semakin sadar. Justru terkadang mereka semakin pintar dalam mencari celah. Seperti yang terjadi di Bengkulu, sejumlah pelajar putri nekat menyamar menjadi laki-laki demi bisa membolos dan merokok di warung saat jam pelajaran. Dan mereka menyimpan kerudungnya di dalam tas, kemudian berganti pakauan agar tidak mudah dikenali. Peristiwa ini terungkap ketika Satpol PP melakukan razia rutin terhadap pelajar yang berkeliaran di luar sekolah pada saat jam belajar mengajar tengah berlangsung.
Jujur saja, ini bukan hanya sekedar cerita tentang “anak nakal”. Namun ada suatu hal yang lebih dari itu. Ada kegelisahan yang seharusnya kita rasakan bersama. Bagaimana bisa seorang pelajar putri sampai menyamar, menipu, bahkan menyamarkan identitas dirinya hanya untuk menikmati kebebasan sesaat?
Tentu saja ini menjadi sebuah peringatan keras buat kita semua, bahwa ada yang salah dalam cara kita membina generasi muda. Mungkin kita terlalu sibuk untuk menertibkan yang terlihat dipermukaan saja, atau kita terlalu sibuk mengejar nilai akademiknya saja, sehingga kita lupa untuk menyentuh apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka.
Razia demi razia gencar dilakukan. Sanksi demi sanksi diberlakukan. Tapi kenapa perilaku seperti ini terus berulang? Jawabannya sederhana namun sering diabaikan, kita hanya mengatur perilaku, tapi tidak membangun cara berfikir dan cara bersikap. Padahal dalam Islam keduanya merupakan pondasi utama.
Dalam Islam, tindakan menyerupai lawan jenis (tasyabbuh) bukanlah suatu hal yang dianggap sepele. Rasulullah SAW bersabda, “Allah melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki.” (HR. Bukhari). Larangan ini bukan untuk membatasi, tapi untuk menjaga fitrah dan kehormatan manusia. Akan tetapi ketika nilai ini tidak ditanamkan sejak awal, maka pelanggaran yang dilakukan tidak lagi dianggap sebagai sebuah kesalahan.
Namun hari ini, batasan itu mulai kabur. Kita hidup dalam arus pemikiran sekuler liberal yang menjadika kebebasan sebagai nilai utama. Pelajar di dorong untuk merasa bahwa mereka bebas menentukan apapun, selama tidak dianggap merugikan orang lain. Akhirnya, ukuran benar dan salah menjadi relatif. Membolos dianggap biasa. Merokok dianggap sebagai sebuah pilihan. Bahkan mengubah penampilan demi kenyamanan dianggap suatu hal yang wajar.
Sejatinya Islam sudah memberikan solusi yang sangat mendasar. Islam tidak hanya mengatur perilaku, tapi membentuk manusia dari dalam. Melalui aqliyah (cara berfikir) Islam, yang artinya seseorang diajarkan untuk menilai segala sesuatu dengan standar syari’at, bahwa setiap perbuatan diukur dengan halal dan haram. Melalui nafsiyah (cara berfikir) Islam, yang artinya seseorang dibentuk agar memiliki dorongan untuk taat, memiliki rasa malu, dan takut kepada Allah SWT. Kalau dua hal ini ditanamkan, maka aturan hanya akan ditaati ketika ada pengawasan saja.
Dalam Islam, membina generasi bukan hanya tugas sekolah semata. Ini adalah tanggung jawab bersama: keluarga, masyarakat, dan negara. Orang tua menanamkan aqidah sejak dini. Lingkungan masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan. Negara memastikan sistem pendidikan tidak hanya mencetak anak pintar, tapi juga anak yang berkepribadian Islam.
Pendidikan dalam Islam tidak behenti pada nilai akademiknya saja. Ia membentuk syakhsiyah Islamiyah, kepribadian yang berfikir dan bersikap sesuai dengan syari’at. Pelaja dididik untuk memiliki rasa malu, menjaga kehormatan diri, dan memahami bahwa setiap perbuatan akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah.
Allah SWT berfirman, “Wahai oang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluagamu dari api neaka”(QS.At Tahrim:6). Ayat ini menjadi pengingat bahwa menjaga generasi bukan hanya soal dunia, tapi juga akhiat.
Sistem yang ada hari ini belum sampai ke sana. Negara lebih fokus pada aturan teknis. Sekolah sibuk dengan target kurikulum. Sementara media dan lingkungan justru sering mengajarkan kebebasan tanpa batas. Maka tidak heran jika razia terasa seperti solusi instan yang cepat hilang dampaknya.
Islam menawarkan solusi yang lebih menyentuh akar. Aqidah di jadikan pondasi utama. Setiap anak dibangun kesadarannya bahwa ini terikat dengan aturan Allah. Dengan begitu, ketaatan tidak bergantung pada pengawasan manusia.
Sejarah memberi kita gambaran nyata. Di masa Rasulullah SAW, para sahabat memiliki rasa malu yang begitu kuat. Bukan karena takut dihukum manusia, tapi kaena takut kepada Allah. Bahkan tanpa pengawasan, mereka menjaga diri.
Begitu juga di masa Khalifah Umar bin Khattab. Beliau tidak hanya membuat atuan, tapi memastikan masyarakat hidup dalam suasana yang mendukung ketaatan. Beliau bahkan berkeliling malam untuk memastikan tidak ada rakyatnya yang terabaikan. Ini menunjukan bahwa negara hadir sebagai pembina, bukan sekedar penindak.
Bayangkan jika konsep ini benar-benar diterapkan hari ini. Anak-anak tidak hanya takut pada razia, tapi takut melanggar karena sadar Allah selalu malihat. Mereka tidak perlu disuruh untuk disiplin, karena dalam dirinya sudah ada dorongan untuk taat.
Maka, kalau hari ini kita masih berharap perubahan hanya dari razia, mungkin kita sedang beharap pada sesuatu yang tidak cukup kuat. Razia bisa menghentikan suatu kejadian, tapi tidak bisa membentuk kepribadian.
Yang kita butuhkan adalah penanaman nilai. Penanaman iman. Pembentukan cara berfikir dan cara bersikap sesuai dengan Islam. Karena pada akhirnya, generasi yang kuat bukanlah yang patuh saat diawasi, tapi yang tetap taat meski tidak ada yang melihat.
Wallahu a’lam bishshawab
Bagikan:
KOMENTAR