‎ ‎
‎ ‎

Deli Serdang Darurat Narkoba Ancaman Sosial dan Tantangan Negara dalam Menyelamatkan Generasi Muda


author photo

27 Mei 2026 - 23.30 WIB



‎Oleh: Waly Daini Amadiyah
‎Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Malikussaleh
‎Kabupaten Deli Serdang hari ini sedang menghadapi situasi yang sangat mengkhawatirkan. Maraknya peredaran dan penyalahgunaan narkoba tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan kriminal biasa, melainkan telah berkembang menjadi ancaman sosial yang serius terhadap masa depan generasi muda dan stabilitas masyarakat. Pengungkapan berbagai kasus narkoba, penggerebekan kampung narkoba, hingga meningkatnya jumlah tersangka dalam beberapa bulan terakhir menjadi bukti bahwa Deli Serdang sedang berada dalam kondisi darurat narkotika.
‎Fenomena ini tidak boleh hanya dipahami sebatas keberhasilan aparat dalam melakukan penangkapan. Di balik operasi-operasi tersebut, terdapat realitas sosial yang jauh lebih besar dan lebih mengerikan, yakni tumbuhnya jaringan narkoba secara sistematis di tengah kehidupan masyarakat. Ketika narkoba sudah masuk hingga ke lingkungan pemuda, pelajar, bahkan masyarakat kecil, maka sesungguhnya yang sedang terancam bukan hanya individu, tetapi masa depan sosial daerah secara keseluruhan.
‎Waly Daini Amadiyah menilai bahwa persoalan narkoba di Deli Serdang merupakan gambaran nyata dari rapuhnya ketahanan sosial masyarakat saat ini. Menurutnya, negara masih terlalu fokus pada pendekatan penindakan hukum, tetapi belum maksimal menyentuh akar persoalan yang menyebabkan narkoba terus berkembang.
‎“Negara jangan hanya hadir saat penggerebekan dan konferensi pers. Persoalan narkoba tidak akan pernah selesai kalau kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial terus dibiarkan tumbuh di tengah masyarakat,” ujarnya.
‎Menurutnya, jaringan narkoba tumbuh subur bukan tanpa sebab. Banyak generasi muda hari ini hidup dalam tekanan sosial dan ekonomi yang semakin berat. Ruang kreativitas pemuda semakin sempit, kesempatan kerja terbatas, sementara pendidikan belum sepenuhnya mampu menjadi alat mobilitas sosial bagi masyarakat kecil. Dalam situasi seperti itu, narkoba hadir menjadi jebakan yang perlahan menghancurkan masa depan generasi muda.
‎“Kita harus jujur mengatakan bahwa narkoba berkembang di tengah kondisi sosial yang rapuh. Ketika anak muda kehilangan harapan terhadap masa depan, maka mereka menjadi kelompok paling rentan untuk dijadikan sasaran jaringan narkoba,” ungkapnya.
‎Ia juga menyoroti fenomena munculnya istilah “kampung narkoba” di sejumlah wilayah Deli Serdang. Menurutnya, istilah tersebut bukan hanya memalukan, tetapi juga menjadi alarm keras terhadap kegagalan negara dalam membangun kesejahteraan masyarakat hingga ke tingkat bawah.
‎“Ketika sebuah wilayah dikenal sebagai kampung narkoba, maka itu bukan hanya kegagalan masyarakat, tetapi juga kegagalan negara dalam menghadirkan keadilan sosial. Jangan hanya menyalahkan rakyat, sementara akar persoalannya tidak pernah benar-benar diselesaikan,” tegas Amdiyah.
‎Dalam perspektif politik dan sosial, ia menilai bahwa persoalan narkoba harus dilihat sebagai ancaman terhadap kualitas demokrasi dan masa depan bangsa. Generasi muda yang rusak akibat narkoba akan kehilangan daya kritis, kehilangan produktivitas, dan kehilangan arah dalam kehidupan sosial maupun politik. Akibatnya, masyarakat akan semakin mudah terjebak dalam kemiskinan, kriminalitas, dan ketidakstabilan sosial.
‎Amadiyah juga mengkritik pendekatan pemerintah yang selama ini cenderung bersifat seremonial dalam memberantas narkoba. Menurutnya, slogan perang melawan narkoba tidak akan memiliki makna apabila tidak diikuti dengan kebijakan nyata yang menyentuh kebutuhan masyarakat.
‎“Pemerintah terlalu sering bicara tentang perang melawan narkoba, tetapi lupa membangun perang melawan kemiskinan dan pengangguran. Padahal dua hal itulah yang sering menjadi pintu masuk berkembangnya jaringan narkotika,” katanya.
‎Lebih lanjut, ia menilai bahwa pemberantasan narkoba membutuhkan keberanian politik yang serius. Penegakan hukum harus dilakukan tanpa pandang bulu, termasuk terhadap oknum aparat maupun pihak-pihak yang diduga terlibat dalam melindungi jaringan narkoba.
‎“Jangan sampai hukum hanya keras kepada masyarakat kecil tetapi lemah terhadap aktor besar di belakang jaringan narkoba. Jika itu terjadi, maka kepercayaan masyarakat terhadap negara akan runtuh,” ujarnya.
‎Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, Waly Daini Amadiyah menegaskan bahwa kampus dan mahasiswa tidak boleh bersikap diam terhadap situasi ini. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi kekuatan intelektual dan sosial dalam mengawal persoalan-persoalan masyarakat.
‎“Mahasiswa tidak boleh hanya sibuk di ruang kelas dan seminar akademik. Ketika masyarakat sedang menghadapi ancaman serius seperti narkoba, maka mahasiswa harus hadir menyuarakan kegelisahan rakyat,” ungkapnya.
‎Ia menambahkan bahwa gerakan melawan narkoba harus dibangun secara kolektif melalui kolaborasi pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen sipil. Menurutnya, penyelamatan generasi muda tidak bisa dibebankan hanya kepada aparat keamanan semata.
‎Selain penegakan hukum, Amdiyah juga mendorong pemerintah untuk memperkuat program pendidikan anti narkoba, pemberdayaan ekonomi masyarakat, rehabilitasi korban penyalahgunaan narkotika, serta pembangunan ruang kreativitas bagi pemuda di daerah.
‎“Kita membutuhkan gerakan sosial yang nyata, bukan sekadar slogan. Pemuda harus diberikan ruang untuk berkembang, bekerja, dan berkarya. Jika negara gagal menyediakan itu, maka jaringan narkoba akan terus mencari celah untuk merusak generasi muda,” katanya.
‎Di akhir pernyataannya, Waly Daini Amadiyah mengingatkan bahwa Deli Serdang saat ini sedang berada di persimpangan yang menentukan masa depan daerah. Jika persoalan narkoba tidak segera ditangani secara serius dan menyeluruh, maka daerah ini berpotensi menghadapi krisis sosial yang lebih besar di masa mendatang.
‎“Narkoba bukan hanya menghancurkan tubuh manusia, tetapi juga menghancurkan cita-cita, moralitas, dan masa depan bangsa. Negara tidak boleh kalah dari bandar, dan masyarakat tidak boleh menyerah terhadap ancaman yang sedang menghancurkan generasi muda hari ini,” tutupnya.
Bagikan:
KOMENTAR