‎ ‎
‎ ‎

”Peran Syariat Islam dalam Membangun Kepercayaan Politik di Aceh”


author photo

25 Mei 2026 - 12.59 WIB



Oleh : Putri Adilla
Mahasiswi S1 Ilmu Politik , Universitas Malikussaleh

Penerapan Syariat Islam di Aceh sangat berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat kepada pemerintah daerah. Aceh menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki hak khusus untuk menerapkan Syariat Islam melalui Undang-Undang Nomor 44 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006. Bagi masyarakat Aceh, Syariat Islam bukan hanya aturan agama, tetapi juga bagian dari budaya dan identitas daerah yang sudah ada sejak masa Kesultanan Aceh. Karena itu, pemerintah daerah menggunakan penerapan Syariat Islam untuk mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari masyarakat.

Dalam kehidupan sehari-hari, Syariat Islam diterapkan melalui aturan dan lembaga seperti Mahkamah Syariah dan Wilayatul Hisbah. Pemerintah daerah berusaha menjalankan pemerintahan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam. Jika hukum Syariat diterapkan dengan adil, jujur, dan konsisten, masyarakat akan lebih percaya kepada pemerintah. Mereka merasa pemerintah menjalankan tugas sesuai ajaran agama dan memperhatikan kepentingan rakyat. Kepercayaan politik ini penting karena dapat membuat masyarakat lebih mendukung kebijakan pemerintah dan menjaga kestabilan daerah.

Penerapan Syariat Islam di Aceh juga berkaitan dengan sejarah konflik antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan pemerintah Indonesia. Konflik yang berlangsung lama membuat masyarakat kurang percaya kepada pemerintah pusat. Setelah perdamaian Helsinki tahun 2005, Aceh mendapatkan otonomi khusus untuk menerapkan Syariat Islam. Dalam kondisi setelah konflik tersebut, Syariat Islam dianggap sebagai cara untuk memperbaiki hubungan antara pemerintah dan masyarakat serta memperkuat identitas Aceh.

Namun, penerapan Syariat Islam juga menimbulkan berbagai pendapat di masyarakat. Sebagian masyarakat mendukung karena dianggap dapat menjaga moral, memperkuat identitas daerah, dan menciptakan ketertiban sosial. Tetapi ada juga yang menilai bahwa penerapannya masih lebih banyak bersifat simbolis dan belum mampu menyelesaikan masalah sosial maupun ekonomi. Kritik juga muncul ketika hukum dianggap tidak diterapkan secara adil atau hanya berlaku bagi kelompok tertentu. Hal ini bisa menurunkan kepercayaan masyarakat kepada pemerintah daerah.

Dalam politik lokal, isu Syariat Islam sering digunakan oleh partai politik untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Sebagian orang menilai agama kadang digunakan sebagai alat politik untuk mempertahankan kekuasaan. Akibatnya, muncul rasa kurang percaya dari sebagian masyarakat, terutama generasi muda yang lebih terbuka dengan perkembangan dunia dan menginginkan kebijakan yang lebih terbuka dan sesuai perkembangan zaman. Walaupun begitu, Syariat Islam tetap dianggap penting karena menjadi bagian dari budaya dan identitas masyarakat Aceh.

Secara keseluruhan, artikel ini menjelaskan bahwa Syariat Islam memiliki peran penting dalam membangun kepercayaan politik masyarakat Aceh terhadap pemerintah daerah. Keberhasilan penerapannya sangat bergantung pada keadilan, keterbukaan, dan konsistensi pemerintah dalam menjalankan hukum Syariat. Jika dilaksanakan dengan baik, Syariat Islam dapat memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat Aceh.
Bagikan:
KOMENTAR