Oleh: Nana Juwita, S.Si.
Kondisi generasi muda saat ini memang tidak baik-baik saja, dengan usia yang masih muda di mana seharusnya mereka lebih bersemangat dalam hal menuntut ilmu, namun yang terjadi malah sebaliknya. Dikutip dari (regional.kompas.com, 2026/03/13) Satpol PP Kota Bengkulu mendapati sejumlah siswi yang nekat menyamar menjadi laki-laki untuk membolos sekolah. Mereka kedapatan sedang merokok dan nongkrong di warung saat jam pelajaran berlangsung. Sahat M Situmorang selaku Kepala Satpol PP Kota Bengkulu menyampaikan bahwa penangkapan tersebut bermula saat petugas melakukan razia rutin terhadap pelajar yang berkeliaran di luar sekolah pada jam belajar.
Kasus-kasus yang terjadi pada generasi muda hari ini memang sangat beragam, diantaranya kasus bunuh diri, bullying, hingga kasus kriminal yang tidak jarang pelaku nya juga generasi muda. Semua ini bermuara dari pola pendidikan yang sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan) sehingga hari ini generasi tidak lah menggunakan standar halal dan haram ketika beramal. Namun, mereka berprilaku atas dasar kebebasan, sehingga mereka merasa bebas bertindak dan berpendapat sekalipun tindakan dan pendapat mereka melanggar syariat.
Seperti kasus siswi menyamar sebagai laki-laki hanya sekedar untuk membolos, ini menunjukkan bahwa generasi pada hari ini tidak memahami aturan terkait hukum menyamar sebagai laki-laki menurut pandangan Islam. Oleh karena itu, fenomena razia kedisiplinan siswa oleh aparat Pemda dan Sekolah harus lah diimbangi oleh penanaman nilai Aqliyah dan Nafsiyah Islam jika tidak akan percuma. Aqliyah adalah pola fikir yang berisi tentang pemahaman Islam atau ide-ide Islam, sehingga generasi diharapkan tidak hanya menguasai ilmu dunia tetapi mereka juga harus lah memiiliki saqafah Islam agar mampu bertahan dalam mengarungi persoalan kehidupan. Begitu pun terkait Nafsiyah yaitu pola sikap maka generasi haruslah berprilaku yang Islami, sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Jika pola fikir dan pola sikap nya sudah sejalan maka mereka akan menjadi generasi yang berkepribadian Islam. Namun,untuk mewujudkan hal tersebut bukanlah hanya tanggung jawab guru atau pun orang tua, akan tetapi dibutuhkan peran negara untuk dapat menghasilakn generasi berkualitas.
Siswi melakukan tasyabuh (berpenampilan seperti laki-laki) menandakan ketidakpahaman mereka terhadap syariat Islam terkait hukum tasyabuh. Hal ini bisa dipengaruhi oleh paham sekuler liberal dimana identitas laki-laki dan perempuan tidak perlu ada batasan yang jelas. Ini membuktikan generasi hari belum menjadikan Islam sebagai aturan dalam berprilaku. Padahal Islam jelas menerangkan dalam Hadits Nabi SAW yang artinya:
"Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki." (HR. Bukhari, no. 5885).
Ada pun kata "laknat" tersebut menunjukkan tindakan tersebut adalah dosa besar dan haram, baik dalam hal berpakaian, bersikap, maupun berdandan.
Namun, akibat sekularisme hari ini laki-laki menyerupai perempuan atau pun sebaliknya dianggap hal yang lumrah. Mengapa?? Karena kebebasan yang menjadi landasan. Sekularisme liberal menjadikan kebebasan sebagai nilai utama dalam kehidupan. Kesuksesan manusia diukur dari seberapa banyak materi yang dimiliki. Generasi didorong untuk merasa bahwa mereka berhak menentukan apa pun yang ingin dilakukan selama dianggap “tidak merugikan orang lain”. Konsep kebebasan ini akhirnya mendorong perilaku menantang aturan, termasuk membolos, merokok, hingga prilaku tasyabuh.
Begitu pun, solusi yang ditetapkan negara sekuler liberal tidak menyentuh akar persoalan. Program razia untuk menegakkan kedisiplinan siswa jauh panggang dari api. Karena yang diperlukan bukan hanya sekedar razia kedisiplinan namun hal sangat utama adalah upaya pembinaan generasi yang wajib dilakukan oleh keluarga,masyarakat dan negara. Yaitu dengan cara menanamkan aqidah Islam sebagai pondasi utama dalam berfikir dan bersikap. Generasi harus memahami bahwa mereka adalah makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT sehingga mereka wajib untuk terikat dengan aturan Allah SWT. Karena kelak setiap perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT, sisi ini lah yang tidak didapatkan oleh generasi pada hari ini,baik di rumah, atau pun sekolah.
Sementara itu, Islam menekankan pembentukan kepribadian Islam (syakhsiyah Islamiyah). Pendidikan tidak hanya menekankan kecerdasan intelektual, tetapi juga pembentukan pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat. Generasi dibentuk menjadi pribadi yang memiliki rasa malu, tanggung jawab, dan kehormatan diri. Islam juga memiliki aturan pergaulan yang jelas antara laki-laki dan perempuan. Aturan ini menjaga kehormatan dan identitas masing-masing. Larangan menyerupai lawan jenis, misalnya, bukan sekadar aturan simbolik, tetapi bagian dari penjagaan fitrah manusia.
Oleh karena itu, negara dalam sistem Islam berperan aktif dalam menjaga moral generasi. Misalnya bagaimana negara mampu mengontrol media sosial yang memberikan contoh negatif pada generasi hari ini baik melalui tontonan dll. Dengan demikian,negara tidak hanya mengurus aspek administratif pendidikan, tetapi memastikan kurikulum, lingkungan sosial, dan media agar mendukung terbentuknya generasi yang bersyakhsiyah Islamiyah. Islam juga menumbuhkan lingkungan masyarakat yang saling menjaga dalam kebaikan, dengan melakukan aktivitas amar makruf nahi munkar, sehingga dengan begini generasi terjaga dari perbuatan maksiat. Waulahuaklam bisshawab