Malam-Malam Terakhir Ramadhan dan Kesadaran Perjuangan Umat


author photo

11 Mar 2026 - 09.42 WIB



oleh : Hadi Irfandi, S. Pd.

Bulan puasa sering dipahami sebagai kesempatan untuk memperbanyak ibadah personal seperti membaca Al-Qur’an, salat malam, dan memperbaiki diri. Semua itu benar dan sangat penting. Namun marilah melihat lebih dalam. Ramadhan juga mengandung pesan yang lebih luas yakni bagaimana seorang muslim tidak hanya memperbaiki dirinya, tetapi juga ikut memperbaiki keadaan umat dan masyarakat. 

Salah satu momen paling agung di bulan ini adalah Lailatul Qadr. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam ini "lebih baik dari seribu bulan" (TQS al-Qadr: 3). Para ulama menjelaskan bahwa ibadah pada malam tersebut nilainya lebih besar daripada ibadah selama puluhan tahun. Rasulullah ﷺ bahkan menjanjikan ampunan dosa bagi siapa saja yang menghidupkannya dengan iman dan keikhlasan. Karena itu, umat Islam dianjurkan berburu Lailatul Qadr terutama pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan.

Namun menariknya, Allah merahasiakan kapan tepatnya Lailatul Qadr terjadi. Para ulama menjelaskan bahwa hikmah dari hal ini adalah agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang Ramadhan, bukan hanya menunggu satu malam tertentu. Seharusnya ini kita baca sebagai ajang kesungguhan dan konsistensi dalam beramal.

Lebih lanjut, dalam sejumlah hadis Rasulullah ﷺ juga dijelaskan bahwa ada amal yang nilainya sangat besar, bahkan bisa melampaui keutamaan ibadah yang bersifat individual. Salah satunya adalah perjuangan di jalan Allah (HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqi), yakni usaha menjaga agama dan memperjuangkan kebenaran. Bunyinya disebutkan bahwa berjaga satu waktu di medan perjuangan bisa lebih utama daripada menghidupkan Lailatul Qadr di tempat yang paling mulia sekalipun.

Pesan dari hadis ini bukan sekadar tentang perang, tetapi tentang pentingnya menjaga agama dan kebenaran di tengah kehidupan manusia. Artinya, Islam tidak hanya mengajarkan ibadah pribadi, tetapi juga tanggung jawab sosial.

Ketika Kebenaran Harus Tetap Disampaikan

Di masa sekarang, sebagian besar umat Islam hidup dalam kondisi damai. Kita tidak berada di medan perang seperti pada masa awal Islam. Namun bukan berarti kesempatan untuk berjuang dalam kebaikan tertutup. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa salah satu bentuk perjuangan terbesar adalah menyampaikan kebenaran di hadapan kekuasaan yang zalim.

Dalam istilah Islam, ini dikenal sebagai amar makruf nahi mungkar, yaitu mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Secara sederhana, ini berarti tidak diam ketika melihat ketidakadilan, kebohongan, atau kebijakan yang merugikan masyarakat. Tentu cara melakukannya bukan dengan kekerasan, tetapi melalui dakwah, pemikiran, dialog, dan kritik yang bertanggung jawab.

Al-Qur’an sendiri menegaskan pentingnya peran tersebut. Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali ‘Imran: 104). Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah bukan sekadar pilihan, melainkan tanggung jawab yang harus ada dalam kehidupan umat.

Sejarah dakwah Rasulullah ﷺ juga menunjukkan hal yang sama. Ketika pertama kali menyampaikan Islam di Makkah, beliau tidak langsung memiliki kekuasaan. Dakwah dimulai dari pembinaan individu-individu yang memiliki pemahaman Islam kuat. Setelah itu, dakwah berkembang dengan berinteraksi dengan masyarakat luas, menjelaskan nilai-nilai Islam, serta mengkritik sistem yang tidak adil.

Proses ini bisa dipahami sebagai perjalanan membangun kesadaran. Islam tidak hanya ditawarkan sebagai keyakinan pribadi, tetapi juga sebagai pandangan hidup yang mengatur hubungan manusia dengan sesama dan dengan kekuasaan. Karena itu, dakwah Rasulullah tidak berhenti pada pengajaran ibadah, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan politik masyarakat.

Akhirnya, ketika masyarakat Madinah siap menerima Islam sebagai sistem kehidupan, Rasulullah ﷺ hijrah ke sana dan membangun pemerintahan yang menerapkan nilai-nilai keadilan Islam.

Tugas Besar Umat Islam

Dari sini terlihat bahwa Ramadhan tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga kepedulian terhadap kondisi umat. Lailatul Qadr mengajarkan nilai ibadah yang sangat tinggi, sementara dakwah dan amar makruf nahi mungkar mengingatkan bahwa seorang muslim juga memiliki tanggung jawab sosial.

Karena itu, Ramadhan seharusnya tidak membuat umat hanya fokus pada ibadah yang bersifat individual. Justru bulan ini bisa menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran tentang arah perjuangan: memperbaiki diri sekaligus memperbaiki masyarakat.

Dengan cara itulah Ramadhan menjadi lebih bermakna. Kita tetap mengejar Lailatul Qadr dengan ibadah terbaik, tetapi pada saat yang sama tidak melupakan tanggung jawab untuk menyuarakan kebenaran dan membangun kehidupan yang lebih adil.

Singkatnya, Ramadhan bukan hanya tentang malam yang penuh keberkahan, tetapi juga menjadi pribadi yang lebih taat sekaligus lebih peduli terhadap masa depan umat secara global.

Penulis merupakan Sarjana Pendidikan Agama Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh sekaligus Pengamat Sosial Kepemudaan Islamic Civilization In Malay Archipelago Forum (ICOMAF). Aktif mengisi media online dengan tulisannya seputar Dakwah Ideologis. "Dari membaca, revolusi berkobar" adalah mottonya.
Bagikan:
KOMENTAR