Oleh: Hameeda
Dunia pendidikan kita kembali dikejutkan oleh tamparan keras. Bukan lagi soal tawuran atau perundungan, melainkan keterlibatan aktif pelajar sebagai pengedar narkotika jenis sabu.
Direktorat Reserse Narkoba Polda Kalimantan Selatan mengungkap kasus narkotika dalam jumlah besar dengan menyita barang bukti sabu seberat 43,8 kilogram dari dua orang tersangka berinisial AS dan RH. Ironisnya, salah satu tersangka, AS, diketahui masih berstatus pelajar asal Jakarta Selatan, sementara lainnya, RH, merupakan wiraswasta asal Lampung (duta tv.com, 13-04-2026).
Sebelumnya di Desa Kangga, Kecamatan Langgudu, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), dua warganya yang berinisial SH (26 th) dan KF (yang masih berstatus pelajar) ditangkap polisi saat hendak mengedarkan sabu yang disembunyikan di dalam tanah di samping rumah (detik.com, 2-4-2026).
Fakta ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan alarm bagi kehancuran masa depan generasi. Bahkan keterlibatan pelajar tidak lagi sekedar pengguna, tapi sudah masuk kelevel pengedar. Di berbagai daerah, penangkapan siswa sekolah menengah yang menjadi kurir sabu meningkat, sering kali dipicu oleh iming-iming gaya hidup mewah atau sekadar bertahan hidup secara ekonomi.
Lemahnya sistem pendidikan, menjadikan kurikulum saat ini hanya menitikberatkan pada aspek kognitif dan administratif. Pendidikan agama sering terjebak pada teori di atas kertas saja, tanpa mampu membentuk mental siswa agar tidak melakukan perbuatan maksiat. Terlebih kontrol masyarakat semakin memudar, sehingga para remaja semakin bebas melakukan apa saja demi pengakuan lingkungan dan gaya hidup hedonis.
Fenomena ini adalah buah pahit dari sistem sekuler yang memisahkan standar agama dari kehidupan sehari-hari. Dalam sistem ini, kebahagiaan sering kali diukur dari materi dan kepuasan fisik semata. Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk mencetak tenaga kerja, bukan manusia beradab, maka nilai-nilai agama dan moralitas menjadi opsional.
Pemerintah sering kali hanya fokus pada penanganan di hilir, seperti penangkapan dan rehabilitasi tanpa pernah tuntas menyentuh hulu persoalan. Indonesia tetap menjadi pasar potensial narkoba karena penegakan hukum yang tidak memberikan efek jera maksimal bagi para bandar besar, serta rapuhnya fondasi akidah di level individu dan keluarga. Inilah potret nyata kegagalan negara dalam menjaga keselamatan generasi.
Melindungi Generasi dengan Sistem Shohih
Kemandirian dan keselamatan generasi dari ancaman narkoba hanya akan terwujud melalui integrasi sistem yang komprehensif, sistem yang sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Dalam Islam, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan pembentukan syakhshiyah (kepribadian) Islam. Membentuk individu pelajar menjadi generasi yang shaleh (baik secara personal) dan muslih (mampu memperbaiki lingkungan). Menjadikan Islam sebagai standar ketika berpikir dan berperilaku, sehingga dengan dorongan iman mereka mampu menolak segala bentuk kemaksiatan, termasuk narkoba.
Selain itu, keluarga adalah benteng pertama. Orang tua wajib bersungguh-sungguh dalam mendampingi dan mendidik anak. Memberikan keteladanan, bukan sekadar memberikan fasilitas materi. Masyarakat juga berperan sebagai kontrol, saling menjaga dan mengingatkan, menghidupkan kebiasaan amar ma’ruf nahi munkar, sehingga lingkungan menjadi kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Dalam Islam, negara berperan menjaga rakyatnya dari berbagai kerusakan. Negara tidak akan membiarkan narkoba masuk melalui pintu mana pun. Pengawasan ketat di perbatasan dan pembersihan aparatur dari korupsi adalah wajib. Negara akan menerapkan sanksi tegas melalui mekanisme ta'zir yang bisa sampai pada tingkat hukuman mati bagi para pengedar dan bandar besar. Hal ini dilakukan bukan hanya untuk menghukum, tetapi sebagai jawabir (penebus dosa) dan zawajir (pencegah bagi orang lain).
Selain itu, negara akan menjamin kesejahteraan ekonomi warga sehingga tidak ada pelajar yang tergiur menjadi pengedar hanya karena alasan kemiskinan.
Pelajar yang menjadi pengedar adalah potret kegagalan sistemik yang tidak boleh kita biarkan terus berulang. Hanya dengan Islam, sinergi antara ketakwaan individu, kontrol masyarakat, dan ketegasan sistem negara dapat terwujud dan satu-satunya jalan untuk menyelamatkan generasi ini dari kehancuran total. Wallahu a'lam bissawab.