‎ ‎
‎ ‎

Rupiah Melemah, Beban Masyarakat Menengah Bawah Makin Berat


author photo

23 Mei 2026 - 18.57 WIB



Oleh : Lilis
(Aktivis Dakwah Kampus) 

Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian publik. Kondisi ini diperparah dengan rupiah yang dilaporkan menyentuh level 17.600 per dolar AS. Depresiasi rupiah terhadap dolar membuat perekonomian di Indonesia semakin mengkhawatirkan dimana harga bahan baku seperti kedelai dalam tiga bulan terakhir, terus mengalami kenaikan, yang semula di kisaran 7.000 per kilogram kini tembus menjadi 10.500 per kilogram itupun hanya untuk jenis kedelai yang paling murah (News Indonesia,16/5/2026).

Dampak melemahnya nilai tukar rupiah juga dirasakan oleh ribuan nelayan di Pati yang menggelar aksi demonstrasi sebagai bentuk protes terhadap kenaikan harga solar yang mencapai 4 kali lipat. Adanya hal ini membuat rakyat semakin terhimpit kebutuhan hidup serta meningkatnya biaya operasional di berbagai sektor membuat rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan hidup hingga berujung pada jeratan layanan pinjaman online (pinjol) sebagai alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Di tengah ramainya pembahasan tersebut, Presiden RI Prabowo Subianto, menanggapi situasi tersebut dengan tenang, Prabowo menilai masyarakat kecil, terutama di desa, tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dolar. “Rakyat di desa enggak pakai dolar kok,” ujar Prabowo dikutip dari tayangan YouTube Setpres, sabtu. 

Prabowo menegaskan kondisi pangan dan energi nasional masih aman di tengah situasi global yang tidak menentu. “Pangan aman, energi aman, banyak negara panik, Indonesia masih oke,” ujarnya (Kompas,16/5/2026).

*Mengapa Rupiah Terus Melemah?*
Terdapat dua faktor utama yang memengaruhi kondisi tersebut: 

Pertama, faktor luar negeri (eksternal). Perang AS-Israel dengan Iran yang dimulai sejak 28 Februari. Adanya pemblokiran Selat Hormuz oleh Teheran, cukup mengganggu stabilitas ekonomi dunia mengingat Selat Hormuz dilalui 20% minyak dunia dan gas alam cair, membuat distribusi minyak dan gas terhambat, harganya jadi melambung. 

Kedua, faktor dalam negeri (domestik). Pemasukan dan pengeluaran duit negara, cicilan utang dan uang cadangan ikut mempengaruhi. Melemahnya nilai tukar mata uang tidak lepas dari tingginya suku bunga dan inflasi global. Hal ini berdampak besar terhadap kehidupan rakyat, terlebih masyarakat menengah ke bawah. Bagaimana tidak, sebagian besar bahan baku yang dibutuhkan untuk aktivitas dalam negeri berasal dari impor sehingga pengusaha harus merogoh kocek lebih dalam untuk membeli bahan baku di tengah krisis nilai rupiah. Akibatnya, biaya produksi meningkat dan barang-barang yang sampai ke konsumen mengalami kenaikan.

*Kebijakan Pemerintah: Solusi atau Tambal Sulam?*
Bank Indonesia dan pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah untuk menahan pelemahan rupiah, seperti intervensi pasar valuta asing, pembelian surat berharga negara (SBN), pengawasan pembelian dolar, hingga pemberian subsidi dan bantuan terhadap sektor pangan serta pelaku usaha. Pemerintah juga berupaya menjaga stabilitas harga dengan berbagai program ekonomi dan simulus pasar. 

Namun, langkah-langkah tersebut dinilai belum sepenuhnya menyelesaikan akar permasalahan pelemahan rupiah. Kebijakan yang di buat tanpa ada kalkulasi seperti penambahan program MBG. Alih-alih menyelesaikan masalah, yang terjadi hanya penambahan beban fiskal.

