‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Jaminan Terpenuhinya Pendidikan dalam Islam


author photo

13 Jun 2026 - 20.51 WIB



Oleh: Nurjaya, S.PdI

"Jangan sampai ada anak-anak kita yang tertinggal atau tidak mendapatkan akses pendidikan negeri, terutama bagi mereka yang kurang mampu." ucap Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim Armin di Samarinda.

Pemerintah provinsi Kalimantan Timur memastikan seluruh anak dari keluarga kurang mampu di wilayahnya tidak akan kehilangan akses untuk menempuh pendidikan di sekolah negeri. Ditekankan upaya menjamin hak pendidikan yang merata tanpa memandang status sosial ekonomi tersebut dalam agenda Sosialisasi Petunjuk Teknis Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) jenjang SMA/SMK/SLB Tahun Ajaran 2026/2027. Hal tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim Armin di Samarinda.

Armin memberikan instruksi kepada seluruh jajarannya untuk mengawal petunjuk teknis penerimaan siswa baru tersebut agar tidak terjadi kesalahan sedikitpun saat implementasi aturan di lapangan. Penyelenggaraan penerimaan murid baru pada tahun ajaran ini diwajibkan berjalan secara objektif, transparan, akuntabel, serta bebas dari segala bentuk diskriminasi demi menghasilkan sumber daya manusia unggul.

Kepedulian pemerintah akan warga miskin agar tetap dapat mengakses pendidikan patut diapresiasi. Hanya saja realita di lapangan tidaklah semudah yang dibayang-bayangkan. Ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi oleh warga miskin tersebut, belum lagi administrasi yang tidak mudah, dan gratis untuk hal tertentu tetapi tetap ada yang harus dibayar, dan sebagainya. 
Dan mirisnya, tidak dinafikkan lagi bahwa pendidikan kepada warga miskin pada akhirnya menimbulkan kasta perlakuan disekolah. Seolah ada gab diantara yang gratisan dan yang berbayar.

Paradigma Kapitalistik

Selama paradigma pendidikannya masih berlandaskan tata kelola kapitalistik maka selama itu juga negara tidak akan sepenuhnya bertanggung jawab menyediakan pelayanan pendidikan gratis berkualitas bagi seluruh warganya.

Pendidikan sebenarnya bisa dinikmati gratis dan berkualitas jika negara mengambil alih dan mengelola kekayaan Sumber Daya Alam dan Energinya sendiri, sayangnya hari ini kita masih hidup dalam negara yang menggunakan tata kelola sistem Kapitalisme yang membuat warga miskin tak mampu bersekolah.

Islam Wujudkan Pendidikan Gratis dan Berkualitas

Islam memandang bahwa Pendidikan adalah salah satu sektor krusial yang dijamin pemenuhannya oleh negara. Dalam Islam pendidikan bukanlah komoditas melainkan merupakan hak seluruh warga. Sehingga negara tidak akan berbisnis untuk mendapatkan keuntungan dari warganya dalam hal Pendidikan sebagaimana yang terjadi hari ini. 

Negara berperan memastikan seluruh warganya mendapatkan pendidikan secara gratis dan berkualitas, bagaimanapun tingkat kecerdasannya dan di daerah mana pun mereka berada. Sehingga output pendidikan tidak akan berbeda antara warga yang tinggal di pedesaan dengan perkotaan. 

Faktanya ada masa yang sangat panjang, yaitu selama zaman keemasan Islam, pendidikan terselenggara dengan berkualitas, namun juga gratis.  Padahal saat itu tidak ada pajak dan sumberdaya alam melimpah seperti minyak bumi juga belum ditemukan.

