(Oleh: Juliana Najma, Pegiat Literasi)
Tahun Baru Islam—1 Muharram 1448 H kembali menyapa kita. Namun sejatinya ia bukanlah panggung hura-hura atau sekadar pergantian kalender tanpa makna. Ia adalah sebuah cermin besar yang diletakkan di hadapan kita untuk menatap wajah umat hari ini secara jujur. Setiap kali hilal bulan Muharram tampak, ia membawa serta memori kolektif tentang perjuangan, pengorbanan, dan penindasan yang masih terus dialami oleh kaum Muslimin di berbagai belahan dunia sepanjang tahun-tahun yang telah lalu.
Berdasarkan laporan investigasi media nasional seperti Kompas dan Tempo, kemiskinan struktural kian mencengkeram, memaksa jutaan keluarga bertahan di ambang keputusasaan. Jerat kelam judi online (judol) merusak sendi-sendi ekonomi keluarga, sementara rilis berita dari Detikcom dan Antara terus menyoroti potret buram sosial kita yang kian merajalela: maraknya prostitusi anak, darurat bullying di sekolah, eksploitasi seksual yang memuakkan, hingga gelombang kekerasan yang kian brutal dan tak berperikemanusiaan. Jiwa-jiwa suci generasi muda kita sedang terkoyak di depan mata kita sendiri.
Sementara itu, jika kita mengalihkan pandangan ke panggung internasional. Di bumi para nabi, genosida terhadap saudara-saudara kita di Palestina terus berlangsung tanpa henti. Kantor berita internasional seperti Al Jazeera dan Reuters secara konstan menyiarkan kepiluan dari Gaza; umat Islam di sana tidak hanya dihujani bom, tetapi dengan sengaja dibuat mati kelaparan, bertahan hidup di antara reruntuhan tanpa air dan roti.
Namun, yang paling memilukan dan menyiksa batin adalah menyaksikan kebisuan dan kelumpuhan para penguasa negeri-negeri Muslim. Laporan BBC dan berbagai lini berita resmi berulang kali menunjukkan paradoks yang menyakitkan: jutaan tentara dan senjata canggih tersimpan rapat di barak-barak militer dunia Islam, sementara tak satu pun pasukan bergerak untuk menyeka air mata anak-anak Gaza.
Muharram 1448 H ini menjadi saksi bisu atas kepedihan dan luka di tubuh umat Islam. Kita memasuki tahun yang baru dengan tumpukan utang peradaban yang besar, betapa jauhnya predikat umat terbaik ketika kita masih membiarkan saudara kita kelaparan di bawah penindasan, dan membiarkan moral generasi kita hancur dalam kepungan nilai-nilai Islam yang kian tergerus oleh arus zaman. Sungguh, momentum hijrah kali ini adalah panggilan darurat bagi nurani kita yang telah lama tertidur atau bahkan nyaris mati bersama matinya keadilan di bumi ini.
Sekularisme-Kapitalisme: Akar Nestapa Dalam Negeri dan Runtuhnya Perisai Umat
Luka menganga yang diderita umat hari ini, baik di sudut-sudut sempit perkampungan di negeri ini maupun di tanah syuhada Palestina, bukanlah sebuah kebetulan. Jika kita meniliknya dengan mata hati yang jernih, seluruh kenestapaan ini adalah buah beracun dari pohon yang sama: penerapan sistem Sekularisme-Kapitalisme.
Ketika sekularisme memisahkan agama dari urusan kehidupan, aturan Allah yang mulia didepak ke sudut-sudut masjid, sementara manusia mengambil alih kekuasaan untuk membuat hukumnya sendiri. Di bawah payung kapitalisme, standar halal-haram yang menjaga kehormatan manusia dicabut, lalu digantikan oleh berhala baru bernama kemanfaatan materi dan kesenangan duniawi. Akibatnya, terjadilah kerusakan yang merata di seluruh lini kehidupan. Manusia tak lagi melihat sesamanya sebagai hamba Allah yang wajib dilindungi, melainkan sebagai komoditas yang bisa diperas demi keuntungan.
Penderitaan tak berhenti sampai disitu, kemiskinan struktural sengaja dipelihara oleh sistem ekonomi kapitalis-sekuler yang serakah, sementara judi online, prostitusi anak, dan eksploitasi seksual subur beranak-pinak karena dianggap mendatangkan perputaran uang. Moral generasi muda kita dihancurkan demi industri hiburan, dan kekerasan merajalela karena jiwa-jiwa manusia telah kering dari ketakwaan akibat racun sekularisme ini.
