‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Nasib Gaza Tertutupi Perang Iran VS AS Israel, Umat Butuh Persatuan Kaum Muslimin


author photo

12 Apr 2026 - 14.54 WIB



 
Oleh : Suryani Rahmah, A.Md Far (Pemerhati Masyarakat)
 
Tahun ini, umat Islam menjalani Idul fitri di tengah bergolaknya situasi politik global. Media terus meng-update kondisi perang Iran VS AS Israel sehingga menutupi nasib Gaza yang makin memprihatinkan.

Satu hal yang tidak boleh lupa, sepanjang terjadinya perang Iran, kondisi umat Islam di Gaza makin menderita. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, dikutip Meadle East Monitor (10-3-2026), sempat menyampaikan bahwa militer Zionis justru memanfaatkan perhatian internasional terhadap konflik yang melibatkan Israel, AS, Iran, dan Lebanon itu untuk mengintensifkan operasi militer di Gaza. Mereka membunuhi warga sipil, bahkan menargetkan tenda-tenda yang menampung pengungsi Gaza. Mereka juga melanjutkan blokade sehingga jelas-jelas melanggar perjanjian gencatan senjata.  

Di wilayah West Bank, pihak pendudukan bukan hanya berani menutup Masjidil Aqsa selama Ramadan. Saat lebaran pun mereka melarang kaum muslim melakukan Salat Id di sana. Tindakan tersebut tentu saja menuai kecaman dari umat Islam dunia. 

Berbagai pihak termasuk Majelis Ulama Indonesia menilai bahwa larangan Salat Id untuk pertama kalinya sejak 1967 ini menunjukkan eskalasi kontrol penuh atas Masjidil Aqsa oleh pihak pendudukan. 

 *Perang Irang VS AS Israel Membuka Tabir Kejahatan* 

Menilik apa yang terjadi, kejahatan luar biasa yang dilakukan Zionis. Selain itu kemunafikan para penguasa Arab dan muslim lainnya, serta tidak berdayanya umat Islam dunia dalam menolong muslim Palestina sudah sepantasnya bagi kita untuk merenungkan apa yang terjadi sebenarnya.

Keterpurukan, keterpecahbelahan, dan kelemahan umat yang diberi predikat oleh Allah sebagai khairu ummah sekaligus pemimpin peradaban manusia ini jelas bukan karena takdir, melainkan dampak dari jauhnya umat ini dari tuntunan Allah Swt sejalan dengan hilangnya institusi politik Khilafah yang berfungsi sebagai pemersatu, pengurus, sekaligus perisai umat di seluruh dunia.

 *Umat Butuh Kepemimpinan Islam* 

Berbeda dengan sistem kepemimpinan kapitalisme global, sistem kepemimpinan Islam justru datang untuk membebaskan manusia dari perbudakan dan penghambaan kepada manusia lainnya menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt. Hal ini tampak dari tujuan sekaligus dampak dari berbagai futuhat/pembebasan wilayah yang dilakukan negara Islam Madinah di bawah kepemimpinan Rasulullah saw. serta para Khalifah setelahnya. 

Tidak ada yang terjadi pada suatu wilayah yang di-futuhat melainkan tersebarnya keadilan, kesejahteraan, ketinggian moral, dan kemajuan. Tidak heran jika banyak rakyat negeri-negeri yang sebelumnya dikuasai Persia dan Romawi justru mendambakan hidup di bawah kepemimpinan Islam, dan turut membantu pasukan muslim untuk melawan rezim zalim yang selama ini berkuasa atas mereka. 

Tidak heran pula jika banyak penduduk negeri yang dibuka oleh kekuasaan Islam justru menerima agama Islam. Mereka bahkan bersedia menjadi pembela Islam dan mendakwahkannya hingga agama ini tersebar luas ke seluruh alam dan selama belasan abad umat Islam pun dipersatukan dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islam. 

Saat itu, berbagai bangsa dan ras umat Islam mampu tampil sebagai umat yang satu dan sebaik-baik umat. Mereka menjadi pemimpin peradaban dan menjadi pelopor kemajuan di berbagai bidang kehidupan, termasuk ilmu pengetahuan. Wibawa dan kepemimpinan mereka demikian kuat, karena mereka berpegang teguh pada akidah dan hukum-hukum Islam yang diterapkan di semua lini kehidupan. Tidak heran jika kehidupan entitas masyarakat Islam identik dengan terjaminnya kesejahteraan, keadilan, kemajuan, dan ketinggian moral.

Sungguh apa yang sedang terjadi di Iran telah memberi pelajaran besar, bahwa tidak ada kemuliaan bagi umat melainkan hanya dengan berpegang teguh pada tali agama Islam. Allah Taala telah memerintahkan: “Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (TQS Ali Imran: 103).
Bagikan:
KOMENTAR