Kuncinya ternyata ada pada tiga hal. Pertama: Energi ruhiah.  Generasi pertama umat Islam adalah orang-orang yang dididik Nabi saw. untuk memiliki visi hidup sebagai hamba Allah yang terbaik yang dihadirkan ke tengah umat manusia, untuk menyerukan kebaikan (Islam), menyuruh yang makruf, mencegah yang munkar dan menjadi rahmat bagi seluruh alam.
Dengan visi itu kemudian mereka berbuat maksimal untuk kemuliaan Islam dan kaum Muslim, termasuk berburu ilmu ke barat dan ke timur, mengajarkannya tanpa lelah ke generasi berikutnya dan ke siapa saja, serta mengembangkannya sampai standar mutu tertinggi.

Guru-guru pertama umat Islam ini tidak mencari nilai materi.  Mereka bukan para kapitalis yang lebih baik ganti profesi bila tidak menerima imbalan yang lebih baik untuk aktivitas akademiknya. Mereka mencari nilai spiritual, ingin mendapatkan pahala pasif yang terus menerus dari ilmu bermanfaat yang dikembangkan, dan doa orang-orang yang menjadi shalih dengan yang mereka ajarkan.

Kedua: Dana wakaf.  Dana wakaf ini berasal dari orang-orang kaya (aghniya’), atau juga pejabat publik (umara), yang ingin berlomba dalam kebaikan dengan para ulama.  Ketika ulama bisa mendapatkan pahala pasif yang berkelanjutan dengan ilmunya dan dengan anak-anak didiknya, maka aghniya’ dan umara menyediakan fasilitas fisiknya, yang dalam konsep wakaf, harus dipertahankan statusnya sampai hari kiamat.

Mereka tak hanya berwakaf sarana fisik pendidikan atau laboratorium, tetapi juga sarana produktif seperti kebun atau industri yang dapat membayar biaya operasional sarana pendidikan atau laboratorium itu.  Alhasil, para ulama yang mengajar atau meneliti itu tidak perlu khawatir lagi dengan nafkahnya.  Mereka bahkan masih bisa melawat ke seluruh dunia untuk melakukan survei, mendengarkan hadis atau ilmu baru, dan mengajar ke negeri-negeri yang baru disapa oleh dakwah Islam.

Ketiga: Pembelanjaan yang presisi.  Islam adalah ajaran yang menolak gaya hidup hedonis, yakni gaya hidup mewah atau berfoya-foya.  Untuk setiap harta yang dimiliki, seseorang akan dihisab dua hal: bagaimana dia mendapatkan harta itu dan bagaimana dia membelanjakannya.  Harta harus didapat dengan cara yang halal.  Harta hanya boleh dibelanjakan sesuai syariah.

Syariah mengatur bahwa harta hanya dibelanjakan sesuai prioritas, dimulai dari yang fardhu ain, lalu fardhu kifayah, lalu yang sunnah, baru yang mubah.  Karena itu zalim membelanjakan harta secara boros pada yang mubah, ketika yang fardhu kifayah atau fardhu ain ada yang belum tertunaikan. Dengan filosofi ini, penyelenggaraan pendidikan dalam sejarah Islam hampir selalu dalam kondisi hemat dan tepat manfaat.

Sejarah menunjukkan, pembiayaan penyelenggaraan pendidikan dengan tiga prinsip ini berhasil menjadikan pendidikan di Dunia Islam merata dan dalam kualitas yang tinggi.  Setiap orang berhak mengikuti pendidikan secara gratis.  

Setiap saat juga tersedia ulama yang bersedia mengajar dengan penuh kesabaran, bahkan di tengah-tengah kaum Badui yang hidup berpindah-pindah di tengah padang pasir dari satu oase ke oase yang lain.

Mereka yang beruntung akan disponsori untuk melanjutkan ke kampus-kampus terunggul di dunia saat itu, apakah di Qarawiyyin (Maroko), Al-Azhar (Mesir), atau di bahkan Baitul Hikmah di Baghdad atau Cordoba.   Universitas Qarawiyyin dan Al-Azhar adalah dua universitas tertua di dunia yang masih beroperasi hingga kini.  Keduanya besar dari wakaf.  Kekayaan kampus Al-Azhar bahkan konon lebih besar dari Republik Mesir sendiri.
Bagikan:
KOMENTAR