Tragedi yang menimpa umat Islam semakin menyayat hati ketika kita melihat Gaza. Mengapa miliaran umat Islam saat ini tampak begitu lemah, tak berdaya, bahkan tak mampu menyeka air mata anak-anak Gaza yang kelaparan dan dihujani bom? Jawabannya teramat perih: karena umat ini telah kehilangan perisainya, yaitu Institusi Khilafah Islamiyah—sebuah institusi politik global yang dahulu menyatukan kalbu dan kekuatan kaum Muslimin di bawah satu kepemimpinan.
Sejak benteng pelindung itu runtuh, tubuh umat yang satu ini dikerat-kerat oleh sekat-sekat imajiner bernama nasionalisme. Kita dibuat asing dengan saudara seakidah kita sendiri; kita dibentuk untuk merasa bahwa urusan Palestina bukanlah urusan kita hanya karena perbedaan garis batas peta buatan penjajah.
Ikatan akidah yang kokoh dilemahkan, diganti oleh ego kebangsaan yang semu. Akibatnya, para penguasa di negeri-negeri Muslim kehilangan taringnya; mereka berdiri kaku, lumpuh, dan dengan hina menundukkan kepala di hadapan kekuatan kapitalis global. Mereka lebih takut pada sanksi ekonomi dunia ketimbang murka Allah SWT, membiarkan tentara-tentara Muslim tetap mendekam di barak-barak sementara jeritan wanita dan anak-anak di Palestina memanggil-manggil nama mereka tanpa jawaban.
Sungguh, kapitalisme sekuler telah mencabik-cabik kemuliaan Islam hingga ke akarnya. Sistem ini merenggut ketenteraman batin kita, menghancurkan keluarga kita melalui kemiskinan struktural dan kemaksiatan yang dilegalkan, serta membiarkan saudara-saudara kita dibantai di belahan bumi lain tanpa pembelaan. Momentum untuk menyadari kehancuran ini telah tiba. Selama umat ini masih sudi bernaung di bawah sistem yang membelakangi hukum Sang Pencipta, dan selama umat ini masih rida terpecah-belah oleh sekat nasionalisme, maka air mata dan darah akan terus mengalir.
Merapatkan Barisan Perjuangan: Mengukir Hijrah Hakiki Menyusuri Jejak Kenabian
Momentum Muharram seharusnya menjadi alarm spiritual yang menggugah kesadaran terdalam kita. Segala kenestapaan, penindasan, dan keterpurukan yang hari ini mencengkeram kehidupan umat Islam adalah buah pahit dari keputusan kolektif kita yang telah menjauh dari aturan Allah Swt. dan mencampakkan syariat-Nya dari panggung kehidupan. Allah Swt. telah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum [30]: 41).
Oleh karena itu hijrah hari ini bukan lagi sekadar berpindah tempat, melainkan sebuah perjuangan ideologis yang masif untuk menghujamkan tekad berpindah dari gelapnya sistem kufur Sekularisme-Kapitalisme yang menyengsarakan, menuju cahaya sistem Islam yang kaffah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Inilah hakikat hijrah yang akan menyelamatkan kita, sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
“Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari).
Hari ini menyadari kerusakan saja tidaklah cukup; air mata tidak akan mampu mengubah realitas tanpa adanya amal nyata. Rasulullah ﷺ telah mengajarkan kepada kita dengan tinta emas sejarah bahwa perubahan hakiki membutuhkan perjuangan yang panjang, berdarah-darah, dan terorganisir dengan rapi (tanzhim), sebagaimana yang beliau dan para sahabat radiallahu 'anhum contohkan di fase Makkah hingga tegaknya Daulah di Madinah. Perjuangan ini menuntut sebuah kesabaran dan keteguhan iman yang luar biasa, karena Allah Swt. menegaskan dalam Al-Qur'an:
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra'd [13]: 11).
Atas dasar kesadaran dan keteladanan inilah, menjadi sebuah kewajiban yang mengikat di pundak setiap Muslim untuk melibatkan diri, bahu-membahu, dan berjuang bersama jamaah dakwah Islam ideologis. Jamaah yang dengan setia dan tanpa kompromi mengambil serta menetapi metode (manhaj) dakwah Rasulullah ﷺ guna menegakkan kembali institusi Khilafah ala Minhajin Nubuwwah. Dengan berjamaah, langkah yang berat akan terasa ringan, dan janji Allah akan kemenangan itu akan semakin dekat untuk kita jemput. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hendaklah kalian berjamaah dan jauhilah perpecahan, karena sesungguhnya setan itu bersama satu orang (yang menyendiri) dan ia akan lebih jauh dari dua orang.” (HR. Tirmidzi).
Mari ketuk pintu langit dengan ikhtiar terbaik kita, menyatukan visi dan merapatkan barisan demi kembalinya kemuliaan Islam dan kaum Muslimin.
Allahumma ahyinawaamitna bil Islam.*