‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Keseriusan Pembangunan dalam Islam


author photo

10 Apr 2026 - 14.51 WIB



Oleh: Sherlina Sukma

Ibu Kota Nusantara (IKN) saat ini tengah menjadi sorotan dan semakin diminati oleh masyarakat, terutama setelah dibukanya akses bagi publik untuk mengunjungi dan melihat langsung perkembangan ibu kota baru tersebut. Kesempatan ini disambut dengan antusias oleh masyarakat, karena mereka dapat menyaksikan secara nyata hasil pembangunan yang menjadi salah satu proyek strategis nasional. 

Sebanyak 143.126 orang memadati Ibu Kota Nusantara (IKN) selama musim libur lebaran hingga Selasa (24/3/2026) seiring dengan lengkapnya fasilitas yang tersedia di ibu kota baru tersebut seperti tempat ibadah, restoran, kafe, minimarket, hingga tenda dan kedai UMKM. Beragam sarana dan aktivitas menarik tersedia untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan sekaligus informatif bagi para pengunjung.   

Ramainya kunjungan di IKN saat libur hari raya tentu bukan hal yang biasa karena pada dasarnya IKN bukanlah tempat wisata melainkan pusat pemerintahan. Fasilitas penunjang disediakan justru menunjukkan ketidakseriusan membangun IKN, akhirnya jadi "aji mumpung" dimanfaatkan untuk pencitraan positif bahwa IKN masih hidup dan banyak dukungan. Perubahan orientasi pembangunan IKN yang berbiaya besar dari kota pemerintahan (politik) menjadi obyek wisata.  

Antusias masyarakat menunjukkan bahwa kondisi masyarakat sekitar saat ini sangat haus dengan tempat wisata/hiburan. Hal tersebut terjadi dikarenakan penatnya kehidupan dalam sistem kapitalis hari ini. Sejatinya di dalam sistem kapitalis berbagai upaya akan dilakukan untuk meraih atau mewujudkan kepentingan segelintir orang di tengah kondisi yang carut marut dari sisi ekonomi dan sisi lain. 

Apapun akan dilakukan termasuk bagaimana menarik masyarakat untuk berkunjung ke IKN sebagai wujud promosi pada pembangunan IKN. Padahal seyogyanya IKN masih menyisakan permasalahan besar seperti permasalah lingkungan, sosial dan lainnya. Pada akhirnya pembangunan ini tidak memberikan keuntungan bagi kehidupan masyarakat secara umum. 

Islam memandang bahwa wisata, hiburan dan kesenangan adalah hal duniawi yang hukum asalnya adalah mubah. Namun, apabila liburan tersebut tidak memberi apa-apa atau tidak berfaedah membuang waktu saja, liburan tersebut menjadi makruh. Kemudian apabila hiburan tersebut memberikan kesan buruk seperti dapat meninggalkan sholat hukumnya adalah haram. Lalu hiburan yang memberikan kebaikan atau yang berfaedah maka dibenarkan. Intinya adalah semua hiburan boleh dilakukan tetapi sesuai dengan syariat dan tidak bertentangan dengannya. 

Berangkat dari pemahaman bahwa Islam memberikan kelonggaran dalam hal wisata dan hiburan selama tetap berada dalam koridor syariat, maka setiap aktivitas yang dilakukan termasuk mengunjungi tempat-tempat baru seperti Ibu Kota Nusantara perlu diarahkan agar membawa manfaat dan tidak melalaikan kewajiban. Dalam konteks yang lebih luas, hal ini juga menunjukkan bahwa islam tidak hanya mengatur aspek individu dalam memanfaatkan waktu luang, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap kemaslahatan umat secara menyeluruh. 

Oleh karena itu, islam serius dalam pemindahan dan pembangunan ibu kota untuk kemaslahatan umat. Hal tersebut dapat kita teladani salah satunya pada masa dinasti Abasiyyah. Salah satu kontribusi terbesar Dinasti Umayyah adalah pembangunan infrastruktur yang monumental seperti masjid agung Damaskus. Ini merupakan salah satu bangunan keagamaan terbesar dan tertua dalam sejarah Islam, serta menjadi pusat ibadah, ilmu pengetahuan, dan pemerintahan pada masanya. 

Selain pembangunan infrastruktur fisik, Dinasti Umayyah juga memajukan lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan pendidikan. Dinasti Umayyah juga dikenal karena keberhasilannya dalam mengelola wilayah yang sangat luas dan beragam secara budaya. Dengan sistem pemerintahan yang terpusat di Damaskus, Dinasti Umayyah mampu mempertahankan kontrol atas wilayah-wilayah yang jauh seperti Mesir, Afrika Utara, Persia, dan bahkan Spanyol. Dinasti Abbasiyah mencapai kejayaan sebagai pusat peradaban Islam global (The Golden Age of Islam) terutama di bawah Khalifah Harun ar-Rasyid dan Al-Ma'mun. Kejayaan ini ditandai dengan pesatnya ilmu pengetahuan, ekonomi, seni, dan pembangunan Baghdad sebagai pusat intelektual dunia melalui lembaga Baitul Hikmah.

Dinasti Abasiyyah membuktikan bahwa Islam pernah menggapai masa kejayaan di bawah kepemimpinan khilafah dan diterapkannya islam secra menyeluruh (Kaffah). Sehingga kita sebagai manusia (hamba Allah) hendaknya menggunakan syariaat islam untuk mengatur kemaslahatan yang ada di muka bumi ini. Umat Islam perlu terus memperjuangkan tegaknya islam secara menyeluruh (kaffah) agar kehidupan manusia senantiasa berada dalam kesejahteraan.
Bagikan:
KOMENTAR