Akibat dari kebijakan pemerintah justru hanya semakin memperburuk keadaan, yang terjadi hanya menambah kenaikan utang negara yang tidak terkendali yang menjadi indikator riil dalam ekonomi. Utang yang terus bertambah dan membengkak tapi kesejahteraan rakyat masih jalan di tempat. Ini tanda bahwa negara kita sedang tidak baik-baik saja, kita sedang menambal kesalahan kebijakan pemerintah dengan gali lubang tutup lubang.

Terdapat perbedaan mendasar antara kapitalisme dan Islam dalam menyelesaikan persoalan ekonomi masyarakat.

*Sistem Kapitalisme dan Rapuhnya Mata Uang Kertas*
Kerapuan mata uang kertas yang ada di dunia menunjukkan bahwa sistem kapitalisme tidak layak di jadikan standar dalam kehidupan. Ketidakstabilan nilai mata uang yang terus terjadi membuktikan bahwa masyarakat membutuhkan solusi yang mampu menghadirkan kestabilan dan keadilan ekonomi secara menyeluruh. 

Islam menawarkan solusi ekonomi yang berlandaskan syariat dengan menjadikan emas dan perak sebagai standar mata uang dalam transaksi. Sistem ini dinilai mampu menjaga kestabilan nilai tukar serta melindungi masyarakat dari inflasi dan krisis ekonomi akibat rapuhnya uang kertas. Penerapan sistem tersebut merupakan bagian dari perintah Allah taala sebagaimana firman-nya dalam surah At-Taubah ayat 34:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۗ وَالَّذِينَ يَكْنِزُونَ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ وَلَا يُنْفِقُونَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

"Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya banyak dari para rabi dan rahib benar-benar memakan harta manusia dengan batil serta memalingkan (manusia) dari jalan Allah. Orang-orang yang menyimpan emas dan perak, tetapi tidak menginfakkannya di jalan Allah, berikanlah kabar ‘gembira' kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) azab yang pedih."

*Dinar dan Dirham: Solusi Stabilitas Ekonomi dalam Islam*
Berbeda dengan sistem Kapitalisme yang menggunakan mata uang kertas, Sistem Islam menggunakan mata uang berbasis emas dan perak yang disyariatkan Allah tidak lain adalah dinar dan dirham. Dinar dan dirham tidak hanya memiliki nilai intrinsik namun juga nilai ekstrinsik. Negara tidak boleh mengeluarkan mata uang kertas tanpa dicadangkan kepada emas dan perak. Sistem uang emas adalah satu-satunya sistem uang terbaik di antara sistem yang lainnya.

Dengan menjadikan logam mulia sebagai dasar mata uang sistem ini berpotensi mengurangi resiko inflasi, mencegah manipulasi ekonomi dan mengembalikan fungsi uang sebagai alat tukar yang adil bagi masyarakat.

Berbeda dengan rupiah yang rapuh, emas termasuk mata uang yang tangguh. Dalam kitab Nidzomul Iqtishodiy fil Islam karya Syekh Taqiyuddin An-Nabhani di jelaskan, bahwa sistem mata uang emas memiliki beberapa manfaat sebagai berikut:

Pertama, memiliki fungsi stabilitas keuangan, moneter, dan keuangan. Kedua, menjaga kurs pertukaran mata uang antarnegara bersifat tetap. Ketiga, akan menimbulkan sikap hati-hati pemerintah dalam mengeluarkan mata uang kertas sebab setiap mata uang yang dicetak harus memiliki jaminan emas dan perak yang tersimpan. Keempat, membuat negara untuk menjaga kekayaan emasnya. Kelima, menghilangkan kelangkaan mata uang.

Dengan demikian, jelas, sistem mata uang emas dan perak tahan terhadap inflasi dan krisis. Kekuatan tersebut akan dimiliki jika negara menggunakan emas dan perak sebagai mata uang resmi. Tentu hal itu tidak mungkin terjadi jika negara masih menjadikan kapitalisme sebagai ideologi dalam mengatur kehidupan. Satu-satunya solusi untuk mengatasi lemahnya nilai mata uang adalah diterapkannya sistem Islam dalam bingkai negara secara kaffah, menjadikan emas dan perak sebagai sistem mata uang sehingga ekonomi rakyat berjalan stabil dan kuat.

Wallahu a'lam bissawab
Bagikan:
KOMENTAR