‎ ‎
‎ ‎

Penerapan Nilai Islam Dalam Perjuangan Kartini


author photo

25 Mei 2026 - 12.51 WIB



Oleh : Purwanti Rahayu

Penguatan kualitas pendidikan perempuan sebagai fondasi kemajuan bangsa menjadi pesan utama dalam seminar yang dihadiri Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kalimantan Timur, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional 2026 ini diselenggarakan oleh Perempuan Lintas Agama (Perlita) Provinsi Kalimantan Timur di Aula Kerukunan lantai 2 Kanwil dengan mengusung tema “Aktualisasi Nilai-Nilai Kartini dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan Perempuan”.

Seminar tersebut turut dihadiri Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kalimantan Timur K.H. Muhammad Rasyid, Ketua Perempuan Lintas Agama (Perlita) Provinsi Kalimantan Timur Hj. Aminah serta jajaran pengurus Perlita.

Dalam sambutannya, Kepala Kanwil, Abdul Khaliq menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini dan Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali semangat emansipasi perempuan serta memperkuat upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. (Humas Kanwil)

*Sosok Perempuan dalam Sistem Kapitalisme*

Mei telah diperingati Hari Kartini dan Hari Pendidikan, berbagai seremonial dilakukan mengangkat tema tersebut. R.A. Kartini adalah pahlawan nasional Indonesia yang paling berjasa dalam memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama agar kaum perempuan mendapatkan hak dan akses pendidikan yang setara.

Perjuangan R.A. Kartini memang belum selesai. Di era modern ini, ketimpangan akses terhadap ilmu pengetahuan masih menjadi tantangan nyata bagi banyak perempuan di Indonesia, termasuk di wilayah seperti Kalimantan Timur. Hambatan ini berakar dari tiga masalah utama seperti kemiskinan, stigma keliru, adat dan budaya.

Bagaimana bisa perempuan terdidik dengan baik dan sesuai fitrahnya jika sistem pendidikan saat ini menggunakan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.

Pendidikan berparadigma sekuler-kapitalis menomorduakan peran domestik perempuan, sehingga menciptakan krisis kesiapan menjadi ibu dan istri. Kurikulum lebih berfokus pada pembentukan tenaga kerja pencetak uang dibandingkan membangun fondasi keluarga. Bekal ilmu kerumahtanggaan (seperti pengasuhan anak dan manajemen keluarga) kerap terpinggirkan.

Dukungan lingkungan, tempat kerja, hingga negara sering kali tidak ramah terhadap ibu yang ingin menyeimbangkan peran, yang akhirnya memicu dilema antara berkarier dan mengurus rumah.

Perjuangan Raden Adjeng Kartini dalam mendobrak tradisi di masanya telah membuka jalan lebar bagi perempuan, terutama dalam mengakses pendidikan dan kesetaraan hak. Berkat pemikiran visionernya yang tertuang dalam kumpulan surat "Habis Gelap Terbitlah Terang", perempuan Indonesia saat ini bisa menikmati kebebasan belajar, berkarya, dan menggapai cita-cita setinggi mungkin.

Perjuangan R.A. Kartini memang sangat lekat dengan ajaran Islam dan Al-Qur'an. Pemikiran tersebut ia temukan dan dalami melalui bimbingan guru spiritualnya, K.H. Sholeh Darat. Istilah "Habis Gelap Terbitlah Terang" atau dalam bahasa Belanda "Door Duisternis tot Licht" sangat identik dengan terjemahan ayat tersebut. Kartini terinspirasi dengan makna "Allah membimbing orang-orang beriman dari kegelapan menuju cahaya" (Minadh-Dhulumaati ilan Nuur) untuk membebaskan perempuan pribumi dari kebodohan dan keterbelakangan.

Sayangnya, narasi masa kini sering kali menggeser esensi perjuangan beliau ke arah tuntutan materialistik. Perempuan kerap didorong untuk menyaingi peran ekonomi laki-laki, sementara peran utamanya sebagai pendidik generasi (madrasah al-ula) melemah atau terabaikan.

Konsep kesetaraan (seperti gender equality) yang lahir dari Barat sering kali didasarkan pada filosofi sekularisme dan kapitalisme. Pandangan ini menilai bahwa konsep tersebut dapat mengaburkan fitrah biologis dan psikologis perempuan, serta berpotensi merusak tatanan keluarga yang menjadi pilar masyarakat Islam. Fokusnya adalah pada konsep keadilan (memberikan hak sesuai porsi dan kebutuhan) daripada sekadar kesamaan mutlak.

*Perempuan Dalam Pandangan Islam*

Dalam Islam, pendidikan adalah hak sekaligus kewajiban asasi bagi laki-laki maupun perempuan. Perempuan yang berpendidikan tinggi sangat dimuliakan karena dipersiapkan menjadi Al-Madrasatul Ula (madrasah atau sekolah pertama) serta pembangun generasi penerus yang cerdas, tangguh, dan berakhlak mulia.

_"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan."_ (HR. Al-Baihaqi)

Narasi yang menuntut kesetaraan mutlak antara laki-laki dan perempuan kerap dianggap bertentangan dengan prinsip Islam. Dalam pandangan Islam, hak, kewajiban, dan kodrat kedua jenis kelamin bersifat komplementer (saling melengkapi) dan proporsional, bukan sama persis.

Menjadikan istri-istri Nabi (Ummahatul Mukminin) dan para Shahabiyah sebagai inspirasi adalah langkah yang sangat tepat. Mereka adalah profil wanita terbaik yang dijamin surga, memiliki keteguhan iman, kecerdasan luar biasa, serta peran yang sangat besar dalam membangun peradaban Islam.

Semangat Raden Ajeng Kartini dalam menuntut ilmu sejalan dengan ajaran Islam. Dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah sekadar hak, melainkan kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan.

Memperingati perjuangan R.A. Kartini di era kekinian memang dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang yang luas dan kaya. Bagi sebagian kalangan muslimah, perjuangan perempuan yang hakiki dimaknai sebagai upaya memuliakan kaum perempuan melalui penerapan nilai-nilai dan syariat Islam secara kaffah dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dalam perspektif ini, emansipasi dan kemuliaan perempuan tidak diukur dari kesetaraan mutlak dalam segala bidang dengan budaya barat, melainkan dengan mengembalikan peran utama perempuan sebagai tiang negara (umm wa rabbat al-bayt) yang cerdas dan bertakwa, serta dilindungi hak-haknya oleh sistem sosial dan hukum yang adil, yaitu hukum dan sistem Islam.
Wallahu'alam Bisshawab
Bagikan:
KOMENTAR