Pendidikan dan Arah Peradaban: Ke Mana Generasi Akan Dibawa?


author photo

11 Mar 2026 - 18.18 WIB




Oleh : Wardatil Hayati (Pemerhati Ibu & Generasi) 

Pemerintah Kota Samarinda menerima kunjungan Kedutaan Besar Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, perwakilan Public Affairs Kedubes AS menyampaikan keinginan untuk membuka akses dan kesempatan bagi pelajar Samarinda melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Mereka mengaku terkesan dengan kualitas siswa dan sekolah yang ada serta berharap dapat mendukung sektor pendidikan, khususnya dalam membuka peluang studi ke negeri Paman Sam.
(https://presisi.co/read/2026/02/04/19567/kedubes-amerika-serikat-ingin-pelajar-samarinda-lanjutkan-studi-ke-negeri-paman-sam) 

Sekilas ini tampak sebagai bentuk kerja sama pendidikan biasa. Dari segi siswa, ini juga keren. Namun, dalam konteks hubungan internasional, pendidikan justru menjadi pintu masuk pemikiran dan kepentingan politik suatu negara. 

Menurut Syaikh Taqiyuddin dalam kitab At - Takattul al Hizbi menjelaskan bahwa penjajahan modern tidak selalu berbentuk militer, tapi justru melalui perang pemikiran. Beliau menegaskan bahwa Barat berusaha menanamkan pemikiran dan konsep hidupnya ke dalam tubuh umat Islam agar umat menerima sistem mereka tanpa paksaan fisik.

Apalagi kita tahu, Amerika Serikat adalah negara adidaya yang menjadi kompas kapitalis. Dalam sistem ini, agama dipisahkan dari kehidupan (sekularisme). Standar kehidupannya adalah kebebasan, sehingga pendidikan di negara tersebut tentu dibangun atas standar tadi. 

Lalu, apakah tawaran kerjasama pendidikan ini murni akademik? Ataukah bagian dari strategi membangun pengaruh melalui pendidikan dan budaya?

Sejarah menunjukkan bahwa pendidikan sering dijadikan sarana membentuk cara pandang generasi muda. Banyak elit di negeri-negeri Muslim yang menempuh pendidikan di Barat, lalu kembali dengan pola pikir dan kebijakan yang selaras dengan sistem kapitalisme global. Akibatnya, arah pembangunan negeri cenderung mengikuti model Barat, baik dalam ekonomi, politik, maupun sosial budaya. Misalnya sistem ekonomi ribawi yang diadopsi banyak negara Muslim. Lalu juga, standar keberhasilan pendidikan yang diukur dari keterikatan dengan pasar dan industri kapitalis. Kurikulum yang hanya menempatkan agama sekadar pelajaran tambahan, bukan fondasi kehidupan. Di sinilah letak kekhawatiran, jika generasi Muslim tidak memiliki pondasi aqidah yang kuat, maka mereka akan mudah terpengaruh dan menjadikan Barat sebagai kiblat peradaban.

Islam memandang pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi pembentukan syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam), pola pikir dan pola sikap yang dibangun di atas aqidah Islam.

Allah SWT berfirman:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Namun ilmu dalam Islam harus terikat pada iman dan digunakan untuk kemaslahatan sesuai syariat.

Rasulullah membangun generasi sahabat dengan pendidikan berbasis aqidah di Darul Arqam. Hasilnya? Lahir generasi seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Ibnu Abbas, yang bukan hanya ahli ibadah tetapi juga pemimpin, administrator, dan pemikir.

Pada masa Khilafah, sistem pendidikan Islam melahirkan ilmuwan besar seperti Al-Khawarizmi (ahli matematika), Ibnu Sina (kedokteran), Al-Farabi (filsafat dan politik) dll. Mereka menguasai ilmu dunia tanpa kehilangan identitas keislaman. Islam saat itu justru menjadi mercusuar dunia.

Islam tidak melarang mengambil sains dan teknologi dari luar. Rasulullah sendiri pernah mengambil strategi perang Khandaq dari Persia. Namun yang dilarang adalah mengambil ideologi dan nilai yang bertentangan dengan Islam.

Sudah saatnya umat tidak menggantungkan harapan pendidikan pada sistem kapitalisme global, tetapi pada syariat Allah yang telah terbukti melahirkan peradaban agung. Karena berbicara generasi bukan sekadar soal pintar, tetapi soal arah. Dan arah hanya akan lurus jika kompasnya benar, yaitu Islam sesuai wahyu. 

Wallahu 'alam bis shawwab.
Bagikan:
KOMENTAR