Oleh: Fina Siliyya, S.TPn.
Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 H datang di tengah berbagai persoalan yang masih membelit umat. Kemiskinan, judi online, prostitusi anak, perundungan, kekerasan, hingga berbagai kerusakan moral terus terjadi. Di tingkat global, penderitaan rakyat Palestina juga belum berakhir. Berbagai peristiwa ini menunjukkan bahwa umat Islam sedang menghadapi tantangan besar yang tidak bisa dipandang sebagai persoalan yang berdiri sendiri.
Kondisi tersebut menjadi bahan muhasabah bagi umat Islam. Berbagai kerusakan yang terjadi hari ini menunjukkan bahwa kehidupan semakin jauh dari tuntunan Islam. Standar halal dan haram sering kali tergeser oleh kepentingan materi dan keuntungan sesaat. Akibatnya, berbagai persoalan sosial terus bermunculan tanpa solusi yang mampu menyelesaikannya hingga ke akar.
Muharram seharusnya menjadi momentum untuk menata kembali arah kehidupan umat. Hijrah tidak hanya bermakna perpindahan waktu dari satu tahun ke tahun berikutnya, tetapi juga perubahan menuju ketaatan yang lebih sempurna kepada Allah SWT. Umat perlu kembali menjadikan Islam sebagai pedoman dalam seluruh aspek kehidupan, baik sebagai individu, keluarga, masyarakat, maupun dalam pengaturan urusan publik.
Rasulullah ﷺ telah menunjukkan bahwa perubahan besar tidak lahir secara instan, melainkan melalui dakwah, pembinaan, dan perjuangan yang berkesinambungan. Karena itu, semangat Muharram hendaknya menjadi dorongan bagi umat untuk semakin memahami, mengamalkan, dan memperjuangkan ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupan.
Dengan menjadikan Islam kaffah sebagai pedoman hidup, umat memiliki arah yang jelas dalam menghadapi berbagai problem yang ada. Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah, tetapi momentum untuk memperkuat tekad menata umat menuju kehidupan yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sesuai dengan tuntunan Allah SWT.