‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Tren Pengangguran Hal Lumrah dalam Kapitalisme, Islam Solusi Tuntas


author photo

12 Apr 2026 - 14.56 WIB


Oleh Dinnar Fitriani Susanti 
Aktivis Muslimah Balikpapan 

Tingkat pengangguran di Kalimantan Timur masih didominasi lulusan pendidikan kejuruan. Data terbaru menunjukkan, lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) paling tinggi dibanding jenjang pendidikan lainnya.
Pola TPT berdasarkan pendidikan pada periode Agustus hingga November 2025 cenderung menurun di hampir seluruh jenjang, kecuali SMK dan diploma ke atas. “Pada November 2025, TPT dari tamatan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih menjadi yang paling tinggi dibandingkan tamatan jenjang pendidikan lainnya yaitu 9,51 persen,” jelas Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Mas’ud Rifai.

Kondisi ini tidak hanya membuat kegelisahan, karena data lain menunjukkan bahwa pemutusan hubungan kerja di awal tahun 2026 mulai menunjukkan grafik yang perlu di waspadai. Berdasarkan rilisan terbaru Satu Data Kementerian Ketenagakerjaan, Provinsi Kaltim menempati urutan ke empat Nasional dengan jumlah kasus kehilangan pekerjaan terbanyak pada periode Januari 2026.

Dan sektor PHK di Kaltim terjadi pada pertambangan dan perkebunan sawit akibat efesiensi perusahaan. Terjadi di beberapa daerah di Kaltim.

Kapitalisme Fokus Solusi di Tekhnis

Kekhawatiran akan tren pengangguran ini tidak hanya pada pengangguran itu sendiri, namun berbagai dampak turunannya. Ada hal yang perlu di dalami yaitu solusi permasalahan pengangguran ini, harapannya adalah dengan segera memberikan pekerjaan bagi mereka yang terkena PHK. Namun negara justru hanya memberikan respon pelatihan kepada mereka dengan program vokasi dengan tujuan mendorong peningkatan ketrampilan masyarakat agar siap masuk dunia kerja. Pelatihan untuk bekerja sedangkan pekerjaan dan modal tidak ada, atau tidak cukup. SMK atau sekolah vokasi yang di populerkan siap bekerja justru penyumbang tertinggi angka pengangguran.

Di sisi yang lain ada kondisi negara berlepas tanggung jawab menyerahkan kepada perusahaan, akibatnya berbagai persoalan pekerja termasuk PHK pun tidak bisa di cegah. Perempuan dan anak pun jadi korban untuk bekerja, bahkan perceraian dan kriminalitas pun semakin meningkat berbanding lurus dengan tingginya angka pengangguran. 

Ada juga faktor lain dalam hal ini, pemerintah juga membuka akses perizinan usaha lebih mudah melalui NIB, menyalurkan bantuan modal kredit Paser Tuntas tanpa bunga, serta hibah peralatan bagi pelaku usaha. Terlihat ini negara hanya memberikan solusi tekhnis di tengah kehidupan sulit bagaimana ekonomi bisa berputar kembali modal.

Badai dan tren PHK ini akhirnya selalu terjadi dan berulang. Akan tetapi, solusinya hanya berpola dalam perkara tekhnis, tidak sampai pada inti permasalahan. Maraknya PHK adalah akibat adanya kekeliruan paradigma ketenagakerjaan dan industri dalam sistem Kapitalis. Indonesia yang menganut sistem ini telah menetapkan kebijakan liberalisme sebagai pijakan dalam perekonomian dengan memberikan kebebasan kepada siapa saja yang memiliki modal besar untuk perekonomian. 

Sehingga keberadaan negara hanya sebagai regulator, yaitu membuat regulasi. Kondisi penguasa yang demikian tentunya akan menguntungkan para kapitalis, sedangkan rakyat selalu pekerja menjadi korban. Padahal negeri ini kaya akan SDAE, namun justru tidak mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyatnya karena pengelolaannya di serahkan pada kapitalis.

Islam Solusi Tuntas Pengangguran 

Islam adalah agama yang menyeluruh, sempurna dan lengkap. Itulah Islam sebagai sebuah ideologi atau mabda.

Kesempurnaan Islam yang terdiri dari akidah dan syariah ini mampu menyelesaikan dan menyelamatkan seluruh persoalan kehidupan, karena Islam tidak memisahkan agama dengan kehidupan. 

Sehingga Islam memandang bahwa seluruh kehidupan adalah ibadah. Dalam implementasi ibadah terbagi menjadi tiga, hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan dirinya sendiri dan manusia dengan sesama manusia.

Maka dalam konteks hubungan manusia dengan sesamanya inilah Islam menyelesaikan bagaimana persoalan pengangguran. 

Penguasa dalam Islam berperan sebagai raa'in yaitu mengurusi rakyatnya agar mendapatkan pekerjaan. Negara memfasilitasi rakyat agar memiliki pekerjaan, yaitu dengan pendidikan, bantuan modal, industrialisasi, pemberian tanah, dan sebagainya. Hal ini karena setiap individu rakyat merupakan tanggung jawab amanah oleh penguasa yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah SWT.

Dan penerapan sistem ekonomi Islam menjadikan kekayaan dunia terdistribusi secara adil, tidak terkonsentrasi pada sebagian pihak-pihak saja. Melalui sistem pendidikan Islam, negara menyiapkan SDM berkualitas, tidak hanya siap ke dunia kerja, tetapi memiliki keahlian di bidangnya. 

Islam telah membuktikan secara sejarah bahwa penerapan syariah Islam secara menyeluruh tidak menimbulkan persoalan pengangguran sebagai tren, apalagi menjadi pola dan berulang. 

Rasullullah dan para Khalifah telah membuktikannya. Dari sisi individu dorongan untuk menafkahi diri sendiri sebagai laki-laki adalah kewajiban, maka dorongan ini menjadi motivasi ruhiyah. 

Kemudian dari sisi SDAE yang melimpah Allah berikan, wajib di kelola dengan syariah. Kepemilikan umum dan negara harus di kembalikan pada konsep ini. Sehingga penguasaan harta berputar pada individu tertentu tidak terjadi. 

Inilah Islam yang pasti menyelesaikan persoalan pengangguran. Dan kewajiban untuk menyegerakannya adalah kebutuhan yang sangat penting, agar umat mendapatkan kebaikan dan keadilan.
Bagikan:
KOMENTAR