‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎
‎ ‎

Hustle Culture: Ketika Sibuk Bukan Lagi Sebuah Prestasi


author photo

10 Jun 2026 - 18.08 WIB


Ingatkah kapan terakhir kali kamu menikmati waktu istirahat tanpa merasa bersalah? Jika kamu kesulitan menjawab, mungkin kamu sudah terjebak dalam hustle culture terlalu lama. Budaya ini mengajarkan bahwa semakin sibuk kamu, semakin bernilai dirimu. Lelah dianggap sebagai hal yang wajar dan istirahat dianggap kelemahan. Siapa pun yang memilih berhenti, dianggap tidak serius dengan hidupnya. Padahal, di balik semua kesibukan itu, banyak dari kita yang diam-diam merasa hampa dan tidak tahu lagi untuk apa semuanya dijalani.

Memang, tidak semua orang melihat hustle culture sebagai sesuatu yang buruk. Sebagian orang justru merasa budaya ini yang mendorong mereka untuk bangkit, disiplin, dan tidak mudah menyerah. Bagi mereka yang tumbuh dari kondisi serba terbatas, semangat "kerja keras tanpa henti" bisa menjadi bahan bakar yang nyata untuk keluar dari lingkaran kemiskinan atau keterbatasan. Zipdo (2026) menunjukkan bahwa sekitar 73% milenial memandang budaya hustle sebagai hal yang diperlukan untuk berkembang dalam karier, serta 59% Gen Z percaya bahwa bekerja lebih keras dari jam kerja normal merupakan kunci untuk mencapai kesuksesan dan stabilitas finansial di masa depan. Kisah-kisah orang sukses yang tidur hanya empat jam sehari, tetap bekerja saat sakit, atau rela mengorbankan liburan demi mimpi memang terdengar menginspirasi. Dalam konteks ini, hustle culture bisa dibaca sebagai bentuk komitmen, bukan paksaan. Argumen ini tidak bisa begitu saja diabaikan karena ada sebagian orang yang memang berhasil dan merasa cocok dengan ritme hidup seperti itu.

Namun, ada pertanyaan yang jarang diajukan: bagaimana dengan mereka yang tidak berhasil, atau berhasil tapi hancur di tengah jalan? Hustle culture tidak pernah memperlihatkan sisi itu. Sering kali yang ditampilkan di media sosial selalu versi yang menang, versi yang glamor, atau versi yang sudah tiba di puncak. Jarang yang memposting foto saat burnout, menangis di kamar mandi, atau jatuh sakit karena terlalu lama tidak tidur. Padahal kenyataannya, tekanan untuk terus produktif tanpa jeda terbukti meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan berbagai masalah kesehatan lainnya. Hal ini juga didukung oleh World Health Organization (2024) yang menyatakan bahwa lingkungan kerja dengan tekanan tinggi dan beban berlebih dapat memicu stres kronis yang berujung pada gangguan mental. Bahkan, laporan bersama WHO dan International Labour Organization (2021) menunjukkan bahwa jam kerja yang panjang secara signifikan meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental serta berkaitan dengan berbagai dampak kesehatan serius akibat stres kerja.

Dari kedua sisi tersebut, saya memiliki pandangan yang jelas, bahwa kerja keras itu perlu, tapi hustle culture bukan kerja keras. Hustle culture adalah versi kerja keras yang telah diputarbalikkan oleh media sosial menjadi sebuah tontonan. Kita tidak lagi berusaha keras untuk tujuan yang kita percayai, tetapi untuk menunjukkan sesuatu kepada orang lain, atau lebih parah lagi kepada algoritma. Masalah terbesar bukan hanya keletihan fisik, tetapi kehilangan arti dari hidup. Ketika seseorang menjadi terlalu sibuk dan tiba-tiba mempertanyakan, "sebenarnya apa yang aku kejar?”, itu pertanda bahwa ia telah berlari terlalu jauh tanpa pernah menentukan arah hidupnya sendiri. Keberhasilan yang sejati bukan diukur dari seberapa padat jadwalmu, tetapi seberapa berartinya hidup yang kamu jalani.  

Fenomena ini bukan hanya cerita, tapi kenyataan yang terjadi di dalam dan luar negeri. Salah satunya, The Asahi Shimbun (2025) melaporkan bahwa Kementerian Tenaga Kerja Jepang mencatat rekor 4.810 klaim kompensasi akibat overwork pada tahun fiskal 2024, dengan 1.304 kasus terbukti secara hukum menyebabkan kematian atau penyakit serius. Di Indonesia sendiri, istilah "healing" mendadak meledak bukan karena tren semata, tapi karena banyak anak muda yang benar-benar butuh jeda. Mereka kelelahan, bukan karena malas, tapi karena terlalu lama dipaksa, baik oleh lingkungan maupun oleh diri sendiri untuk terus produktif. Salah satu contoh yang dekat adalah budaya "side hustle" di kalangan mahasiswa: kuliah penuh, kerja part-time, aktif organisasi, sambil membangun personal branding di media sosial. Semuanya dilakukan bukan selalu karena butuh, tapi karena takut dianggap tidak produktif. Akibatnya, ketika satu hal gagal atau tubuh mulai protes, semuanya bisa runtuh sekaligus. Ini bukan cerita tentang kegagalan pribadi, ini cerita tentang sistem nilai yang salah sejak awal.

Pada akhirnya, hal yang harus kita tanyakan bukan "apakah aku sudah produktif hari ini?", tetapi "apakah aku baik-baik saja? ". Dua pertanyaan ini terdengar serupa namun memiliki makna yang sangat berbeda. Pertama menilai diri dari hasil yang dicapai, sedangkan yang kedua mengakui bahwa kita adalah manusia, bukan mesin. Hustle culture telah membuat kita melupakan pertanyaan yang kedua itu. Oleh karena itu, saatnya kita menghentikan kecenderungan membiarkan kesibukan kita menentukan nilai diri. Istirahat bukanlah tanda kelemahan, dan menghentikan sejenak bukan berarti menyerah. Terkadang, justru dari momen itulah kita dapat melihat dengan lebih jelas, ke mana sebenarnya kita ingin melangkah dan mengapa perjalanan itu layak untuk dilalui.
Bagikan:
KOMENTAR