Ramadan: Membentuk Jati Diri Pemuda Muslim Sejati


author photo

11 Mar 2026 - 09.34 WIB


  
Oleh: Zakiyatul Fakhiroh, S.Pd (Pendidik)

Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Usia ini sangat menentukan akan jadi apa seseorang di masa depan. Apakah menjadi manusia yang terpanah silaunya dunia, ataukah yang teguh dengan prinsip dan nilai-nilai agama.

Separuh Ramadan telah berlalu. Sebagian pemuda berlomba dengan tadarus mengejar khatam 30 juz Al Quran, sebagian menghidupkan tarawih lalu mengejar tanda cinta sang Imam, sebagian khusyuk dalam diam, menghayati setiap helaan nafas dan hak tubuh tuk rehat sejenak dari aktifitas yang memberatkan.

Sayangnya, sebagian yang lain sibuk berkutat dengan dunia, menganggap puasa sebagai beban, tak menemukan makna indahnya Ramadan. Maka tak jarang, kita jumpai pemuda muslim yang dengan santainya menikmati jajanan di pinggir jalan di bulan Ramadan. Pemuda yang asyik menikmati isapan rokok elektrik, seolah kenikmatan tiada tara. Kita jumpai pula di ruang-ruang media sosial, "mokel" menjadi trend, ditertawakan, dianggap lucu-lucuan. Astaghfirullahaladzim.

Pemuda, remaja, atau apalah namanya, memang identik dengan pencarian jati diri, naluri ingin eksis, ingin diakui. Di usia muda, hawa nafsu menggebu, meminta dipenuhi. Tapi nafsu tak melulu harus dituruti. Apalah jadinya jika semua manusia hanya memperturutkan nafsu, tentu tak ada bedanya dengan binatang.

Penting memahami bahwa puasa hakikatnya bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga menahan diri dari hal-hal yang membuat pahala puasa hangus, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari. Setidaknya ada lima hawa nafsu yang harus kita tundukkan:
Pertama, nafsu makan dan minum. Puasa melatih kita menahan kebutuhan fisik bukan untuk menyiksa diri, tapi melatih disiplin dan rasa syukur.
Kedua, nafsu amarah. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa orang kuat adalah yang mampu menahan marah. Ramadan melatih kita untuk tidak mudah tersulut emosi, meski sedang lapar dan lelah. 
Ketiga, nafsu lisan. Puasa mengajarkan untuk menghindari ghibah, berkata kasar, berdusta, dan saling mencaci. Sungguh rugi perut puasa, tapi pahala habis tak bersisa.
Keempat, nafsu malas. Jangan jadikan lemas sebagai alasan untuk meninggalkan shalat, tilawah, membantu orang tua, sekolah, dan kewajiban lainnya.
Kelima, nafsu syahwat. Di bulan mulia ini kita harus extra menjaga diri dari hal-hal yang mengarah pada perbuatan maksiat, baik melalui pergaulan maupun tontonan.
Lima nafsu inilah yang sering menjadi ujian terbesar bagi kaum remaja. Allah berfirman dalam Surat An Naziat ayat 40-41:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ  


 فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ      

"Dan adapun orang-orang yang takut pada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)."
Inilah janji Allah, yaitu surga bagi mereka yang mampu menundukkan nafsunya. Puasa bukan hanya latihan fisik, tetapi pembentukan karakter. Puasa melahirkan pribadi yang lebih disiplin, sabar, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia. 

Ramadan adalah kesempatan emas untuk membuktikan generasi muda bukan generasi lemah, tapi generasi yang mampu menjaga iman dan kehormatan diri. Masih ada sisa Ramadan di hadapan kita. Jangan biarkan ia berlalu tanpa perubahan. Jadikan hari-hari yang tersisa sebagai titik balik untuk membentuk jati diri yang kuat, beriman dan berakhlak mulia. Karena remaja yang hebat adalah yang mampu mengendalikan diri karena takut kepada Allah. Wallahu a'lam bishshawab
Bagikan:
KOMENTAR