‎ ‎
‎ ‎

721 Tahun Sultan Sumatra Pasai Diperingati, Warisan Sejarah Langka di Aceh Utara Dinilai Masih Kurang Mendapat Perhatian


author photo

3 Jun 2026 - 12.12 WIB



Aceh Utara – Peringatan haul ke-721 Sultan Sumatra Pasai berlangsung khidmat di Kompleks Makam Sultan Al Malik Ash-Shalih, Gampong Beuringen, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara, Rabu (3/6/2026). Kegiatan tersebut dirangkai dengan silaturahmi, doa bersama, serta pemberian santunan kepada anak yatim piatu.

Acara tersebut dihadiri unsur jajaran Komite Peralihan Aceh (KPA), para panglima Daerah II dan Daerah III, serta sejumlah tokoh masyarakat dan tamu undangan lainnya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan doa bersama untuk mengenang jasa Sultan Al Malik Ash-Shalih sebagai pendiri Kesultanan Sumatra Pasai, yang dikenal sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara.
 
Setelah itu, panitia menyerahkan santunan kepada anak-anak yatim piatu sebagai bentuk kepedulian sosial sekaligus bagian dari tradisi peringatan haul.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah tokoh yang hadir menyoroti pentingnya pelestarian situs sejarah Samudera Pasai yang memiliki nilai tinggi bagi peradaban Islam di Indonesia. Salah satu peninggalan yang menjadi perhatian adalah batu nisan Sultan Al Malik Ash-Shalih yang disebut memiliki karakteristik material dan bentuk yang sangat langka.

Menurut informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, batu nisan sang Sultan diyakini memiliki bahan yang tidak ditemukan di Indonesia maupun di kawasan Asia secara umum. Hingga kini, batu nisan tersebut disebut menjadi satu-satunya yang memiliki karakteristik serupa dan masih berada di kompleks makam Sultan Al Malik Ash-Shalih.

Meski menjadi salah satu bukti penting sejarah Islam Nusantara dan kerap dikunjungi peziarah maupun peneliti, sejumlah pihak menilai perhatian terhadap pelestarian dan pengembangan kawasan situs Samudera Pasai masih belum sebanding dengan nilai historis yang dimilikinya.

Peringatan haul ke-721 Sultan Sumatra Pasai diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial tahunan, tetapi juga momentum untuk memperkuat upaya pelestarian warisan sejarah dan budaya Islam yang menjadi kebanggaan Aceh serta Indonesia.(A1)

Bagikan:
KOMENTAR