‎ ‎
‎ ‎

Rupiah Melemah, Beban Rakyat Kian Berat


author photo

26 Mei 2026 - 14.58 WIB


Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar kembali menjadi ancaman serius bagi perekonomian nasional. Kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan harga bahan baku, energi, hingga berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Ketergantungan ekonomi Indonesia terhadap impor membuat depresiasi rupiah cepat memicu lonjakan harga di pasar. Akibatnya, masyarakat menengah ke bawah menjadi pihak yang paling merasakan tekanan.

Di tengah kondisi tersebut, beban hidup rakyat semakin berat. Harga kebutuhan terus meningkat sementara daya beli melemah. Tidak sedikit masyarakat yang akhirnya mencari jalan pintas melalui pinjaman online demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan ekonomi bukan lagi sekadar angka statistik, melainkan sudah menyentuh langsung kehidupan rumah tangga masyarakat.

Sayangnya, pemerintah masih memandang situasi ekonomi dalam batas aman. Penilaian semacam ini menunjukkan adanya jarak antara kebijakan dengan realitas yang dirasakan rakyat. Ketika masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, pernyataan bahwa kondisi masih terkendali justru memunculkan kesan kurang peka terhadap penderitaan rakyat kecil.

Secara global, pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari dinamika politik internasional, termasuk konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang memengaruhi stabilitas pasar dunia. Ketidakpastian geopolitik membuat investor cenderung menarik modal dari negara berkembang dan menguatkan posisi dolar. Namun, faktor eksternal ini seharusnya tidak dijadikan alasan tunggal. Ketahanan ekonomi dalam negeri yang lemah dan tingginya ketergantungan pada utang juga memperburuk kondisi rupiah.

Pada akhirnya, rakyat kembali menjadi pihak yang menanggung dampak terbesar. Beban ekonomi dipikul sendiri oleh masyarakat, sementara kebijakan yang diambil belum menyentuh akar persoalan. Utang negara yang terus meningkat pun dikhawatirkan justru mempersempit ruang pemerintah dalam melindungi kesejahteraan rakyat.

Dalam perspektif Islam, kesejahteraan masyarakat merupakan tanggung jawab pemimpin sebagai pengurus dan pelindung rakyat. Sistem ekonomi Islam menawarkan mekanisme ekonomi yang lebih stabil, termasuk penggunaan standar mata uang berbasis emas dan perak, larangan riba, serta pengaturan distribusi dan kepemilikan agar kekayaan tidak beredar di kalangan tertentu saja. Negara juga dituntut aktif menjaga kestabilan harga dan menjamin kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.

Karena itu, pelemahan rupiah seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan ekonomi nasional agar lebih berpihak pada kepentingan rakyat, bukan sekadar menjaga stabilitas angka-angka makroekonomi.
Bagikan:
KOMENTAR